Berita Berita Properti

Harga Rumah Mewah di Kota Besar Disebut Semakin Murah Sejak Pandemi, Ternyata Ini Penyebabnya

2 menit

Sejak pandemi Covid-19, harga pasaran rumah mewah di sejumlah daerah semakin murah. Pernyataan tersebut senada dengan kajian Indonesia Property Watch (IPW) yang dirilis pada Agustus 2020.

Hasil kajian IPW menunjukkan bahwa harga properti primer di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, dan Banten telah didiskon sekira 5%-10%.

Sementara harga properti sekunder di pasaran turun sekira 20%-30%.

Beberapa daerah yang mengalami penurunan harga rumah mewah terparah di antaranya adalah Alam Sutera, Pluit, Kelapa Gading, dan Pantai Indah Kapuk yang mengalami penurunan harga properti hingga 30%.

Direktur Eksekutif IPW, Ali Tranghanda, mencontohkan harga tanah di kawasan perumahan mewah Pondok Indah yang turun hampir 50%.

Jika biasanya tanah di daerah tersebut dipatok seharga Rp30 juta per meter, kini hanya dibanderol sekira Rp15 juta sampai Rp17 juta per meter.

“Jadi memang kalau (harga properti) sekunder itu tertekan semua. Karena di satu sisi orang butuh uang juga, butuh cashflow. Di sisi lain, ada pembeli yang siap ambil,” kata Ali beberapa waktu lalu.

Pelambatan Kenaikan Harga Rumah Mewah

harga rumah mewah di Pondok Indah

Harga rumah mewah yang semakin murah itu tidak lepas dari pelambatan kenaikan harga rumah sejak pandemi Covid-19.

Berdasarkan riset Indeks Harga Properti Residensial, pada kuartal pertama tahun ini, kenaikan harga rumah hanya berkisar 1,68%.

Pada kuartal kedua, kembali menurun di angka 1,59%. Sementara, pada kuartal ketiga hanya berada di angka 1,19%.

Selain itu, jumlah penjualan properti pun terus menurun pada tahun ini.

Pada kuartal pertama 2020, terjadi penurunan jumlah penjualan hunian sekira 43,19%.

Kemudian, pada kuartal kedua, terjadi penurunan sekira 25,60%.

Dalam kajian tersebut juga disebut bahwa sebanyak 19,8% responden mengatakan bahwa penjualan properti terkendala Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan 17,3% di antaranya mengaku terkendala suku bunga KPR.

Penurunan Harga untuk Cek Pasar

perumahan mewah

Sumber: summareconbandung.com

Di lain sisi, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estate Indonesia (REI), Totok Lusida, menjelaskan bahwa penurunan harga properti sekunder disebabkan oleh upaya pasar mengecek harga.

Menurutnya, sebagian besar orang hanya ingin mengetahui harga rumah tanpa berniat menjualnya.

“Yang secondary mungkin ada penurunan. Tapi kadang-kadang dia hanya untuk cek market saja. Kepingin tahu harganya berapa sih,” kata Totok pada Selasa (22/9/2020).

Ia juga mengatakan bahwa penurunan harga rumah hanya dapat diberikan jika pemerintah memberikan stimulus berupa pemotongan tarif Pajak Penghasilan (PPh), Final Sewa Tanah dan Bangunan, serta Pajak Pertambahaan Nilai (PPN).

Sebelumnya, REI juga sempat mengajukan sejumlah insentif kepada pemerintah, berupa pemotongan tarif PPH, Final Sewa Tanah dan Bangunan, serta jual-beli tanah yang semula 10% menjadi 5%.

Kemudian, REI juga sempat mengajukan pemotongan tarif PPN dari 10% menjadi 5%.

Selain stimulus pemerintah, pengembang juga dapat menawarkan program diskon untuk konsumen yang sedang mencari hunian murah.

Program tersebut juga dapat menjadi proyek kerja sama antara pengembang dengan bank.

Satu di antara contohnya adalah PT Intiland Development Tbk yang bekerja sama dengan BTN untuk menawarkan promo bunga cicilan tetap sebesar 4,99% selama empat tahun.

***

Semoga informasi ini bermanfaat untuk kamu yang berencana membeli rumah tahun ini.

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di situs Berita Properti 99.co Indonesia.

Kamu sedang mencari rumah di Bekasi?

Bisa jadi Samira Regency Bekasi adalah adalah jawabannya!

Cek saja di 99.co/id untuk menemukan rumah idamanmu!

Theofilus Richard

Penulis konten | Semoga tulisanku berkesan buat kamu

Related Posts