Berita Berita Properti

Membandingkan Cara Ahok dan Anies Baswedan Antisipasi Banjir Jakarta. Siapa yang Lebih Efektif?

2 menit

Kira-kira, bagaimana perbandingan cara Ahok dan Anies Baswedan mengantisipasi bencana banjir di Jakarta? Simak ulasannya pada artikel ini!

Musim hujan kini tengah dirasakan oleh sejumlah wilayah di Indonesia, terlebih bagi DKI Jakarta.

Sudah menjadi rahasia umum bila di akhir tahun, DKI Jakarta langganan mengalami banjir karena meluapnya air hujan di ibu kota.

Tak ayal, bencana tersebut turut merendam banyak rumah, bahkan menelan puluhan korban jiwa.

Untuk mengatasi hal tersebut, sudah sewajarnya Gubernur Jakarta memikirkan dengan matang dalam mengantisipasi banjir.

Tak heran, setiap kepemimpinan Gubernur memiliki cara tersendiri dalam menanggulangi banjir, begitu juga dengan Ahok dan Anies Baswedan.

Jika membandingkan kinerja keduanya, mana ya yang paling efektif mengatasi banjir di DKI Jakarta?

Cari tahu perbandingannya pada uraian di bawah ini!

Pengendalian Banjir Era Ahok

komisaris utama pertamina ahok

sumber: paper.id

1. Normalisasi Sungai, Warga Dipindahkan

Program utama yang dilakukan oleh Ahok saat menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta adalah melakukan normalisasi sungai Ciliwung.

Normalisasi ini adalah langkah melebarkan sungai dengan cara memindahkan atau menggusur warga yang tinggal di bantaran sungai.

Setelah dipindahkan, pinggiran sungai itu kemudian dilakukan betonisasi.

Warga di bantaran sungai yang dipindah atau digusur kemudian dipindahkan ke rumah-rumah susun yang disiapkan oleh Pemprov DKI Jakarta.

Di akhir masa jabatannya, Ahok bahkan menegaskan komitmennya untuk tetap melanjutkan normalisasi sungai yang menjadi program andalannya itu.

2. Optimalisasi dan Perbaikan Pompa

Selain melakukan normalisasi sungai, Ahok juga memperbaiki pompa-pompa yang rusak.

Ahok meminta kepada camat dan lurah agar mengawasi pompa di wilayahnya.

3. Pengendalian Banjir dengan Membuat Situ, Waduk, Embung, dan Kanal

Cara pengendalian banjir dari Ahok lainnya adalah membuat situ, waduk, embung, dan kanal.

Kegiatan-kegiatan itu meliputi pembebasan lahan di Waduk Kampung Rambutan, Waduk Kampung Rambutan 1, Sunter Hulu, Kanal Banjir Timur, Kali Pesanggrahan, Kali Sunter, dan Kali Ciliwung dengan luas total 71.113 hektare.

4. Membuat Sumur Resapan hingga Biopori

Di masa Ahok, Pemprov DKI juga telah melakukan persiapan pembangunan tanggul national Capital Integrated Coastal Development (NCICD), pembuatan 272 sumur resapan dan pembuatan 667.573 lubang biopori.




Hal itu disampaikan Ahok dalam LKPJ-nya pada 2014.

Pengendalian Banjir Era Anies Baswedan

anies baswedan

1. Normalisasi Sungai

Anies Baswedan juga melakukan normalisasi sungai, dengan cara pembebasan lahan untuk memperlebar kapasitas sungai.

Akan tetapi, langkah ini terhambat karena pembebasan lahan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan pembebasan lahan merupakan pekerjaan yang kompleks, lantaran surat-surat administrasi yang tumpang tindih.

Dengan begitu, pembebasan lahan untuk normalisasi sungai tidak dapat dieksekusi dengan cepat.

2. Mengeruk dan Membangun Waduk, Sungai, dan Embung

Program ini dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022 masih merupakan bagian dari program normalisasi sungai.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menilai program yang telah dikerjakan Pemerintah Provinsi DKI sebagai penanggulangan banjir menunjukan hasil baik.

Program tersebut di antaranya gerebek lumpur.

3. Membuat Drainase Vertikal

Sejak awal menjabat, Anies gencar membangun drainase vertikal melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA).

Adapun cara kerjanya yaitu menyerap air yang menggenang di sebuah jalan.

Hal tersebut pun menyebabkan drainase vertikal digunakan sebagai sumur resapan.

4. Membangun Polder

Anies juga berencana membangun polder dengan luas 20.990,86 hektare.

Pemerintah DKI merinci menargetkan pembangunan dan revitalisasi lima sistem polder pada 2020-2022.

Rinciannya adalah Polder Sunter Timur 1B, Polder Muara Angke, Polder Teluk Gong, Polder Green Garden, dan Polder Kamal.

5. Membangun Olakan

Perlu diketahui, olakan hampir mirip seperti waduk, menampung air hujan, untuk menekan beban volume air mengalir ke sungai.

Pada 2021, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, mengatakan, sudah ada 11 olakan yang terbangun.

***

Semoga artikel ini bermanfaat untuk kamu ya, Sahabat 99.

Simak juga artikel menarik lainnya di Berita 99.co Indonesia.

Sedang mencari rumah dijual di Bekasi?

Kunjungi 99.co/id dan temukan beragam pilihan perumahan impianmu!




Gadis Saktika

Gadis Saktika is an Indonesian Language and Literature graduate who specializes in Linguistics. Aside from that, Gadis is an aspiring content writer. Her experience varies from writing property, lifestyle, and politics. She also uses Google Analytics, Ahrefs, and implements SEO seamlessly in her contents to further enhance the contents she produces.

Related Posts