Berita Ragam

Kisah Pengusaha Bumbu Opor Ayam sampai Beli Rumah Besar. Dulu Ditipu sampai Susah Makan!

3 menit

Siapa sangka dari berjualan opor ayam, wanita 45 tahun ini sukses membeli rumah? Berikut kisah lengkap Supri Astuti, pengusaha bumbu opor ayam di Kulon Progo yang sukses menjalankan bisnisnya.

Menjelang Idulfitri, banyak orang menyiapkan opor ayam sebagai sajian utama.

Maka dari itu, tidak heran jika bumbu opor ayam laris di pasaran.

Peluang inilah yang akhirnya dimanfaatkan Supri Astuti untuk berdagang bumbu opor ayam.

Dia memproduksi bumbu opor ini di rumahnya yang berada di Pedukuhan Kedunggalih, Kelurahan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewah Yogyakarta.

“Setiap Idul Fitri permintaan bumbu opor selalu sangat tinggi dibanding lainnya. Tahun ini, bumbu opor 1.800 bungkus. Sambal juga sama berimbang dengan opor karena pasangannya,” kata wanita yang akrab disapa Tutik itu, dikutip dari Kompas.com, Minggu (9/5/2021).

Lalu, bagaimana ceritanya Tutik bisa sukses sebagai pedagang bumbu opor ayam?

Yuk, simak kisahnya!

Pernah Ditipu Investasi Bodong

supri astuti pengusaha bumbu opor ayam

sumber: Kompas.com/Dani Julius

Awalnya, Tutik bersama suaminya, Simron, hanya berdagang ayam bakar di sebuah warung di Yogyakarta.

Kemudian, warung bangkrut karena mereka tertipu investasi bodong.

Bahkan, sejak tertipu, dia mereka hanya bisa memakan satu kali sehari, sehingga sering menahan lapar.

Mereka kemudian mencoba peruntungan berdagang asongan di kereta api di Jakarta pada 2004.

Setiap harinya, mereka berdagang asongan dari stasiun ke stasiun, mulai dari Stasiun Kereta Kranji di Bekasi sampai Pasar Senin di Jakarta Pusat.

“Bawa nasi gudeg ngasong. Waktu itu sudah punya 2 anak, tapi tinggal sama neneknya di Wates,” kata Tutik , dikutip dari TribunMataram.com.

Bukannya untung, mereka malah harus kucing-kucingan dengan petugas trantib dan dagangan mereka disita.

Dia dan suami pun stres berat karena mengalami kemalangan bertubi-tubi.

“Kami sampai berdiri berdua di ujung jembatan layang. Mobil terlihat kecil di bawah kami. Saya bilang dunia ku bukan di sini. Ayo bali (ayo pulang) ning Wates. Kita bisa hidup layak. Kita harus hidup layak,” katanya.

Akhirnya Mereka pun membangun bisnis di kampung halamannya.

Membangun Bisnis di Wates

usaha bumbu rendang Supri Astuti

sumber: Kompas.com/Dani Julius

Setibanya di Wates, mereka pun mulai memproduksi bumbu masakan dan sayur matang.

Tidak hanya bumbu opor, mereka juga menjual bumbu rendang, tongseng, rawon, bestik, sate, soto, dan rica-rica.

Bumbu-bumbu tersebut merupakan campuran berbagai rempah-rempah yang disatukan dalam kemasan plastik seberat 70 gram.

Karena hanya memakai gula sebagai pengawet alami, bumbu ini hanya dapat bertahan hingga sekira satu minggu.

Dagangan tersebut dia jual ke sejumlah pedagang kaki lima di Wates.

Harga satu kemasan bumbu masakan tersebut juga cukup murah, yaitu Rp5 ribu jika beli di rumah produksi atau Rp7 ribu jika beli di pasar.

Tidak hanya itu, dia juga menjalani usaha katering.

“Kuncinya kemauan dan kreatif. Peluang sebenarnya banyak sekali. Dari semula sakit hati, saya harus bangkit. Orang kalau ingin sukses itu harus berjuang, melampauinya dengan tidak putus asa,” ujarnya.

Kini, usaha bumbu masakannya pun semakin besar, bahkan sampai bisa mempekerjakan empat orang karyawan.

Karyawannya tersebut ada yang bertugas memasak, membungkus bumbu, dan mengantar pesanan.

Dari usaha ini, Tutik berhasil menyekolahkan ketiga anaknya dan membeli sebuah rumah yang besar.

Rumah tersebut juga terlihat mewah dengan fasad berupa dinding batu alam.

Penjualan Meningkat saat Lebaran

penjualan bumbu opor ayam meningkat saat lebaran

sumber: Kompas.com/Dani Julius

Kesibukan rumah produksi yang dinamai Gubuk Ndeso itu meningkat menjelang Hari Raya Lebaran.

Bahkan, ketiga anak Tutik juga ikut membantu pekerjaannya dengan menimbang, mengemas, dan memberi label pada kemasan.

Pada lebaran 2021 ini, rumah produksinya bisa menghasilkan sekira 5.000 bungkus bumbu berbagai jenis.

Di tengah pandemi, kata Tutik, usahanya sama sekali tidak terganggu.

Meski begitu, awalnya Tutik sempat tidak memproduksi bumbu saat awal pandemi karena takut tidak laku.

“Kami mengira daya beli rendah, ternyata daya beli tinggi. Sempat takut. Tahun ini kami pulihkan untuk tetap produksi di atas 5.000 bungkus,” kata Tutik.

***

Semoga artikel ini menginspirasi Sahabat 99 ya!

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di portal Berita 99.co Indonesia.

Kalau sedang mencari apartemen di Surabaya, bisa jadi The Rosebay Surabaya adalah jawabannya!

Cek saja di 99.co/id untuk menemukan apartemen idamanmu!

Theofilus Richard

Penulis konten | Semoga tulisanku berkesan buat kamu

Related Posts