Berita

Cerita 4 WNI yang Menjalani Ramadan di Luar Negeri

16 Mei 2019
cerita ramadan di luar negeri
4 menit

Indonesia memiliki waktu sekitar 14 jam berpuasa dalam satu hari. Lalu, apa jadinya jika kamu sedang menjalani puasa di negara lain? Enggak kebayang ‘kan rasanya buka puasa pukul 11 malam? Nah, simak yuk cerita Ramadan di luar negeri bersama 4 warga negara Indonesia, ini!

Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat dinanti-nanti oleh umat islam ketika mereka melaksanakan ibadah ini.

Tak hanya umat islam yang berada di Indonesia saja, tetapi hingga ke penjuru dunia.

Lalu, bagaimana ketika mereka yang beragama islam harus menunaikan ibadah puasa di negeri orang?

Berikut ini ada beberapa cerita Ramadan di luar negeri yang dirasakan oleh 4 perempuan asal Indonesia.

Selamat membaca!

4 Cerita Ramadan di Luar Negeri

1. Pengalaman Achi Berpuasa di Perth, Australia

ramadan di luar negeri

sumber foto: Achie Martasasmita

Achie Martasasmita, seorang warga asal Indonesia sedang melanjutkan pendidikannya di The University of Western Australia (UWA), Perth, Australia.

Sebagai pendatang yang sudah menetap di Perth selama 1 tahun, ia cukup nyaman dengan waktu berpuasa di Australia.

Ya, tidak beda jauh dengan di Indonesia, Achie melakukan sahur pukul 4.30 pagi hingga 5.30 pagi.

Lalu, berbuka puasa lebih cepat dari Indonesia pukul 17.30 malam.

Kurang lebih total ia berpuasa adalah 12 jam.

Achie mengatakan dirinya enggak terlalu kesulitan dengan godaan makanan dan minuman.

Justru tantangannya berasal dari pertanyaan-pertanyaan para teman non-muslim.

“Ketika lagi ngumpul atau kerja kelompok (yang biasanya sambal ngemil) mau gak mau ya harus menolak dengan halus, dan sudah pasti diakhiri dengan banjir pertanyaan, seperti kenapa puasa, kalau ga puasa gimana, kenapa ‘menyiksa’ diri, kalau membatalkan diri gimana. Perlu diakui bahwa masyarakat di Perth, memiliki toleransi yang sangat tinggi. Mereka menghormati ranah privasi,” cerita Achie saat diwawancarai lewat surel.

Tak pelak, di sana terdapat komunitas muslim di kampus yakni UWA Muslim Student Association (UWAMSA).

Mereka menyediakan makanan dan takjil gratis untuk berbuka.

Menariknya, makanan dan takjil gratis merupakan sumbangan dari berbagai komunitas dari negara yang tinggal di lingkungan kampus tersebut.

Jadwal menu per hari ditentukan berdasarkan negara tertentu, sehingga cita rasanya bervariasi.

Mereka memakai lokasi salah satu café kampus yang setiap sore disulap jadi musala sekaligus tempat berbuka bersama.

Setelah berbuka, Achie dan teman-teman melakukan salat magrib berjemaah hingga tarawih bersama.

Selain itu, KJRI di Perth cukup aktif untuk mengakomodir masyarakat Indonesia.

Lembaga tersebut selalu mengadakan buka puasa bersama setiap dua minggu sekali, yakni Sabtu dan Minggu dengan lokasi yang bergiliran di beberapa komunitas.

Ada pula perlombaan untuk anak-anak dengan berbagai macam kategori…

Seperti, nasyid, kaligrafi, mading, dan azan yang berkolaborasi dengan persatuan komunitas Muslim di Perth.

2. Pengalaman Ramadan di Luar Negeri dari Cahaya di Norwegia

Pengalaman bulan Ramadan selanjutnya datang dari Cahaya Ramadhani yang kini tengah tinggal di Norwegia.

Ia sudah menetap selama 2 tahun di kota Bergen, Norwegia.

Menurutnya, warga muslim di sana menjadi agama yang minoritas sehingga tidak ada perbedaan dalam menjalani aktivitas antara bulan puasa dengan bulan-bulan lainnya.

Selain itu, ia menjalani puasa mulai dari pukul 3 pagi dan berbuka pukul 11 malam.

Jarak berbuka dan sahur yang berdekatan ini terkadang membuat Cahaya tidur setelah salat subuh, yaitu pukul 4 pagi dan makan berat satu kali di waktu berbuka saja.

Sisanya ia menyantap cemilan sepert biskuit dan kue-kue.

ramadan di luar negerisumber foto: Cahaya Ramadhani

Di Bergen pun tidak ada buka bersama dengan WNI lainnya karena tidak terlalu banyak orang Indonesia di sana dan KBRI pun hanya ada di Oslo, sebagai Ibu Kota Norwegia.

Cahaya sedang melakukan kuliah di Norwegia dan merasakan tidak ada perlakuan khusus bagi umat muslim yang sedang berpuasa.

Menurutnya, banyak penduduk Norwegia yang tidak tahu arti dari bulan Ramadan.

Ada sistem bernama “Jente Law” yaitu,semacam etiket yang intinya melihat siapa saja dengan latar belakang apapun adalah sama atau setara.

Jadi, ia pun tidak bisa mengharapkan orang lain untuk tahu serta memperlakukannya secara istimewa, dan menurutnya memang mereka tidak harus tahu tentang itu.

Baca Juga:

Ini Rasanya Menjalankan Ramadan di 5 Negara dengan Waktu Puasa Terlama

3. Kuliah Saat Musim Panas Sambil Berpuasa di Leeds, Inggris

ramadan di luar negerisumber foto: Keyko Ranti

Berbeda dengan cerita Ramadan di luar negeri versi Keyko Ranti.

Beberapa tahun lalu, dirinya mengenyam perkuliahan di University of Leeds, Leeds, Inggris.

Ketika itu, Keyko menjalani kegiata puasa setiap harinya selama 18 jam.

Waktu sahur dimulai sekitar pukul 2 pagi.

Sementara itu ia dan kawan-kawan yang menjalankan puasa harus menunggu waktu berbuka yaitu pukul 9 malam.

“Saat itu di Leeds sedang musim panas, jadi cuaca di sana cukup panas,” ujar Keyko.

Hal tersebut pun jadi tantangan tersendiri untuknya.

Berbicara soal tempat ibadah..

…Masjid di sana cukup dekat dengan rumahnya, hanya perlu memakan waktu perjalanan 15 menit berjalan kaki.

Ada cerita seru yang ia rasakan.

Ia menemukan takjil dari beberapa WNI yang hobi memasak, karena sudah dipastikan toko-toko masakan di sana tidak membuat sejenis takjil layaknya di Indonesia.

Biasanya, Keyko berbuka dengan teh manis dan hasil masakannya sendiri seperti, soto hingga opor.

Terkadang ia dan teman-teman sesama WNI oun mengadakan potluck bersama.

Menu makanannya pun mirip-mirip dengan Indonesia.

Baca Juga:

Siap-Siap Kerja di Luar Negeri? Simak Dulu 5 Tips Penting Ini!

4. Cerita Bulan Ramadan dari Amerika Serikat

ramadan di luar negerisumber foto: Ixora

Ixora dan keluarganya sudah tinggal selama 5 tahun di Chicago, Illinois, Amerika Serikat.

Sang suami kini tengah melanjutkan pendidikan doktoral di Northwestern University.

Selama beberapa tahun ke belakang, bulan Ramadan Ixora dan keluarga diisi dengan aktivitas normal.

Di sela-sela itu, ia pun sempat menikmati bulan puasa di tanah air.

Namun, tahun ini merupakan pengalaman perdananya melewati Ramadan sembari bekerja di sebuah perusahaan retail.

Jadwal pekerjaannya bervariasi mulai dari jam 1 siang hingga 9 malam atau jam 3 sore hingga 11 malam.

Jadi, dirinya hanya mempunyai waktu memasak di hari libur saja, seperti membuat rendang, tongkol balado, buras, dan lain-lain.

“Itupun saya harus mengumpulkan niat yang lebih besar untuk memasaknya,” papar Ixora pada 99.co Indonesia lewat surel.

ramadan di luar negeri

Santapan Idul Fitri Keluarga Ixora di Chicago

Sumber foto: Ixora

Tidak ada perlakuan khusus yang diberikan perusahaan ketika bulan puasa, namun ia diperbolehkan untuk mengambil jeda kerja sekitar jam 8 malam agar bisa berbuka puasa.

Ya, di tempat tinggal Ixora sekarang, ia melakukan total jam puasa sekitar 14,5 jam mulai dari 5.30 pagi hingga sekitar pukul 8 malam.

Menurutnya, ujian di bulan Ramadan baginya bukan terletak pada godaan makanan dan minuman, tetapi…

….melayani pelanggan karena harus banyak berbicara, beramah-tamah untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya.

“Mungkin Ramadan akan berasa lebih berbeda apabila kalian berkunjung ke Masjid, menurut tetangga muslim dan Uber saya tadi, di sana ditawarkan iftar bersama yang dilanjutkan dengan solat maghrib bejamaah. Tapi di sini tidak ada tradisi pasar kaget yang menyediakan segala macam takjil seperti di tanah air, aduh ngiler,” pungkasnya.

***

Wah, Seru juga ya cerita Ramadan di luar negeri!

Semoga puasa mereka berjalan lancar hingga lebaran tiba.

Semangat menjalankan ibadah puasa, Sahabat 99!

Simak informasi yang kamu butuhkan mengenai properti hanya di Blog 99.co Indonesia.

Tertarik untuk membeli properti sebagai aset masa depan? Lewat 99.co/id, semua ada!

You Might Also Like