Berita Properti

Keuntungan di Balik Hebohnya Kekosongan Gedung Perkantoran di Jakarta

2 menit

Bukan hanya pusat pemerintahan, Jakarta merupakan salah satu kota yang didapuk sebagai center pergerakan bisnis Indonesia. Itu mengapa, banyak perusahaan besar hingga startup memilih untuk mendirikan head office di sana. Hal ini pun memengaruhi tingkat okupansi gedung perkantoran.

Ternyata, di tengah geliat bisnis properti yang kembali positif, sektor sewa gedung perkantoran di Jakarta malah menunjukkan kelesuan. Di tahun 2017 ini, disebut-sebut bahwa gedung kantor khususnya di kawasan CBD (Central Business District) makin sepi penghuni, padahal hingga akhir tahun suplai terus naik.

[nextpage title=”2017, Okupansi Terendah” ]

2017, Okupansi Terendah

Menurut CEO SewaKantorCBD.com Leonard Hartono, tingkat okupansi gedung perkantoran di tahun 2016 adalah yang terendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2001 hingga 2012 yaitu 84%. Ia memprediksi, angka ini akan semakin terpuruk pada akhir 2017 yaitu turun hingga 73% – 77%.

“Pada periode 2001 hingga 2012, permintaan akan gedung kantor selalu lebih besar dibandingkan jumlah ruang yang tersedia. Bahkan di tahun 2012 tercatat demand paling tinggi selama sejarah yaitu 95%, tapi dalam waktu lima tahun, angka itu merosot tajam,” jelasnya pada UrbanIndo.

Leonard menambahkan penurunan demand akan gedung perkantoran merosot akibat suplai ruang baru yang makin bertambah. Kira-kira, di 2017 ini sendiri ada sekitar 730 ribu meter persegi ruang perkantoran baru. Suplai yang kian naik namun tidak diimbangi dengan demand yang seimbang tentu akan menghasilkan makin rendahnya okupansi.

[/nextpage]

[nextpage title=”Munculnya Gedung Perkantoran Baru” ]

Munculnya Gedung Perkantoran Baru

Berdasarkan data Market Report Commercial Real Estate SewaKantorCBD.com, tercatat ada beberapa gedung kantor baru yang telah beroperasi, baik di daerah CBD maupun di luarnya. Munculnya gedung-gedung ini pun menyumbang kenaikan suplai gedung perkantoran di Kota Jakarta.

Di kawasan CBD Jakarta sendiri ada empat bangunan yang baru berdiri. Mereka adalah Telkom Landmark Tower, Tokopedia Tower, PCPD Tower, serta Prosperity Tower & Treasury Tower in District 8. Total luas ruang kantor yang disumbangkan keempatnya ialah 439 ribu meter persegi.

Sementara itu kawasan non CBD Jakarta seperti sekitar Jakarta Pusat, Utara, Selatan, Timur, dan Barat pun terdapat beberapa gedung kantor yang baru beroperasi di 2017. Pada laporan tersebut disebutkan empat nama gedung baru di antaranya Gallery West di Kebon Jeruk Jakarta Barat dan Puri Matahari di Jakarta Pusat.




[/nextpage]

[nextpage title=”Menaikkan Minat Penyewa” ]

Menaikkan Minat Penyewa

Leonard menambahkan, dari rata-rata angka okupansi 2017 yang ia prediksikan, itu berarti ada beberapa gedung yang memiliki occupancy rate di angka 50%, 70%, dan 90%. Pengelola gedung dengan tingkat okupansi tertinggi menurutnya berhasil menggaet penyewa karena tiga hal.

Hal pertama ialah keberhasilan mereka dalam membangun komunitas. Target market dari gedung itu sendiri sudah lebih spesifik, sehingga calon penyewa dari komunitas tertentu lebih memilihnya. Sebagai contoh ialah beberapa japanesse building di sekitar wilayah Jakarta yang umumnya digandrungi oleh komunitas Jepang.

“Persentase okupansi di gedung ini biasanya di atas 90%, walau gedung di sebelah menawarkan harga yang lebih murah atau lebih bagus. Itu dipengaruhi juga dari segi manajemennya yang bisa berbahasa Jepang atau bahkan makanan yang disediakan lebih familiar untuk mereka,” terangnya.

Hal kedua ialah lokasi gedung perkantoran yang dekat dengan mal sehingga fasilitasnya menjadi luar biasa lengkap. Menurutnya persentase tingkat okupansi gedung ini pun sama dengan community building. Sementara itu yang ketiga adalah kemampuan untuk memahami kondisi market.

“Artinya, para pengelola sadar bahwa konsidi sekarang tuh kurang bagus. Jadi mereka bisa menyesuaikan sewanya dengan memberikan harga yang lebih kompetitif. Respons mereka ke tenant pun enggak jual mahal,” pungkas Leonard.

[/nextpage]

[nextpage title=”Titik Terang” ]

Titik Terang

Tiga hal di atas bisa dijadikan titik terang bagi para pemilik gedung lainnya untuk menaikkan occupancy rate di tengah rendahnya demand. Semakin mereka bisa menyesuaikan kondisi dengan market, maka bisa jadi mereka bisa meningkatkan demand sehingga gedung mereka pun tidak sepi oleh penyewa.

Sementara itu, bagi para penyewa, kosongnya gedung perkantoran di Jakarta pun bisa mendatangkan keuntungan. Apabila mereka ingin berkantor di gedung yang telah memenuhi ketiga hal tersebut, tidak hanya fasilitas lengkap, penyewa pun bisa mendapatkan harga sewa kantor yang bersaing.

Semoga penjelasan yang UrbanIndo berikan di atas dapat berguna bagi Anda semua. Terus kunjungi blog UrbanIndo dan Forum Komunitas UrbanIndo untuk mendapatkan ulasan menarik lainnya.

[/nextpage]




Tiara Syahra Syabani

Seorang jurnalis/editor kemudian beralih profesi menjadi content dan copywriter. Pecinta buku komik Hai, Miiko! Senang traveling dan makan makanan gurih.

Related Posts