Berita Ragam

Kisah Desa Adat Sendi yang Hilang dari Peta & Tak Diakui Negara. Nilai Adatnya Masih Kental!

2 menit

Di salah satu kawasan Mojokerto, ada sepenggal kisah menyedihkan mengenai desa yang hilang dari peta. Area ini bernama desa adat Sendi dan berada di ujung utara kecamatan Pacet. Berikut kisah selengkapnya!

Tahukah kamu, di Mojokerto ada desa yang sempat hilang dari peta, lo.

Ada yang bilang ini karena masyarakatnya sempat meninggalkan desa hingga penghuninya menipis.

Namun ada juga yang menyatakan ini karena terjadinya peralihan kepemilikan lahan.

Untuk lebih jelasnya, simak selengkapnya kisah desa adat Sendi berikut ini!

Desa Adat Sendi yang Hilang dari Peta

kisah area yang hilang dari peta

Sumber: TRANS7 OFFICIAL

Tahukah kamu, di dalam Permendagri Nomor 56/2015 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan tidak ada dta mengenai desa Sendi.

Kawasan ini seolah lenyap dan bukan bagian dari wilayah Administrasi Kabupaten Mojokerto.

Bahkan wilayah tanahnya tidak menjadi bagian dari 299 desa dan 5 kelurahan lainnya.

Padahal secara yurisdiksi keberadaan desa Sendi bisa kamu runut sejak abad ke-16, Sahabat 99.

bukti keberadaan desa sendi mojokerto

Sumber: TRANS7 OFFICIAL

Menurut warganya yang bernama Ki Demang, bukti keberadaan desanya bisa terbukti dari dokumen kretek atau buku teritorial dari pemerintah kolonial tahun 1915.

Kemudian di tahun 1918 di desa ini sudah ada pemerintahan desa yang lengkap.

Pada kala itu luas wilayahnya mencapai 212 hektar dan berada di wilayah Distrik Djaboeng, Regentschap Mojokerto, Recidentie Soerabaja.

Keberadaannya juga bisa terbukti melalui catatan dalam lansiran buku C Desa Pacet tahun 1975.

Hanya saja dalam buku tersebut tercatat bahwa luas wilayah desa hanya sekitar 6 hektar.

Berjuang Mendapat Pengakuan dengan Adat

nilai adat warga desa sendi mojokerto

Sumber: TRANS7 OFFICIAL

Salah satu penyebab desa Sendi kehilangan status administratif adalah wilayahnya menjadi bagian lahan PERHUTANI.




Oleh sebab itu Kemendagri melalui Pemprov Jatim menolak mengakui keberadaan Desa Adat Sendi

Ini membuat masyarakat kemudian membuat Forum Perjuangan Rakyat (FPR) Sendi di tahun 1999.

Mereka berjuang untuk mendapat pengakuan negara dengan mengandalkan adat.

Masyarakat secara perlahan membangun kembali budaya, lingkungan, dan tatanan sosial yang ada wilayah desa.

Meski hingga kini sengketa tanah masih terus berlangsung di antara warga dan PERHUTANI.

Bahkan desa dengan 323 kepala keluarga masih masuk ke dalam peta kerja mereka di petak nomor 26 seluas 126 hektar

Nilai Adat Menjadi Pilar Utama Masyarakat

kisah desa adat sendi

Sumber: TRANS7 OFFICIAL

Meski statusnya belum jelas, kehidupan masyarakat masih berjalan dengan mengutamakan empat pilar adat utama.

Pertama terkait tata kuasa yang berada di tangan rakyat agar wilayahnya aman dari pengaruh industri.

Kemudian tata kelola, yakni pengelolaan lahan yang tidak boleh sembarangan.

Bahkan di desa ada yang mereka kenal sebagai hutan larangan karena warga tidak boleh mengambil apapun di dalamnya.

Lalu ada tata produksi dan distribusi untuk mengatur pemanfaatan alam oleh masyarakat.

Serta terakhir ada tata konsumsi, yaitu warga hanya memakan apa yang mereka tanam.

***

Semoga informasinya bermanfaat, Sahabat 99.

Simak artikel menarik lainnya di Berita Properti 99.co Indonesia.

Kunjungi 99.co/id dan temukan hunian impianmu!

Ada banyak pilihan hunian menarik, seperti perumahan Margahurip Banjaran di Bandung.




Hanifah

Content Writer for 99.co | Knit & Crochet Enthusiast

Related Posts