Hukum

Wah! Hati-Hati Terkena Hukuman Akibat Saluran Air

27 Juli 2016
2 menit

Cuaca yang tidak stabil seringkali mendatangkan hujan disertai angin kencang. Lalu pernahkah terganggu dengan cipratan air dari atap tetangga? Atau atap dan saluran air Anda yang bermasalah? Wah, sebaiknya Anda baca artikel ini sampai selesai!

Apabila Anda tinggal di pemukiman yang padat penduduk, tentunya tidak akan ada jarak antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya. Oleh sebab itu, akan sangat mungkin jika rumah Anda terkena cipratan air dari atap rumah tetangga.

Langkah yang Dapat Dilakukan

Apabila merasa terganggu dan dirugikan, sebaiknya utarakan keluhan tersebut kepada tetangga Anda. Mintalah tetangga untuk memperbaiki atau membuat saluran air tidak mengarah ke rumah Anda. Cara ini tentunya harus dilakukan secara baik-baik.

Sudah mengingatkannya berkali-kali, namun tidak pernah ditanggapi? Anda dapat menyampaikan keluhan ini kepada pengurus RT setempat. Nantinya, mereka lah yang akan membantu Anda. Mereka akan menegur secara baik-baik agar tetangga Anda segera memperbaiki talang airnya

Semua cara sudah dilakukan, namun sang tetangga tidak mau mendengar? Anda bisa mulai mengajukan langkah hukum. Tentunya langkah ini baru bisa dilakukan apabila Anda benar-benar dirugikan, seperti halaman rumah menjadi banjir akibat saluran air tetangga.

Apabila sudah benar-benar akan menggunakan langkah hukum, Anda dapat menggunakan Pasal 652 dan Pasal 653 KUH Perdata. Kedua pasal ini mengatur kewajiban untuk mengalirkan aliran air hujan. Jika dirasa belum cukup, Anda juga bisa mencari dan menggunakan peraturan daerah mengenai penyaluran air hujan.

Aturan Hukum

Seperti dijelaskan sebelumnya, aturan hukum mengenai hal ini telah tercantum dalam Pasal 652 dan Pasal 653 KUH Perdata. Berikut isi Pasal 652 KUH Perdata yang dapat dijadikan bahan rujukan:

Tiap-tiap pemilik pekarangan harus mengatur pemasangan atap rumahnya sedemikian rupa sehingga air hujan dari atap itu jatuh di pekarangannya atau di jalan umum. Jika yang terakhir ini tidak terlarang oleh undang-undang atau peraturan pemerintah, tak boleh ia menjatuhkan itu di pekarangan tetangganya”.

Tidak hanya pasal tersebut, aturan mengenai aliran air ke area yang bukan merupakan haknya dipertegas dalam Pasal 653 KUH Perdata. Berikut isi pasalnya:

Tidak seorang pun diperbolehkan mengalirkan air atau kotoran melalui selokan-selokan di pekarangan tetangganya, kecuali ia mempunyai hak untuk itu”.

Anda juga dapat mencari peraturan daerah tertentu yang membahas mengenai aturan saluran air. Seperti halnya di Jakarta, Peraturan perundang-undangan di daerah tertentu biasanya memuat syarat-syarat bangunan yang berkaitan dengan saluran air. Sekadar contoh, di Jakarta terdapat Perda DKI Jakarta Nomor 7 Tahun 2010 tentang Bangunan Gedung.

Dalam Pasal 83, ditegaskan bahwa salah satu satu syarat sistem sanitasi bangunan gedung harus memiliki sistem penyaluran air hujan. Tidak hanya itu, dalam Pasal 87 pun dijelaskan mengenai kewajiban lain yang dipenuhi oleh pemilik bangunan.

Nah, itu dia bahasan singkat mengenai aturan saluran air. Jangan sampai saluran air di rumah Anda mengganggu rumah yang ada di sebelah, ya. Tentu Anda tidak mau ‘kan berurusan dengan hukum?

Yuk, sebarkan artikel ini di media sosial Anda dan tunggu ulasan lainnya hanya di blog UrbanIndo!

You Might Also Like