Berita Ragam

8 Fakta Museum Omah Munir, Memorabilia Aktivis Munir di Kota Batu

Advertisement
3 menit

Bagi kamu yang sedang di Kota Batu, salah satu wisata edukasi yang bisa dikunjungi adalah Museum Omah Munir. Mengunjungi Omah Munir bisa menambah wawasan kamu termasuk melihat lebih dekat memorabilia sang aktivis Munir. Seperti apa isinya?

Siapa yang tak kenal Munir?

Bagi kamu yang belum tahu, Munir adalah aktivis yang bersuara lantang memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM).

Dia dikenal sebagai aktivis yang tidak kenal lelah dan takut.

Tak heran, garda terdepan dalam membela HAM itu kerap mendapat teror.

Nah, Omah Munir merupakan museum yang didedikasikan untuk almarhum Munir.

Di museum ini terdapat banyak barang peninggalan Munir.

Daripada penasaran, yuk simak selengkapnya di bawah ini!

Selayang Pandang Tentang Munir

Munir Said Thalib

Sumber: kompas.com

Munir Said Thalib, lahir di Kota Batu pada 8 Desember 1965.

Munir lulus dari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, dan memulai karirnya sebagai aktivis HAM di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya.

Munir kemudian melanjutkan pekerjaannya membela korban pelanggaran HAM di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta.

Munir juga dikenal sebagai pendiri dua LSM yang didedikasikan untuk program advokasi HAM.

Keduanya adalah Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Imparsial.

Advokasi HAM Munir

Munir melakukan kegiatan advokasi untuk beberapa kasus pelanggaran HAM, di antaranya:

  • Pembunuhan Marsinah, seorang pemimpin buruh asal Jawa Timur (1992);
  • Penculikan paksa dan penghilangan aktivis pro-demokrasi (1997-98);
  • Pembantaian Tanjung Priok (1994-98);
  • Pembunuhan aktivis pro-demokrasi selama transisi politik 1998 (1998-99); dan
  • Melakukan advokasi kasus pelanggaran HAM di Aceh, Papua dan Timor Timur.

Munir juga menerima penghargaan internasional mulai dari As Leader for the Millennium dari Asia Week dan The Right Livelihood Award (Alternative Nobel Prizes) untuk promosi HAM dan kontrol sipil atas militer.

Kemudian, An Honourable Mention of the 2000 UNESCO Madanjeet Singh Prize atas usahanya dalam mempromosikan toleransi dan Anti Kekerasan.

Munir Dibunuh di Pesawat

Aktivis HAM Munir meninggal di pesawat pada 7 September 2004.

Munir tewas karena diracun arsenik dalam perjalanan Jakarta–Amsterdam, Belanda.

Saat itu, dia berencana untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana.

Dia tewas pada umur 38 tahun.

Pada tahun yang sama, Susilo B. Yudoyono sebagai presiden saat itu kemudian membentuk Tim Pencari Fakta untuk menyelidiki kasus Munir.

Tim menyelesaikan penyelidikannya dan menyerahkan laporan pada 2005.

Namun, hingga saat ini otak pelaku pembunuhan Munir belum terungkap.

8 Fakta Omah Munir, Memoribilia Sang Aktivis

1. Didirikan di Batu, Jawa Timur

isi omah munir

Yayasan HAM Omah Munir didirikan pada 2013 silam di Kota Batu, Jawa Timur, tempat lahir sang aktivis Munir.

Museum ini tepatnya terletak di Jalan Bukit Berbunga nomor 2 Kota Batu.

Museum tersebut dibangun di atas lahan seluas 290 meter persegi.

2. Bekas Rumah Munir

Apakah kamu tahu bahwa Museum HAM Omah Munir merupakan bekas rumah Munir?

Yup! Museum HAM Omah Munir bertempat di bekas rumah Munir dan istrinya, Suciwati.

Munir tumbuh besar di kota tersebut.

3. Selesai dalam 8 Hari

Dikutip Merdeka, perampungan Museum Omah Munir hanya dilakukan dalam kurun waktu 8 hari.

Penataan ruang dilakukan oleh Muhammad Syaifuddin Zuhri dan Zuhkhriyan Zakaria, sedangkan perancang grafis oleh Dimas Andhika Pramayuga.

4. Museum HAM Pertama di Asia Tenggara

masuk omah munir

Dibangun pada 2013 silam, Museum HAM Omar Munir ternyata merupakan museum HAM pertama di Asia Tenggara.

5. Sebagai Sarana Promosi HAM

Selain untuk mengenang Munir, pendirian museum ini sebagai sarana mempromosikan pendidikan HAM.

Hal ini khususnya bagi pemuda agar cinta damai dan menghormati HAM serta menjunjung tinggi prinsip toleransi dan kesetaraan.

6. Memorabilia Munir

Di dalam museum itu tentunya terdapat berbagai barang peninggalan dari sang almarhum Munir.

Koleksi tersebut antara lain foto-foto Munir, sepatu, rompi antipeluru, jaket kulit, buku dan poster tentang orang hilang korban pelanggaran HAM.

Selain itu, ada pula paspor dan visa cap Belanda yang jadi saksi pembunuhan pembunuhan Munir saat menaiki pesawat Garuda Indonesia GA 974.

Ada juga boarding pass bernomor kursi 40G.

Omah Munir juga menyajikan data lengkap dari kasus-kasus HAM penting di Indonesia seperti kasus Marsinah, Aceh, Talangsari, Penculikan aktivis ’98, dan Timor-Timur.

7. Tempat Diskusi tentang HAM

Omah Munir biasa menjadi tempat diskusi tentang HAM.

Mayoritas pengunjung Omah Munir adalah pelajar dan mahasiswa.

Aktivitas pengunjung biasanya melakukan diskusi grup tentang HAM, sejarah Munir dan lainnya.

Omah Munir memang difokuskan pada edukasi masyarakat tentang HAM.

8. Pendirian Museum Baru

Pada 2018, Yayasan Omah Munir menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Kota Batu untuk mendirikan gedung baru Museum.

Museum baru tersebut bernama Museum HAM Munir dan berkonsep Rumah Pepeling.

Museum itu dirancang oleh arsitek asal Bandung, Achmad Deni Tardiyana, selaku pemenang sayembara.

Peletakan batu pertama telah dilakukan pada 2019 bertepatan dengan hari lahir Munir pada 8 Desember 1965.

Biaya pembangunan museum baru ini mencapai Rp10 Miliar yang berasal dari APBD Pemprov Jawa Timur.

Nantinya, museum baru transformasi dari Omah Munir ini akan dikelola oleh Yayasan Museum HAM Omah Munir.

Museum HAM Munir berupaya menjadi pusat pendidikan hak asasi manusia di Asia Tenggara.

***

Semoga artikel di atas bermanfaat, Sahabat 99.

Simak tulisan informatif lainnya di Berita 99.co Indonesia.

Kunjungi 99.co/id untuk menemukan rumah impian terbaikmu!

Ilham Budhiman

Penulis

Related Posts