Berita Ragam

Tahan Banting, Bisnis Ekspor Tokek Tak Goyah di Tengah Pandemi

2 menit

Di masa pandemi ini, banyak sektor bisnis yang goyah dan terpuruk. Namun, nampaknya bisnis ekspor tokek tetap moncer tak tergoyahkan.

Pada 25 November kemarin, Kementerian Pertanian melalui situs resminya mengumumkan telah melakukan sertifikasi terhadap 2,9 ton tokek kering yang akan diekspor ke Tiongkok.

Sertifikasi tersebut dilakukan melalui Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya di Tanjung Perak, mencakup pemeriksaan fisik dan dokumen.

Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan produk ekspor tersebut memenuhi syarat mendapatkan Sertifikasi Sanitasi Produk Hewan sebelum diekspor.

Dari dulu, bisnis tokek memang menjanjikan keuntungan yang besar karena banyak diminati sebagai obat.

Kondisi Ekspor Tokek di Tengah Pandemi

Pada tahun 2020 ini, Kementerian Pertanian sudah beberapa kali melakukan ekspor tokek.

Seperti yang disampaikan oleh Kepala BBKP Surabaya Musyaffak Fauzi bahwa selama Januari-November 2020 pihaknya sudah sepuluh kali mengirim tokek kering ke Hong Kong, Taiwan, dan Tiongkok.

Melalui situsnya, BBKP Surabaya mengklaim total ekspor tokek kering dari Jawa Timur mencapai 3.913 ton.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan, bihu (sebutan tokek dalam bahasa Mandarin) kering tersebut dokumennya lengkap dan memenuhi syarat, sehingga Sertifikat Sanitasi Produk Hewan (KH 12) dapat diterbitkan. Selain itu, berdasarkan data Otomasi Karantina Pertanian, bihu kering yang diekspor sepanjang Januari-November mencapai 3.913 ton dari beberapa perusahaan di Jawa Timur,” kata Musyaffak, dilansir dari Antaranews.

Namun sayang, angka ekspor versi pemerintah pusat tidak bisa ditemukan di pangkalan data Kementerian Pertanian.

Tiongkok diketahui sebagai negara penerima ekspor tokek kering terbesar dari Indonesia karena hewan tersebut dipercaya dapat mengobati berbagai macam penyakit.

Apakah Populasi Tokek Terancam?

tokek dalam kandang

Kembali mengingat tahun 2009, pada saat itu beredar rumor bahwa tokek bisa digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan HIV

Alhasil, di tahun yang sama, perusahaan tokek di Probolinggo mengaku kewalahan memenuhi permintaan satu juta ekor per tahun dari importir Tiongkok.

Merujuk Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) 2019, tokek termasuk dalam kategori apendiks II yang berarti statusnya belum terancam punah.

Namun populasinya bisa tetap terancam jika tidak ada peraturan tegas dalam perdagangannya.

Pada tahun 2018, Indonesia menerapkan kuota perdagangan tokek tahunan melalui Keputusan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem.

Kuota perdagangan yang ditetapkan pada tahun tersebut adalah 25.250 ekor, sedangkan kuota ekspornya adalah 22.725.

***

Semoga artikel ini bermanfaat ya, Sahabat 99!

Simak informasi menarik lainnya di Berita 99.co Indonesia.

Sedang mencari hunian di Grand Taruma Karawang?

Kunjungi www.99.co/id dan temukan hunian impianmu dari sekarang!

Alya Zulfikar

Jr. Content Writer | Sometimes a poet, mostly a daydreamer; I, too, bleed – I bleed ink!
Follow Me:

Related Posts