Hukum

Harta Gono Gini Berupa Rumah, Bagaimana Cara Membaginya?

27 Maret 2019
harta gono gini
2 menit

Harta gono gini, alias harta bersama selama pernikahan. kadang menimbulkan masalah bagi beberapa pihak yang mengalami perceraian.

Pembagian harta pun terkadang dianggap tidak adil bagi satu pihak tertentu.

Hal ini disebabkan karena pengetahuan yang kurang akan pembagian harta tersebut.

Nah, untuk mengetahui informasi singkat mengenai pembagiaan harta gono gini, yuk simak ulasan mendalam bersama kami!

Menentukan Pembagian Harta Gono Gini

Cara mudah menentukan sebuah harta termasuk gono gini atau tidak, yakni dengan membandingkan tanggal pernikahan atau perceraian dengan tanggal harta tersebut diperoleh.

Jika tanggal yang tercantum pada sertifikat adalah tanggal setelah pernikahan dan sebelum terjadi perceraian, maka rumah atau harta tersebut termasuk harta gono gini.

Beberapa suami atau istri sudah memiliki harta sebelum menikah, seperti rumah dan tanah.

Jika tanggal akta jual beli sebelum tanggal pernikahan, maka harta tersebut tidak termasuk harta gono gini.

Untuk menjual rumah atau tanah tersebut tidak diperlukan persetujuan siapapun…

Begitu pula dengan rumah atau tanah yang dimiliki oleh suami atau istri yang merupakan warisan dari masing-masing pihak.

Pasal 37 UU Perkawinan tahun 1974 tidak menetapkan secara tegas mengenai pembagian bagi suami atau istri yang bercerai.

Pasal 37 ayat 1 hanya menyebutkan bahwa pembagian harta gono gini karena karena perceraian diatur menurut hukum masing-masing…

Yakni hukum agama, hukum adat, dan hukum lainnya yang dianut oleh masing-masing pasangan.

Berikut beberapa kasus pembagian harta gono gini:

1. Salah  Satu Pasangan Meninggal Dunia

Jika suami atau istri yang sudah bercerai ternyata meninggal dunia dan pihak yang masih hidup ingin menjual rumah atau tanah yang merupakan harta gono gini, maka diperlukan persetujuan dari pihak anaknya.

Hal ini diperlukan karena sang anak memiliki hak dari salah satu pihak yang meninggal dunia.

Sebagai contoh, jika suami meninggal dan sang istri ingin menjual rumahnya namun mereka sudah bercerai…

Maka sang istri harus meminta persetujuan sang anak karena anak juga mewakili hak dari suami yang telah meninggal.

2. Persetujuan dari Anak

Persetujuan dari anak untuk menjual rumah harta gono gini, kondisinya berbeda-beda.

Jika anak masih di bawah umur, maka perlu ada surat perwalian dari pengadilan.

Baca Juga:

Belum Dewasa, Apakah Ahli Waris Lain Boleh Menjual Harta Milik Anak di Bawah Umur?

Sementara jika anak telah dewasa, maka perlu ada surat persetujuan secara notaris dari anak tersebut.

Kemudian jika anak sedang berada di luar negeri, maka perlu ada surat persetujuan di atas materai dan dilegalisir oleh perwakilan RI di negara setempat.

3. Ketentuan Khusus untuk Rumah Hibah atau Warisan

Jika rumah atau tanah didapat dari hibah atau warisan maka tidak diperlukan persetujuan dari anak-anaknya.

Contohnya jika seorang istri mendapat harta warisan pada masa perkawinan, lalu suatu saat suaminya meninggal lalu berencana akan menjual rumah atau tanah tersebut…

Maka ia tidak memerlukan persetujuan dari anak-anaknya.

Selain itu, harus ada juga bukti kematian sang suami dan surat dari ahli waris dari kelurahan atau kecamatan.

Baca Juga:

Biaya Balik Nama Sertifikat Rumah & Hal Lain yang Wajib Diketahui

Semoga bermanfaat ya, Sahabat 99.

Kunjungi Blog 99.co Indonesia untuk informasi terbaru seputar dunia properti.

Tak lupa, pastikan kamu mendapat properti yang diinginkan lewat www.99.co/id.

You Might Also Like