Berita Properti

Perhatikan Daftar Biaya Ekstra Bagi Penghuni Apartemen Ini

2 menit

Jika Anda memiliki tingkat mobilitas tinggi, tinggal di apartemen sepertinya adalah pilihan tepat. Lokasi apartemen yang umumnya berada di pusat kota dan dekat dengan berbagai fasilitas umum tentunya akan menghemat waktu Anda menjangkau berbagai tempat dengan tingkat kemacetan minimal. Akan tetapi, selain dana untuk membeli apartemen atau sewa bulanan, apakah Anda mengetahui secara detil biaya ekstra bagi penghuni apartemen?

Berikut adalah panduan singkat mengenai berbagai biaya-biaya ekstra bagi penghuni apartemen yang harus disiapkan saat Anda memutuskan untuk tinggal di apartemen.

1. Biaya Listrik

Tarif Dasar Listrik (TDL) di apartemen umumnya lebih mahal dibandingkan TDL pada rumah tapak. Pasalnya, regulasi Perusahaan Listrik Negara (PLN) memang mengenakan biaya berbeda pada bangunan kategori bisnis, termasuk apartemen. Apartemen dan rumah susun masuk dalam kategori pelanggan listrik bisnis besar B-3 dengan batas daya di atas 200 kVA (kilo Volt Ampere).

Tarif dasar listrik untuk kategori bisnis B-3 adalah Rp 1.115 untuk Biaya Pemakaian Waktu Beban Puncak (WBP) maupun Luar Waktu Beban Puncak (LWBP). Sementara, tarif dasar listrik untuk kategori rumah tangga berkisar antara Rp 1.352 hingga Rp 1.524.

Cara menghitung biaya pemakaian listrik kategori bisnis dan rumah tangga pun berbeda. Berikut adalah cara menghitung biaya pemakaian listrik untuk rumah tangga:

40 (penetapan jam nyala) x Daya tersambung (kVA) x Biaya Pemakaian

Sementara, penghitungan biaya pemakaian listrik kategori bisnis (apartemen) adalah sebagai berikut: 40 (penetapan jam nyala) x Daya tersambung (kVA) x Biaya Pemakaian WBP dan LWBP.

Jadi, meskipun sekilas kategori bisnis memiliki tarif dasar listrik lebih murah dari kategori 5 rumah tangga, pada akhirnya biaya pemakaian listrik pengguna kategori bisnis harus mengeluarkan uang lebih banyak.

2. Biaya Air

Seperti halnya TDL, Tarif Dasar Air (TDA) di apartemen juga lebih mahal daripada yang dibayarkan penghuni rumah tapak atau rumah konvensional karena menerapkan tarif untuk rumah khusus. Untuk kategori rumah khusus, pemakaian air bersih hingga 10 ribu liter adalah Rp 3,70 per liter dan pemakaian lebih dari 10 ribu liter mencapai Rp 7,15 per liter. Bandingkan dengan kategori rumah tangga yang tarif dasarnya mulai dari Rp 1,00 hingga Rp 6,20 per liter.

3. Iuran Pengelolaan (IPL)

Biaya atau iuran pengelolaan digunakan untuk kepentingan operasionalisasi gedung, misalnya listrik, air dan kebersihan. IPL ditentukan oleh Perhimpunan Penghuni dan Pemilik Rumah Susun (P3SRS) di mana besarnya dihitung dari tarif dasar yang sudah ditentukan dikalikan dengan luas unit apartemen penghuni. Jadi, semakin luas unit apartemen yang Anda miliki, iuran pengelolaan tentu semakin besar.

Besarnya IPL biasanya mengikuti tingkat inflasi, sehingga bisa meningkat setiap tahunnya. Beberapa apartemen menarik IPL setiap bulan dari penghuni, namun ada juga yang menarik per tiga bulan ataupun per tahun.

4. Sinking Fund (Iuran Perawatan)

Pada dasarnya, sinking fund adalah ‘tabungan’ pengelola gedung. Tabungan ini nantinya digunakan untuk biaya penggantian atau perawatan komponen-komponen gedung, termasuk instalasi listrik dan saluran air. Iuran perawatan digunakan untuk merawat gedung dan biasanya dilakukan secara tahunan atau tergantung pada kondisi gedung. Iuran ini bisa diangsur setiap bulan di muka, sebelum masa satu tahun berakhir, atau bisa juga dibayarkan sekaligus per tahun. Besarnya sinking fund biasanya adalah 10 – 15% dari IPL.

5. Perpanjangan Hak Guna Bangunan (HGB)

Berbeda dengan iuran pengelolaan dan iuran perawatan yang umumnya sudah dikenal luas, perpanjangan HGB mungkin kerap luput dari perhatian calon penghuni apartemen.

Umumnya, apartemen di Indonesia memiliki status kepemilikan HGB di mana masa kepemilikan akan kadaluarsa dalam jangka waktu 25-30 tahun. Penghuni apartemen dapat memberikan kuasa kepada P3SRS untuk memperpanjang status HGB. Proses perpanjangan HGB dilakukan dua tahun sebelum masa HGB pertama habis. Anda harus mengeluarkan sejumlah biaya untuk proses perpanjangan, yaitu sebesar 5% dari luas lahan x Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).

Jadi, misalnya saat ini NJOP apartemen Anda berada di angka Rp 5 juta per meter persegi, dan luas apartemen mencapai 36 meter persegi, berarti Anda harus menyiapkan dana sebesar:

(5% x 36) x 5 = Rp 9 juta.

6. Biaya Parkir

Meskipun sekilas terlihat sepele, biaya ekstra bagi penghuni apartemen yang satu ini sangat penting. Apalagi jika Anda memiliki kendaraan bermotor. Tentunya Anda harus mengkalkulasi biaya parkir dalam pos pengeluaran setiap bulan. Meski telah membayar biaya parkir langganan setiap bulan, masih ada kemungkinan Anda tidak mendapat parkir. Hal ini terutama berlaku pada apartemen bersubsidi yang memiliki lahan parkir terbatas, karena apartemen seperti ini sebenarnya dirancang untuk warga yang tidak menggunakan kendaraan pribadi.

Meskipun menambah biaya ekstra setiap bulan, langganan parkir di gedung apartemen tentu menjadi solusi aman untuk kendaraan Anda. Pasalnya, jika Anda memilih parkir di luar kawasan apartemen, keamanannya belum tentu terjamin. Selain itu, Anda bahkan bisa dibebankan tarif parkir lebih tinggi karena umumnya biaya parkir dihitung per jam.

Begitulah ulasan mengenai biaya ekstra bagi penghuni apartemen. Sebelum Anda mengepak koper dan memutuskan tinggal di apartemen, kalkulasikan kembali biaya-biaya di atas. Jika penghasilan Anda ternyata cukup ‘mepet’, mungkin ada baiknya Anda berpikir ulang tentang opsi tinggal di apartemen.

99.co Indonesia

Blog 99.co Indonesia | Ulasan & Berita Seputar Properti Menyuguhkan berita terkini dan artikel seputar properti. Pengemasan eksklusif dengan konten menarik.

Related Posts