Berita Ragam

Kisah Kakek 84 Tahun Jadi Pawang Harimau di Aceh. Bisa Bikin Semua Harimau Nurut!

3 menit

Siapa sangka kakek yang telah sepuh ini masih menjadi andalan di kampungnya sebagai pawang harimau?

Kakek bernama lengkap Sarwani Sabi ini tinggal di Desa Blang Sibatong, Aceh Barat.

Melansir vice.com, Sarwani mengklaim bahwa dia bisa berbicara dengan harimau.

“Saya katakan kepada harimau, ‘Jangan ganggu manusia, jangan kau ganggu milik mereka, kalau kau ganggu, nanti kau kena sanksi. Kalau nanti kamu ditangkap, jangan salahkan kami, kami sudah memperingatkan terlebih dulu’,” kata Sarwani menirukan percakapannya dengan harimau.

Berbeda dengan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Sarwani menjinakkan harimau menggunakan metode tradisional.

Pawang Harimau dengan Metode Tradisional

Sarwani Sabi pawang harimau berusia 84 tahun

sumber: Forum Konservasi Leuseru/Istafan Najmi

Sebelum berkomunikasi dengan harimau, Sarwani memulai ritual dengan membakar kemenyan di atas sabut kelapa dan menanam sebatang pohon kincung.

Setelah itu, dia pun merapalkan doa.

Sarwani adalah salah satu dari sedikit pawang harimau yang masih menggunakan metode tradisional.

Cara yang dia gunakan memang cenderung berbahaya.

Bisa saja, ketika gagal menjinakkan harimau, Sarwani malah diterkam sang harimau.

Sarwani mengaku tulus menjalani pekerjaannya.

Keinginannya hanya satu, yaitu mengembalikan harimau ke hutan tanpa menyakitinya.

Dia mulai belajar menjinakkan harimau sejak tahun 1960-an.

Sarwani yang masih kecil belajar ritual berkomunikasi dengan harimau dari sang ayah.

Sebelum memulai ritual, Sarwani mencari titik yang tepat.

Biasanya dia melakukan ritual di perbatasan desa dengan hutan atau kawasan perkebunan.

Terkadang, ritual tersebut juga dilakukan di area yang pernah dilewati harimau.

Lokasi harimau itu didapat dari pengamatan jejak atau camera trap.

Dia mengklaim bahwa harimau yang telah ditaklukkannya tidak pernah kembali ke permukiman manusia.

Sejumlah warga yang menyaksikan ritual pengusiran yang dilakukan Sarwani di sebuah desa di Aceh Timur pada Maret 2021 pun membenarkan ucapannya.

Biasanya, harimau yang ditangkap akan mengalami luka atau trauma, sehingga harus direhabilitasi sebelum dilepasliarkan.

ritual pengusiran harimau oleh Sarwani Sabi

sumber: dokumentasi Ruslan Sabi via vice.com

Namun, hal itu tidak pernah terjadi dalam berbagai kasus yang ditangani oleh Sarwani.




“Biasanya harimau selalu mematuhi peringatan yang saya sampaikan,” ujar Sarwani.

Bertahun-tahun berprofesi sebagai pawang harimau, bukan berarti ritual yang dilakukannya berhasil 100%.

Ada kalanya juga dia gagal mengusir harimau.

Ketika itu terjadi, Sarwani menyerahkan kewenangan menangkap harimau pada pihak berwenang.

Meski sudah tua, Sarwani masih kerap dimintai tolong untuk mengusir harimau di sejumlah kampung.

Sekarang, dia sering dibantu oleh putranya, Ruslan, setiap ada panggilan untuk mengusir harimau.

Jika penasaran dengan ritual yang dilakukan Sarwani, kamu bisa menyaksikannya melalui sebuah video Youtube.

Semakin Banyak Harimau Kehilangan Habitat

Sarwani Sabi dan macan yang ditangkap

sumber: Forum Konservasi Leuseru/Istafan Najmi

Belakangan jasanya sering digunakan seiring meningkatnya jumlah serangan harimau ke permukiman manusia.

Hal itu terjadi karena hutan tempatnya tinggal mengalami deforestasi.

Biasanya, harimau yang harus dia jinakkan atau diusir kembali ke hutan adalah harimau sumatera yang populasinya sudah semakin sedikit.

Melansir vice.com yang mengutip data WWF, jumlah harimau sumatera saat ini tinggal tersisa 400 ekor di seluruh dunia.

“Hampir tiap kampung di Provinsi Aceh sudah pernah saya lakukan pengusiran harimau. Saya tidak ingat berapa kali persisnya, tapi kalau seratus kali sudah lebih,” ujarnya.

Kasus harimau yang menyerang permukiman manusia di sekitar Taman Nasional Gunung Leuseur semakin sering terjadi pada beberapa tahun terakhir.

Ketika ini terjadi, bagi warga, Sarwani adalah orang paling tepat untuk menanganinya.

“Kami sudah pernah mengatakan kepada pemerintah kabupaten agar memanggil pawang harimau, sayangnya belum direspons sampai sekarang,” kata Kepala Desa Timbang Lawang, Malik Nasution.

Petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam memang beberapa kali datang untuk menangani kasus ini.

Biasanya mereka memasang kamera perangkap dan menerapkan sejumlah metode modern lainnya.

Pihak BBKSDA Sumatera Utara sebenarnya tidak setuju dengan pemanggilan pawang harimau karena metodenya tidak sesuai sains.

Meksi begitu, Kepala BKSDA, Agus Arianto, tetap mengapresiasi kontribusi Sarwani.

“Apa yang dilakukan Sarwani yaitu seperti komunikasi (dengan harimau) agar (manusia dan satwa liar) saling menjaga ruang masing-masing,” kata Agus.

Sarwani yang telah berusia senja pun mengaku siap kapan pun jika warga membutuhkan jasanya.

“Saya akan siap dipanggil kapan pun masyarakat membutuhkan saya,” ujarnya.

***

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Sahabat 99 ya!

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di portal Berita 99.co Indonesia.

Kamu sedang mencari rumah di Aceh Barat?

Cek saja di 99.co/id untuk menemukan rumah idamanmu!




Theofilus Richard

Penulis konten | Semoga tulisanku berkesan buat kamu

Related Posts