Tips & Trik

Ingin Membeli Rumah Over Kredit? Begini Prosedurnya

20 Oktober 2017
rumah over kredit
2 menit

Pembelian rumah dengan cara over kredit menjadi salah satu opsi yang digunakan dalam pembelian rumah ataupun properti. Cara ini cukup menguntungkan, tetapi juga cukup menjebak.

Bagi kamu yang belum memahami prosuder pembelian dengan cara tersebut, sebaiknya jangan coba-coba. Tetapi jika tetap ingin, maka kamu perlu mengetahui prosedurnya terlebih dahulu.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu kamu ketahui sebelum mencoba membeli rumah dengan cara over kredit.

1. Skema Beli Rumah Over Kredit

Pembelian dengan cara over kredit merupakan skema mengalihkan pembayaran KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dari debitur lama kepada debitur baru.

Dalam hal ini, pihak yang terlibat tidak hanya pemilik lama dengan calon pemilik baru saja, tetapi juga pihak perbankan sebagai pemilik jaminan. Jadi, ada aturan main yang harus dipenuhi.

2. Prosedur Over Kredit

Ada dua cara pembelian dengan sistem ini.

Pertama, calon pembeli dan penjual bisa langsung ke bagian kredit perbankan untuk melakukan alih debitur, dan mengajukan peralihan bank.

Dalam hal ini, calon pembeli mengajukan permohonan sebagai debitur baru untuk menggantikan posisi penjual sebagai debitur lama.

Setelah kredit disetujui, pembeli perlu menandatangani berkas perjanjian kerdit baru atas namanya, berikut akta jual beli dan pengikatan jaminan.

Lewat skema alih debitur ini, sertifikat atas nama pemilik lama sudah bisa langsung di balik nama ke atas nama pembeli.

Sertifikat tersebut menjadi jaminan yang dipegang oleh bank dan bisa diambil setelah kredit lunas.

Kedua, cara lain yang cukup aman dilakukan untuk over kredit perumahan yaitu perpindahan hak atas tanah dan bangunan dengan menggunakan akta notaris.

Caranya, penjual dan pembeli datang ke notaris dan membawa semua berkas.

Di sana, pihak notaris akan membuatkan akta pengikatan jual beli atas pengalihan hak atas tanah dan bangunan, serta surat kuasa untuk melunasi sisa angsuran dan kuasa untuk mengambil sertifikat.

Kemudian, penjual menandatangani surat pemberitahuan dari perbankan perihal peralihan hak atas tanah yang dimaksud.

Maksudnya, sejak pengalihan itu, angsuran dan sertifikat yang masih atas nama penjual akan beralih ke pembeli untuk melunasi dan mengambil sertifikast asli yang dijamikan ke pihak bank.

Setelah semua itu selesai, penjual dan pembeli wajib menyampaikannya ke pihak bank terkait perpindahan kepemilikan kredit rumahnya.

Nah, proses melalui akta notaris lebih notaris lebih mudah dan cepat, dan biayanya relatif lebih murah dibandingkan dengan cara alih debitur di bank.

Hanya saja, dengan sistem ini angsuran cicilan KPR-nya masih atas nama debitur pertama atau penjual.

Namun, pengalihan kredit menggunakan akta notaris masih terbilang lebih aman dibandingkan over kredit hanya menggunakan surat pengalihan bawah tangan, atau tanpa menggunakan surat apapun (hanya kuitansi).

Dengan adanya akta notaris dan bukti surat pemberitahuan, pembeli memiliki jaminan untuk mengambil sertifikat asli yang sudah ditandatangin oleh kedua belah pihak setelah cicilan kreditnya dilunasi.

3. Dokumen yang Diperlukan

Berikut ini beberapa dokumen-dokumen yang diperlukan dalam proses pembelian rumah secara over kredit.

Data objek jual-beli:

  • Buku tabungan yang digunakan untuk pembayaran angsuran
  • Bukti pembayaran angsuran terakhir sebelum over kredit
  • Foto copy SPPT PBB 5 tahun terakhir yang sudah dilengkapi bukti lunasnya
  • Foto copy IMB
  • Foto copy sertifikat
  • Foto copy perjanjian kredit dan surat penegasan perolehan kredit

Data penjual dan pembeli:

  • Copy KTP suami isteri
  • Copy Kartu Keluarga
  • Copy Akta Nikah
  • Copy Keterangan WNI atau ganti nama (bila ada).

Semoga ulasan di atas tadi dapat bermanfaat untuk Anda!

You Might Also Like