Berita

Awas! Jadi Gigit Jari Menanggung Kerugian dari Uang Muka Rumah yang Kecil

17 September 2017
DP Rumah
3 menit

Bank Indonesia (BI) telah menetapkan besaran uang muka rumah terbaru pada Agustus 2016 lalu. Besaran DP untuk rumah pertama yang ditentukan ialah 15% sementara untuk rumah kedua dan ketiga masing-masing 20% dan 25%. Sementara itu untuk rumah subsidi, DP yang diperlukan mulai dari 1%!

Besaran DP yang Anda ajukan untuk bisa memiliki rumah dapat berdampak pada cicilan, bahkan masa depan Anda. Lantas, uang muka seperti apa yang paling pas untuk Anda? Mari simak penjelasan lebih lanjutnya di bawah ini.

Uang Muka Kecil

Saat tengah browsing rumah impian di situs properti, tidak jarang ditemukan beberapa iklan rumah non subsidi yang menawarkan DP kecil, sekitar 10%. Jika Anda anggota BPJS Ketenagakerjaan, DP tersebut pun bisa makin kecil yaitu hanya 5%.

Wah, walau modal Anda belum banyak terkumpul, kesempatan tersebut tentu sayang untuk dilewatkan, apalagi jika kebutuhan punya rumah sudah semakin mendesak. Tunggu dulu Urbanites, ada hal lain yang harus Anda ingat!

Baca Juga: Tidak Selalu Untung! Ini Dia Kerugian Beli Rumah Dengan DP Di Bawah 20%

Di balik kecilnya DP yang dibayar, Anda harus mengajukan pinjaman yang lebih besar pada bank agar rumah dapat terbeli. Hal ini pun membuat Anda mau tidak mau melunasi rumah tersebut dengan jangka waktu yang lebih lama.

Bukan hanya rumah non subsidi, hunian bantuan pemerintah pun menawarkan DP sangat ringan yaitu mulai dari 1%. Fasilitas tersebut hanya tersedia bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tidak lebih dari Rp 4 Juta. Bukan hanya DP, cicilan per bulan pun dibuat seringan mungkin dengan tenor 20 tahun.

Uang Muka Besar

Bagaimana bila Anda memutuskan untuk memilih DP yang besar? Itu berarti, pinjaman yang diajukan ke bank bisa lebih kecil. Potensi untuk melunasinya dengan cepat pun lebih terbuka lebar. Cepat lunas, maka Anda pun tidur lebih nyenak dan bisa fokus untuk mengalokasikan pemasukan untuk kebutuhan lain ‘kan?

Sesuai dengan ketentuan BI, calon debitur KPR yang ingin membeli rumah pertama, diminta untuk membayar uang muka sebesar 15%. Besaran ini masih tentatif, tergantung dari bank tempat mengajukan KPR. Sebagai contoh, Bank BTN mensyaratkan DP sebesar 20% untuk pembelian hunian tapak pertama.

Jika debitur mau membeli rumah seharga Rp300 juta, itu berarti ia harus menyiapkan modal awal Rp45 juta – Rp60 juta. Menyiapkan uang dengan nominal tersebut tentunya akan memakan waktu lama, apalagi bila gaji tidak terlalu besar. Anda pun harus benar-benar disiplin jika ingin mengumpulkannya tepat waktu.

DP 0%

Sama halnya seperti DP ringan, developer pun terkadang memberikan gimmick berupa penjualan rumah tanpa DP alias 0%. Hal ini bisa makin memperingan langkah Anda untuk bisa memiliki rumah bukan? Konsekuensinya, pinjaman Anda ke bank akan semakin besar serta cicilannya pun dapat berlangsung lebih lama. Sanggup, Urbanites?

Keringanan DP

Jadi Harus Bagaimana? Ternyata Anda bisa mencoba meminta keringanan cara pembayaran DP pada pihak developer atau penjual. Cara-cara di bawah ini adalah beberapa yang umum dijumpai di lapangan.

1. Bukan DP, Tapi Tanda Jadi

Saat Anda mau membeli sebuah rumah secara indent, umumnya pengembang meminta Anda untuk membayar tanda jadi sebagai wujud keseriusan. Uang tanda jadi ini dalam istilah lain pun kerap disebut sebagai nomor urut pemesanan (NUP).

Perlu anda ketahui, NUP tidaklah sama dengan uang muka. Umumnya nominal uang tanda jadi ini tidak terlalu besar. Besaran NUP yang telah Anda bayarkan nantinya akan mengurangi jumlah DP yang harus Anda bayarkan. Namun jika Anda batal membeli rumah tersebut, maka uang yang telah Anda berikan bisa hangus. Sementara itu, uang hangus tidak berlaku pada DP rumah. Uang Anda akan tetap dikembalikan setelah melalui pemotongan biaya pembatalan, admin, dan lainnya.

2. Cicilan DP

Selain penjualan rumah tanpa uang muka, ada pula beberapa developer yang menawarkan bantuan cicilan DP. Itu berarti, Anda tetap mengikuti ketentuan BI dengan membayar DP yang telah ditetapkan. Detail angsuran rumah seperti besaran serta jangka waktunya pun sesuai dengan program KPR yang Anda pilih.

Bagi Anda yang memilih untuk menggunakan fasilitas DP ini harus siap! Umumnya pengembang sudah menetapkan jangka waktu pelunasan DP. Jika mereka menetapkan cicilan selama 6 bulan, itu berarti Anda memiliki tanggung jawab untuk wajib melunasi DP dalam kurun waktu tersebut.

Sudah jelas ya, Urbanites? Semoga ulasan yang UrbanIndo berikan di atas dapat berguna untuk Anda sekalian. Terus baca ulasan lainnya seputar dunia properti hanya di blog UrbanIndo!

You Might Also Like