Berita Ragam

Ratusan Cacing Tanah Menyeruak di Solo, Disebut Pertanda Bencana. Benarkah?

3 menit

Kemunculan banyak cacing tanah di daerah Solo menjadi perhatian masyarakat. Berbagai foto dan video peristiwa aneh itu pun ramai dibagikan di media sosial dan menjadi viral. Apa penyebab cacing tersebut muncul?

Warga di Solo dan sekitarnya dikagetkan oleh munculnya banyak cacing.

Fenomena tak lazim tersebut terjadi pada Sabtu (18/04/2020).

Hingga kini, kemunculan cacing tersebut masih menjadi misteri.

Cacing Tanah Ditemukan Warga di Sejumlah Daerah

1. Cacing Tanah di Pasar Gede, Solo

cacing tanah

sumber: istimewa

Salah seorang saksi mata adalah seorang pedagang bakso bernama Marsono di Pasar Gede, Solo.

Ia melihat cacing-cacing muncul dan menyebar hingga ke jalur pejalan kaki higga jalan raya sekitar pukul 05.30 WIB.

“Cacing ini muncul dari taman (di Pasar Gede). Kalau cacing itu dikumpulkan ada satu ember. Jumlah cacingnya banyak,” kata Marsono, Sabtu (18/4/2020) yang dilansir dari laman regional.kompas.com.

Meski telah disapu, Marsono mengaku masih melihat cacing keluar dari taman.

2. Cacing Tanah di Persawahan Klaten

Selain di Pasar Gede, Solo, fenomena serupa juga terjadi di Kabupaten Klaten, tepatnya di Desa Socokangsi, Kecamatan Jatinom, Klaten.

Sejumlah cacing tersebut muncul di area persawahan dan pekarangan tanah yang jarang dijangkau masyarakat.

Waktu kejadiannya pun sama dengan kemunculan cacing di Solo, yakni pada Sabtu pagi.

Baca Juga:

Potret Orang Jepang Dengan Hikikomori, Sindrom Antisosial & Mengurung Diri Di Rumah. Sedih, Deh!

Penjelasan Fenomena Kemunculan Cacing Tanah

1. Cacing Tanah Diduga Karena Disinfektan

Banyak spekulasi yang muncul untuk menjelaskan fenomena ini.

Masyarakat menduga hal ini akibat dari banyaknya penyemprotan cairan disinfektan pada masa pandemi Covid-19 ini.

Cacing yang muncul tersebut tidak berbahaya dan cukup dibiarkan kembali ke tanah, karena memiliki manfaat untuk menyuburkan tanah.

2. Perubahan Cuaca

cacing tanah

Mengutip laman regional.kompas.com, peneliti Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hari Nugroho mengaitkan fenomena tersebut dengan perubahan cuaca.

“Saya kira, bisa jadi karena perubahan cuaca. Apalagi saat ini kita sedang menuju perubahan musim, dari penghujan ke kemarau,” kata Hari Minggu (19/4/2020).

Beberapa hewan memang umumnya akan bermigrasi ke tempat yang lebih nyaman ketika kondisi cuaca berubah.

“Itu sama seperti seolah cacing-cacing hilang saat musim kemarau, lalu saat hujan mereka bermunculan di mana-mana. Dan yang perlu diketahui, bagaimana kondisi cuaca di Solo saat ini,” imbuh Hari.

Dia memperkirakan cacing yang muncul di Pasar Gede adalah cacing dari kawasan urban yang mudah beradaptasi.

“Prediksi saya itu mungkin cacing invasif yang sangat mudah beradaptasi. Baik di Indonesia maupun negara mana pun, ada beberapa jenis cacing tanah yang invasif,” jelas Hari.

3. Fenomena Alam

Pakar Lingkungan Hidup dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prabang Setyono lebih menganggap munculnya cacing sebagai fenomena alam.

Melansir laman regional.kompas.com, ia mengaitkannya dengan fenomena sejumlah gunung berapi di Indonesia yang aktif secara bersamaan.

“Saya juga kaget kok merata ini (kemunculannya). Kayaknya tahun ini ada sedikit anomali. Mungkin ada dinamika suhu tanah dari dalam. Ini sedikit masuk logika. Gunung-gunung yang dulunya dianggap tidur ada istilahnya geotektoniknya begitu,” ujar Prabang.

Namun pada dasarnya, cacing memang sudah sewajarnya keluar dari tanah ketika terjadi perubahan kelembapan di tanah.

“Di dalam biasanya panas kelembapannya jelas berkurang. Biasanya cacing mesti keluar mencari perlindungan,” tambah Prabang.

Sedangkan fenomena kali ini masih perlu diperdalam melalui penelitian.

“Cacing itu habitatnya diagregat-agregat tanah. Sehingga bisa jadi yang pertama di situ kelembapannya telah terjadi perubahan drastis. Biasanya tanah itu berubah dari penghujan ke kemarau, biasa begitu,” jelasnya.

Baca Juga:

Catat Tanggalnya! Ini 7 Fenomena Langit Langka Yang Muncul Tahun 2020

4. Dikaitkan dengan Bencana Gempa

Menanggapi cacing tanah yang muncul tersebut, Ahli Gempa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono memberikan penjelasannya.

Menurutnya, isu kemunculan cacing kerap dikaitkan terjadinya bencana gempa.

Apa hal ini benar?

Pasalnya, dalam beberapa peristiwa gempa memang diawali dengan gejala alamiah berupa kemunculan cacing tanah secara masal.

Pada tahun 1999, kemunculan cacing tanah dilaporkan pada 10 hari menjeang terjadinya gempa Chi Chi di Taiwan.

Beberapa hari sebelum peristiwa gempa Haicheng di China tahun 1975 dilaporkan adanya kemunculan cacing tanah yang sangat banyak ke permukaan tanah.

cacing tanah

Kemunculan cacing tanah di permukaan menjelang gempa terkait anomali gelombang elektromagnetik frekuensi rendah.

Munculnya anomali ini dilaporkan terjadi beberapa hari sebelum gempa bumi.

Sejumlah cacing ternyata merespons anomali kelistrikan ini dengan keluar dari dalam tanah secara hampir bersamaan.

Berdasarkan laporan kemunculan cacing yang terjadi di berbagai tempat di dunia menjelang gempa besar, ternyata selalu didukung data perilaku gejala alamiah tak lazim lainnya.

Seperti kemunculan ular di beberapa tempat, anjing yang terus menggonggong bersahutan, dan ikan yang melompat-lompat di kolam.

“Selain perilaku aneh binatang menjelang gempa, para ilmuwan juga menandai adanya anomali prekursor gempa. Prekursor gempa adalah sebuah anomali kondisi lingkungan yang menjadi petunjuk akan terjadinya gempa,” ujar Daryono yang dilansir dari laman kumparan.com.

Dalam hal ini, munculnya cacing di beberapa tempat di Solo tampaknya belum dapat dikatakan sebagai petunjuk akan terjadi gempa.

“Fenomena cacing di daerah tersebut berdiri sendiri, tidak didukung bukti-bukti alamiah lain beserta data anomali prekursornya,” ungkapnya.

***

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Sahabat 99!

Simak juga artikel menarik lainnya di Berita Properti 99.co Indonesia.

Sedang mencari properti masa depan?

Kunjungi 99.co/id dan temukan hunian impian di Jakarta, Bandung, Bali dan lokasi lainnya.

Nita Hidayati

An enthusiastic content writer who loves scandinavian design
Follow Me:

Related Posts