Hukum

Transaksi Properti antara Orang Tua dengan Anak, Sahkah?

14 Juni 2017
2 menit

Tidak menutup kemungkinan bahwa proses jual-beli properti dilakukan antara orang tua dan anaknya. Sebenarnya apa saja syaratnya dan apakah transaksi ini sah? Ternyata hal ini tercantum dalam KUHPerdata. Berikut pembahasan lebih lanjutnya:

Syarat Sah Perjanjian

Pada dasarnya, proses jual-beli properti antara orang tua dan anak tidak ada perbedaan dengan transaksi yang dilakukan pada umumnya. Transaksi antara orang tua dan anak pun tentunya diperbolehkan, berbeda halnya dengan jual-beli yang dilakukan antara suami dengan istri.

Sebenarnya transaksi antara orang tua dengan anak ini hanya perlu mengikuti semua syarat sah perjanjian. Apa saja syarat sahnya? Hal ini secara khusus tercantum dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang isinya:

Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat:

  1. kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
  2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
  3. suatu pokok persoalan tertentu;
  4. suatu sebab yang tidak terlarang.

Syarat Usia Anak

Pada poin sebelumnya kita sudah membahas bahwa transaksi properti antara orang tua dengan anak diperbolehkan. Dalam hal ini nyatanya harus dilihat juga usia dari sang anak. Transaksi yang diperbolehkan adalah ketika sang anak sudah termasuk kategori dewasa. Kenapa?

Seorang anak yang belum dewasa dinilai tidak cakap dalam membuat sebuah perjanjian atau persetujuan. Terkait hal ini, tercantum dalam Pasal 1330 KUHPerdata. Isinya:

Yang tak cakap untuk membuat persetujuan adalah:

  1. anak yang belum dewasa;
  2. orang yang ditaruh di bawah pengampuan;
  3. perempuan yang telah kawin dalam hal-hal yang ditentukan undang-undang dan pada umumnya semua orang yang oleh undang-undang dilarang untuk membuat persetujuan tertentu.

Selanjutnya, terkait usia anak yang tergolong dewasa sudah diatur dalam Pasal 330 KUHPerdata. Tertulis bahwa seseorang yang belum dewasa adalah yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum menikah. Apabila belum berumur 21 tahun, namun sudah menikah, maka seseorang tersebut dapat dikatakan dewasa dan bisa melakukan persetujuan.

Perjanjian Dapat Dibatalkan Jika…

Perlu diketahui juga bahwa kesanggupan ketika membuat sebuah perjanjian merupakan syarat yang subjektif dan jika tidak terpenuhi, maka bisa saja perjanjian tersebut dapat dibatalkan. Perjanjian yang mengikat dua belah pihak ini bisa saja dibatalkan oleh salah satu pihaknya.

Khusus dalam hal perjanjian jual-beli properti antara orang tua dengan anak yang sudah dewasa dapat dilaksanakan dengan sah. Berbeda halnya apabila perjanjian transaksi ini dilakukan antara orang tua dengan anak di bawah umur. Jika salah satu pihaknya ada yang tidak setuju, maka suatu hari dapat mengajukan pembatalan perjanjian ke Pengadilan Negeri.

Kini sudah tahu kan aturan jual-beli properti antara orang tua dengan anak? Semoga artikel ini dapat menambah wawasan Anda. Nantikan bahasan hukum properti lainnya hanya di Blog UrbanIndo, ya!

You Might Also Like