Berita, Berita Properti

Yuk, Intip Bandara Unik Khas Alor yang Mesti Anda Lihat Ini!

20 Desember 2016
2 menit

Kantor konsultan arsitek Natateka terpilih sebagai pemenang utama pada sayembara “Desain Bandara Udara Nusantara 2015” yang diumumkan pada Malam Arsitektur 2016 di JCC, Jakarta beberapa waktu silam.

Mereka memenang desain Bandara Mali Alor Airport yang rencananya akan segera dibangun di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Kearifan lokal yang mereka usung akhir memengaruhi Tim Juri yang salah satunya diketuai Yori Antar untuk mentasbiskan Natakena menjadi juara pertama.

Identitas lokal memang santer terasa pada desain Mali Alor Aiport karya Nataneka ini. Dari atap bandaranya saja, mereka mengadopsi atap rumah adat suku Alor setempat yang berbentuk segitiga.

“Kami membuat desain yang sangat sederhana. Sebagai airpot tentu memerlukan bentang yang besar sehigga mudah di-maintenence dan mudah diakses oleh penumpang.

Jadi kita pilih segitiga yang sangat dominan pada arsitektur setempat,” kata Ir. Sukendro Sukendar, Pricipal Architect Nataneka pada Malam Arsitektur Nusantara 2016.

Untuk itu, mereka membuat 20 kuda-kuda besar berbentuk segita setebal 1,5 meter untuk struktur atap bandara. Tim  arsitek sengaja membuat kuda-kuda  yang tidak terlalu besar agar suasana homey lebih terasa. Nantinya, kuda-kuda tersebut akan dilapisi kayu yang ramah lingkungan.

“Kami ingin membuat airport yang terasa natural bukan yang berwarna putih mengilap. Hal ini agar suasana di bandara terasa lebih hangat,” kata Sukendroa.

Begini Bentuk Bandara Unik Khas Alor

Tak hanya menceriman kearifan lokal setempat, bentangan atap setiga ini juga akan membentuk void yang sangat besar sehingga udara yang masuk ke dalam bandara berlimpah.

Agar bandara menjadi lebih sejuk, tim arsitek juga akan menempatkan kolam pantul di sisi kanan kiri bandara.

Kolam pantul adalah kolam yang memantulkan bayangan objek yang ada di sekitar kolam tersebut. Salah satu fungsi kolam pantul adalah menciptakan suasana teduh yang hening dan cantik.

Karena berada di alam natural Alor, tim arsitek akan menggunakan material-mataerial alam setempat. Di gerbang pintu masuk bandara misalnya.

Mereka akan melapisi dinding dengan batu-batu untuk menghadirkan nuasa alam yang kental. Gerbang bandara ini bisa menjadi perhentian para penumpang untuk update status. Ketika masuk, penumpang juga akan melewati sebuah ruang terbuka sebelum memasuki bandara.

Yang paling menarik ada di area drop off. Di area itu, Nataneka tidak memisahkan area drop off dengan bangunan sehingga penumpang masih mendapat merasakan bentangan atap segitiga yang menjadi identitas lokal.

Area drop off ini menjadi sebuah ruang yang menciptakan interaksi ruang luar dengan ruang dalam.

Untuk memudahkan penumpang, tim perancang tidak akan membuat banyak sign-sign karena dapat membingungkan penumpang. Mereka akan membuat penunjuk sesederhana mungkin seperti sebuah panel digital yang berada di area kedatangan.

Ya, dapat dikatakan desain bandara ini sederhana namun berkarakter. Walaupun nantinya akan ada alat-alat canggih yang akan menghiasai bandara, Nataneka ingin membuat bandara ini sesederhana mungkin namun tetap sarat dan kental akan kekayaan material lokal.

Dan yang terpenting, kearifan lokal dan juga identitas lokal masyarakat alor yang akan mereka hidupkan di Bandara Mali Airport ini.

You Might Also Like