Berita, Berita Properti

Fakta dan Keunikan Rumah Adat Tongkonan, Warisan Para Raja

26 Agustus 2019
rumah adat tongkonan
7 menit

Berkunjung ke Toraja tak lengkap rasanya bila tak mengunjungi ikon budaya terkenal di sini yaitu rumah adat Tongkonan. Beragam keunikannya dijamin bisa membuat terpesona!

Tana Toraja adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah ini sejak lama terkenal memiliki beragam tradisi dan warisan budaya unik dari masa silam.

Budaya dan tradisi tersebut merupakan warisan dari raja-raja Tana Toraja yang tetap terjaga kemurniannya hingga kini.

Salah satu yang paling ikonik yaitu rumah adat Tongkonan yang konon merupakan rumah adat bekas raja-raja di masa lalu yang sarat makna.

Keunikan rumah adat tongkonan pun tak hanya memukau wisatawan domestik, tetapi juga memukau banyak sekali wisatawan mancanegara.

Tak heran bila rumah adat Tongkonan merupakan salah satu rumah adat Toraja yang paling banyak dikunjungi.

Apa saja fakta dan keunikan rumah adat Tongkonan ini? Simak selengkapnya di bawah ini.

Tongkonan Penuh Makna

Mungkin kamu bertanya-tanya, apa sih arti kata Tongkonan sebenarnya?

Istilah “Tongkonan” berasal dari kata “tongkon” yang dalam bahasa Indonesia bermakna “tempat duduk” atau “menduduki”.

Konon, istilah ini muncul berdasarkan fungsi utama rumah adat Tongkonan yang sering dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para raja dan bangsawan.

Bila diilustrasikan, maka Tongkonan di masa lalu fungsinya hampir sama seperti sebuah balai di masa kini.

Para raja dan bangsawan terdahulu memang sering mengadakan berbagai pertemuan baik resmi ataupun tak resmi di rumah ini.

Tak heran bila rumah Tongkonan sarat akan makna bagi para penduduk Tana Toraja karena menjadi tempat penting hadirnya keputusan-keputusan besar.

Namun, seiring berjalannya waktu, rumah yang awalnya digunakan sebagai tempat berkumpul ini kemudian berkembang menjadi rumah adat.

Sejak itulah masyarakat mulai mengenal Tongkonan sebagai salah satu rumah adat Toraja.

Filosofi Rumah Adat Tongkonan

rumah adat tongkonan

Sumber: Authentic Indonesia

Sebagai sebuah rumah adat, tentu pembangunannya pun tak sembarangan dan selalu penuh perhitungan.

Entah itu dari bentuk, desain, dekorasi, hingga posisi pasti selalu mengandung nilai-nilai serta filosofi tertentu yang sangat erat dengan kebudayaan setempat.

Begitu pula yang terjadi dengan rumah adat Tongkonan.

Banyak aspek dari rumah adat ini yang jika ditilik lebih jauh ternyata memiliki nilai-nilai filosofis yang sangat besar.

Misalnya saja soal posisi rumah Tongkonan yang pasti menghadap ke arah utara.

Baca Juga:

40 Gambar Rumah Adat yang Ada di Seluruh Indonesia

Hal ini merujuk pada lokasi di mana Puang Matua atau Yang Mahakuasa berada, yaitu di arah utara dunia.

Demikian besarnya makna rumah Tongkonan bagi masyarakat Toraja hingga memiliki nilai filosofis yang sangat besar dari mulai sosial, budaya, hingga agama.

Tak heran bila rumah Tongkonan tak bisa dimiliki secara perorangan, melainkan dimiliki secara turun-temurun antara anggota keluarga atau marga suku Tana Toraja.

Lebih dari itu, rumah adat Tongkonan juga memiliki beragam fungsi yaitu sebagai pusat budaya, pusat pembinaan keluarga, pusat kemasyarakatan, dan pusat stabilisator sosial.

Bagian Rumah Tongkonan

Secara umum, ada dua tipe rumah Tongkonan yang dibangun oleh masyarakat Tana Toraja: Banua Tongkonan dan Banua Barung-barung.

Banua Tongkonan merupakan bangunan yang difungsikan khusus untuk rumah adat dan kegiatan adat lainnya.

Sedangkan Banua Barung-barung merupakan rumah pribadi atau rumah biasa. Tipe rumah ini yang paling banyak ditemui di Tana Toraja.

rumah adat tongkonan

Sumber: topindonesiaholidays.com

Secara tradisional, setiap tipe rumah Tongkonan memiliki lima bagian rumah, yaitu:

1. Banua Sang Borong

Banua Sang Borong disebut juga dengan nama Banua Sang Lanta dan biasanya difungsikan untuk berbagai macam kebutuhan.

Tak ada keharusan atau larangan tertentu untuk menggunakan ruang rumah ini.

2. Banua Duang Lanta

Banua Duang Lanta memiliki makna rumah dengan dua ruang.

Ruang pertama disebut dengan istilah sumbung dan digunakan sebagai ruang untuk tidur para penghuni rumah.

Sedangkan ruang kedua dinamai ruang sali dan difungsikan untuk ruang kerja, dapur, atau tempat peletakan jenazah sementara.

3. Banua Patang Lanta

Banua Patang Lanta bermakna rumah dengan empat ruang, yaitu Banua Di Lalang Tedong, Sali Tangga, Sumbung, dan Inan Kabusung.

Banua Di lalang Tedong memiliki “sali iring” yang digunakan sebagai ruang dapur, ruang kerja, dan tempat menerima tamu.

Sali Tangga terdiri dari ruang kerja, ruang tidur keluarga, serta tempat peletakan jenazah yang akan melalui proses upacara adat.

Sementara itu, Sumbung memiliki fungsi khusus yaitu sebagai tempat tidur pemangku adat.

Terakhir, Inan Kabusung merupakan ruang khusus dan tertutup yang hanya dibuka atau digunakan ketika ada upacara adat berlangsung.

4. Banua Di Salombe

Banua Di Salombe terdiri dari tiga bagian, yaitu Palanta/Tangdo, Sali Tangga, serta Sumbung.

Palanta/Tangdo merupakan ruang khusus untuk pemuka adat serta tempat sembahyang atau upacara penyembahan.

Sedangkan Sali Tangga dan Sumbung memiliki fungsi yang sama seperti pada Banua Patang Lanta.

5. Banua Limang Lanta

Terakhir yaitu Banua Limang Lanta yang terdiri dari lima ruang utama: Palata, Sali Iring, Paluang, Anginan, dan Sumbung Kabusungan.

Palata digunakan sebagai ruang duduk dan tempat meletakkan sesajian sedangkan Sali Iring digunakan sebagai dapur, tempat makan, serta tempat tidur adat.

Lalu, Paluang digunakan sebagai tempat untuk bekerja serta meletakkan jenazah anggota keluarga.

Sementara Anginan digunakan khusus untuk ruang tidur dan Sumbung Kabusungan khusus sebagai tempat untuk menyimpan pusaka adat.

Jenis Rumah Adat Tongkonan

Secara umum, setidaknya terdapat tiga jenis rumah adat Tongkonan yang memiliki keunikannya masing-masing.

Keunikan rumah adat Tongkonan ini sangat bergantung pada peranan penguasa atau penghuni rumahnya.

Ketiga jenis rumah adat Tongkongan tersebut yaitu:

1. Tongkonan Layuk

Tongkonan Layuk atau Tongkonan Pesio’ Aluk memiliki makna Tongkonan yang Maha Tinggi atau Agung.

Hal ini dikarenakan fungsi utamanya yaitu sebagai tempat untuk menciptakan atau merancang aturan-aturan sosial serta keagamaan.

Oleh karena itu, rumah Tongkonan jenis ini merupakan pusat perintah dan kekuasaan yang mengatur seluruh masyarakat Tana Toraja zaman dahulu.

2. Tongkonan Pekaindoran

Tongkonan Pekaindoran juga dikenal dengan nama lainnya seperti Tongkonan Pekamberan atau Tongkonan Kaparengngesan.

Tempat ini biasanya difungsikan sebagai pusat kendali bagi pemerintahan adat di mana aturannya disesuaikan dengan aturan dari Tongkonan Pesio’ Aluk.

3. Tongkonan Batu A’riri

Jenis Tongkonan yang terakhir yaitu Tongkonan Batu A’riri yang memiliki fungsi sebagai Tongkonan Penunjang.

Dengan kata lain, Tongkonan ini memiliki peran untuk membina persatuan keluarga serta membina warisan keluarga tersebut.

Dekorasi Rumah Adat Tongkonan

rumah adat tongkonan

Sumber: lombokbeautytour.com

1. Dinding

Dinding rumah Tongkonan dapat berdiri tegak dan kokoh meskipun dibuat tanpa menggunakan paku ataupun unsur besi lainnya.

Sebagai pengganti, dinding rumah Tongkonan dibangun dengan menggunakan bantuan tanah liat sebagai perekatnya.

Sementara bahan baku dinding dan sebagian besar rumah terbuat dari kayu uru yang memang banyak tumbuh di wilayah Sulawesi.

2. Atap

Bila diperhatikan dengan seksama, salah satu keunikan rumah adat Tongkonan yang paling menonjol ialah bagian atapnya.

Atap rumah Tongkonan memiliki bentuk yang menyerupai sebuah perahu dan memiliki filosofinya tersendiri.

Konon, hal ini merupakan sebuah pengingat terhadap leluhur masyarakat Toraja yang merupakan pelaut ulung.

3. Ukiran

Terdapat empat jenis ukiran yang biasa terpampang pada rumah Tongkonan, yaitu: pa’barre allo, pa’ tedong, pa’ manuk londong, dan pa’ sussuk.

Ukiran pa’barre allo merupakan ukiran yang menyerupai matahari atau bulan sebagai perlambang Puang Matua atau Sang Pencipta.

Sementara itu, ukiran pa’ tedong menyerupai kepala kerbau dan diletakkan di tiang tegak lurus yang merupakan tulang bangunan sebagai perlambang kerja keras serta kemakmuran.

Kemudian ukiran pa’ manuk londong yang biasanya serupa dengan ayam jantan sebagai perlambang dari norma atau aturan manusia yang berasal dari langit.

Terakhir yaitu pa’ sussuk yang merupakan ukiran garis-garis lurus yang melambangkan kebersamaan serta kesatuan dalam kekerabatan satu Tongkonan.

4. Warna

Salah satu penanda rumah adat Tongkonan yang paling jelas adalah penggunaan warna.

Terdapat empat jenis warna yang biasa digunakan untuk mendekorasi rumah Tongkonan, yaitu putih, hitam, merah, serta kuning.

Warna putih biasanya digunakan sebagai perlambang dari daging dan tulang yang suci dan bersih.

Sedangkan warna hitam digunakan untuk melambangkan akhir dari kehidupan (kematian) serta kegelapan.

Lalu, bila warna merah digunakan pada rumah Tongkonan maka itu merupakan perlambang darah yang merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Terakhir ada warna kuning yang melambangkan anugerah serta kekuasaan dari Yang Maha Kuasa.

5. Tanduk Kerbau

Tanduk kerbau juga merupakan salah satu elemen dekorasi yang banyak ditemukan pada rumah adat Tongkonan.

Biasanya, tanduk kerbau diletakkan di bagian depan rumah dan bertumpukan.

Konon, dekorasi tanduk kerbau merupakan tanda kemewahan serta pembeda strata sosial masyarakat Toraja.

Semakin tinggi strata sosialnya, maka semakin banyak pula hiasan tanduk kerbau yang dipajang di depan rumah tersebut.

Tongkonan Tertua di Tana Toraja

rumah adat tongkonan

Sumber: binus.ac.id

Ada satu lagi keunikan rumah adat Tongkonan yang jadi primadona di Toraja.

Soalnya, rumah yang satu ini diketahui sebagai rumah Tongkonan tertua di Tana Toraja yang konon telah berusia lebih dari 700 tahun.

Masyarakat adat Tana Toraja pun menyebut rumah Tongkonan ini dengan nama “Papa Batu”.

“Papa” dalam bahasa Toraja berarti atap dan “batu” memiliki makna yang sama yaitu batu.

Rumah adat Tongkonan tertua di Toraja ini terletak sekitar 10 km ke arah Barat dari Tana Toraja atau tepatnya di Desa Banga, Kecamatan Rambon, Tana Toraja.

Ternyata, rumah Tongkonan tertua ini masih dihuni oleh seorang tetua kampung yang bernama nenek Toyang.

Ia adalah seorang janda berusia 110 tahun dan merupakan generasi ke 10 yang menghuni Tongkonan tersebut.

Keunikan rumah adat Tongkonan tertua ini sudah nampak jelas pada hampir seluruh bagian rumah adat ini.

Misalnya, atapnya terbuat dari batu pahatan yang berjumlah 1000 keping dan masing-masing keping berukuran 5×3 jengkal orang dewasa.

Baca Juga:

7+ Jenis Rumah Adat Sunda | Disertai Gambar dan Perbedaan

Menurut warga sekitar, masing-masing keping batu tersebut berukuran sekitar 10 kg, sehingga berat atap batu tersebut jika ditotal mencapai sekitar 10 ton.

Meskipun atapnya sangat berat namun hanya ditopang oleh 55 tiang yang seluruhnya terbuat dari kayu.

Sepanjang sejarahnya, baru dua kali atap rumah Tongkonan diganti, yaitu ketika ada rotan yang terputus dan ketika ada gempa bumi.

Ketika memasuki bagian dalamnya, maka kamu bisa melihat ada empat ruang besar di dalam rumah ini.

Sayangnya, karena rumah ini sangat disakralkan, pengunjung hanya bisa melihat ruang utamanya saja.

Satu pantangan lainnya yang tak boleh dilanggar oleh pengunjung adalah memasuki rumah tanpa izin.

Oleh karena itu, jika kamu ingin memasuki rumah ini maka kamu harus meminta izin kepada nenek Toyang.

Pasalnya, jika memasuki Papa Batu tanpa izin, maka orang tersebut akan mendapatkan kemalangan berupa sakit keras dan obatnya hanya dengan meminta maaf kepada nenek Toyang.

Tongkonan yang Jadi Objek Wisata

rumah adat tongkonan

1. Tongkonan Marimbunna

Tongkonan Marimbunna terletak di Kelurahan Tikala, sekitar 6 km arah utara Rantepao.

Nama Marimbunna berasal dari nama orang pertama yang menghuni daerah ini.

Di Tongkonan ini kamu bisa menyaksikan berbagai peninggalan Marimbunna seperti rumah sekalgisu tempat mandi di atas karang serta kuburan Marimbunna.

2. Tongkonan Bate-Banbalu

Tongkonan yang terletak di Kecamatan Sa’dan Balusu ini didirikan sekitar abad ke-10 Masehi sekaligus Tongkonan tertua di wilayah ini.

Pendirinya adalah Tanditonda yang menurut mitos merupakan saudagar kerbau yang kehilangan susu kerbau produksinya karena dicuri orang.

Dari mitos tersebut kemudian muncul berbagai mitos lainnya yang masih dipercaya hingga saat ini.

3. Tongkonan Siguntu’

Tongkongan ini berdiri di wilayah Dusun Kadundung, Desa Nonongan, Kecamatan Sanggalangi, sekitar 5 km dari Rantepao.

Keunikan rumah adat Tongkonan yang dibangun oleh Pongtanditulaan ini yang paling utama yaitu letaknya yang berada di atas sebuah bukit.

Alhasil, pengunjung yang datang bisa sekaligus menikmati pemandangan persawahan serta bukit Buntu Tabang di sekelilingnya.

4. Tongkonan Lingkasaile-Beloraya

Tongkonan berikutnya terletak di Desa Balusu dan didirikan oleh seseorang bernama Takke Buku yang merupakan keturunan Polo Padang dan Puang Gading.

Di dalam Tongkonan ini masih terdapat perabot tempo dulu yang masih asli.

Selain itu, Tongkonan ini dipercaya memiliki daya pikat khusus yang membuat seseorang ingin mengunjunginya kembali.

5. Tongkonan Rantewai

Tongkonan yang dibangun oleh sepasang suami istri bernama To Welai Langi’na dan Tasik Rante Manurun ternyata telah berdiri sejak abad ke-17.

Pengunjung bisa melihat adanya 8 patung kayu berbentuk kepala naga yang menjadi simbol kepemimpinan dari Tongkonan ini.

Pada zaman dahulu, rumah adat Tongkonan Rantewai ini juga memiliki koleksi bukti peninggalan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

6. Tongkonan Penanian

Nama Tongkonan ini sungguh bagus karena dalam bahasa Toraja, nama “Pananian” bermakna hal yang bermanfaat bagi semua orang.

Salah satu keunikan rumah adat Tongkonan Pananian yaitu berupa deretan Alangsura’ atau lumbung padi yang berderet dengan rapi dan cantik.

Lumbung-lumbung padi tersebut dibangun oleh pemangku adat daerah Nanggala bernama Siambe Salurapa’.

7. Tongkonan Layuk Pattan

Terletak di Desa Ulusalu, sekitar 18 km dari Kota makale, Tongkonan ini masih dipimpin oleh pemimpin adat tertinggi desa ini bernama Ma’dika.

Di desa ini juga masih sering dilangsungkan upacara adat rambu tuka’ atau ma’bua’ yang bertempat di Tongkonan Layuk Pattan.

Pengunjung juga bisa menyaksikan berbagai peninggalan di Tongkonan ini seperti 130 Tau-tau, upacara adat Rante, serta monumen batu menhir.

8. Tongkonan Unnoni

Unnoni yang bermakna “berbunyi dan bergabung ke seluruh penjuru” menjadi nama yang membawa keharuman bagu seluruh keturunan Tongkonan ini.

Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya keturunan Tongkonan Unnoni yang menjadi pimpinan di wilayah sekitarnya.

Salah satu yang terkenal dari Tongkonan ini adalah hasil kerajinan tenunnya yang sangat menarik.

***

Itulah ulasan mengenai fakta dan keunikan rumah adat Tongkonan di Toraja.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat ya, Sahabat 99!

Kunjungi Blog 99 Indonesia untuk mendapatkan informasi menarik seputar hunian.

Sedang butuh properti? Cari saja di 99.co/id.

You Might Also Like