Berita Ragam

Kisah Gubernur Ali Sadikin Kerap Bantah Soeharto hingga Dilarang Pergi Keluar Negeri. Padahal Berprestasi!

2 menit

Di balik otoriternya pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto, ternyata ada seorang Gubernur DKI Jakarta yang pernah membantah Soeharto. Tidak lain tidak bukan, dia adalah Gubernur Ali Sadikin.

Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 28 April 1966 sampai 11 Juli 1977.

Selama menjabat, dia dikenal sebagai salah satu gubernur yang disukai masyarakat.

Selain itu, dia juga dikenal sangat dekat dengan kalangan mahasiswa.

Maka dari itu tidak heran jika ada kelompok mahasiswa yang sempat menyatakan keinginannya agar Ali menjadi Presiden Republik Indonesia.

Ali Sadikin Kerap Membantah Soeharto

gubernur ali sadikin kerap bantah soeharto

sumber: Instagram @perfectlifeid via merdeka.com

Melansir dari laman Historia.id, Ali sering disebut sebagai rival Soeharto.

Hal itu dikuatkan dengan pernyataan Djohan Effendi yang dimuat dalam buku Sang Pelintas Batas: Biografi Djohan Effendi, karya Ahmad Gaus.

Dalam buku itu, Djohan mengatakan bahwa pemikiran Ali sering berseberangan dengan pemerintah.

Bahkan, Ali Sadikin juga kerap membantah Presiden Soeharto.

Masalah ini juga tercium oleh sebuah media di Malaysia yaitu Dewan Masyarakat.

Dalam koran tersebut, diceritakan bahwa Ali secara terang-terangan membantah Soeharto hingga tiga kali.

“Saya sampai dua tiga kali mengkritik Soeharto. Ini bukan soal prestasi, tapi keyakinan,” kata Ali, dilansir dari Merdeka.com yang mengutip Dewan Masyarakat pada 15 Februari 1981.

Meski disebut-sebut memiliki banyak prestasi, kinerja Ali tidak lantas langsung disukai Soeharto.

Tidak hanya itu, ketidaksukaan Soeharto juga diduga menjadi salah satu alasan jabatan Ali dipersingkat satu bulan.

“Dipercepat mungkin karena situasi dan kondisi,” terang Bang Ali, dalam Ali Sadikin Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi, yang dikutip Merdeka.com.

Mengkritik Soeharto hingga Dilarang Pergi ke Luar Negeri

presiden soeharto

sumber: indonesianside.id

Usai turun dari jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Ali tidak berhenti mengkritik Soeharto.




Malah, pada periode 1980-1990-an, Ali menjadi oposisi kuat bagi Soeharto.

Pada 5 Mei 1980, Ali Sadikin bersama 49 politisi senior dan perwira tinggi ABRI dan Polri menandatangani Petisi 50 yang berisi kritikan untuk Soeharto.

Namun, kritikan tersebut ternyata mendapat sambutan yang tidak baik.

Pemerintah langsung melarang semua tokoh Petisi 50 bepergian ke luar negeri.

Tidak hanya itu, melansir Kompas.com, akses penghidupan ekonomi para tokoh tersebut pun dibatasi.

Ali sendiri menjadi kesulitan mendapat dana dari bank untuk mendanai perusahaannya hingga harus gulung tikar.

Kemudian, aliran air di rumah Ali Sadikin tiba-tiba dihentikan, sehingga dia harus menggali sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini membuat satu per satu anggota Petisi 50 memilih pasif.

Teman-teman seperjuangannya pun tidak ada yang berani mendekat.

“Selama ini kan tidak ada yang berani. Ngundang anak kawin saja tidak berani undang saya,” ujarnya, dikutip dari Harian Kompas, 5 Juni 1993.

Belum cukup sampai di situ, Ali masih harus menjalani hukuman perdata selama 13 tahun dengan dikucilkan secara sosial dan tidak boleh menghadiri acara Pekan Raya Jakarta.

Padahal perhelatan tersebut awalnya diinisiasi oleh dirinya.

“Tidak cuma itu, saya pun dilarang naik haji” kata Bang Ali, di Majalah Sentana tahun 1994.

Kebijakan Kontroversial Ali Sadikin

Sementara itu, saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Ali dikenal kerap mengeluarkan kebijakan yang memicu pro dan kontra.

Beberapa di antaranya adalah melegalkan perjudian dan prostitusi.

Berkat kebijakan kontroversialnya tersebut, DKI Jakarta dapat memenuhi pemasukan pendapatan daerah.

Pendapatan yang besar membuat Pemprov DKI Jakarta kala itu dapat mendanai proyek strategis, semisal Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, hingga Taman Ria Monas.

Kemudian, Ali juga mengadakan fasilitas hiburan kepada masyarakat Jakarta dengan menggelar Pekan Raya Jakarta.

***

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Sahabat 99 ya!

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di portal Berita 99.co Indonesia.

Jika sedang mencari rumah di Jakarta Utara, bisa jadi Manhattan Residence adalah jawabannya.

Cek saja di 99.co/id untuk menemukan rumah idamanmu!




Theofilus Richard

Penulis konten | Semoga tulisanku berkesan buat kamu

Related Posts