Berita Berita Properti

Kisah Perjuangan Pemilik Rumah Amani dalam Mewujudkan Impian Memiliki Hunian Bergaya Industrial. Dibangun dalam 5 Bulan!

4 menit

Memiliki hunian nyaman dengan desain yang sesuai keinginan merupakan impian banyak orang. Begitu juga dengan Metia, ia berhasil mewujudkan impiannya membangun hunian bergaya industrial bernama Rumah Amani. Simak kisahnya di sini!

Metia Pratiwi adalah seorang karyawan di instansi pemerintahan yang sejak lama bercita-cita memiliki rumah sendiri.

Keinginannya yang kuat tersebut membuat wanita berusia 30 tahun ini sudah memikirkan untuk segera memiliki rumah bahkan sebelum menikah.

“Sebelum menikah tahun 2016, saya dan pasangan sudah memikirkan untuk ingin cepat memiliki rumah karena mengetahui harga properti yang terus naik secara signifikan,” papar Metia melalui surel yang diterima tim 99.co Indonesia, Rabu (8/6/2022).

Tidak mudah bagi Metia mewujudkan impiannya tersebut, tetapi dengan kesabaran, kini ia dan pasangannya berhasil memiliki hunian bernama Rumah Amani.

Seperti apa kisah Metia dan pasangannya dalam merealisasikan mimpi memiliki hunian? Langsung saja simak ulasannya di bawah ini!

Kisah Perjuangan Mewujudkan Rumah Amani

Di Balik Nama Rumah Amani

rumah amani

Rumah Amani merupakan sebuah rumah tinggal yang dihuni oleh Metia Pratiwi dan keluarganya di Tangerang.

Melalui akun Instagram @rumah.amani, Metia kerap mengunggah desain dan kisah di balik rumahnya tersebut.

Adapun penamaan Amani sendiri diambil dari nama anak Metia. Dalam bahasa Arab, Amani memiliki arti damai dan sejahtera.

“Harapannya rumah ini membawa kedamaian dan juga kesejahteraan,” harap Metia.

Proses Pencarian Properti

Metia menuturkan, memiliki rumah merupakan cara ia untuk berinvestasi. Metia dan suaminya juga mulai melakukan pencarian rumah di usia sebelum 25 tahun.

“Memiliki rumah juga cara kami untuk berinvestasi ketika usia saat itu masih di bawah 25 tahun,” jelas Metia.

Untuk mewujudkannya, Metia dan pasangan kerap menghadiri pameran properti untuk mendapatkan informasi terkait rumah.

“Kami suka mengikuti pameran-pameran properti di mal atau gedung tertentu dan meminta brosur untuk memperoleh informasi terkait rumah, seperti lokasi, harga, dan sebagainya,” kenang Metia.

Selain menghadiri pameran properti, Metia juga melakukan survei ke beberapa lokasi yang dibutuhkan.

“Kami juga survei ke beberapa lokasi dengan pertimbangan yang dekat dengan rumah orang tua dan akses transportasi publik yang memadai ke kantor,” jelasnya.

Membeli Rumah Bekas

rumah bekas

Setelah lima bulan menikah, Metia kemudian menemukan informasi mengenai rumah bekas yang dijual.

Metia langsung jatuh hati karena lokasinya dekat dengan rumah orang tua.

“Setelah lima bulan menikah, ada informasi rumah second yang dijual dekat dengan rumah orang tua. Secara lokasi kami sangat nyaman, karena sejak kecil tumbuh dan besar di lokasi itu,” kenang Metia.

Sayangnya, meski bekas, rumah tersebut dijual dengan harga yang cukup tinggi dari pasaran.

Namun, setelah mempertimbangkan berbagai hal, Metia mantap membeli rumah tersebut.

“Saat itu faktor kondisi keluarga dan akses menjadi pertimbangan utama. Kami merasa dekat dengan rumah orang tua adalah suatu kenyamanan dan memberikan kemudahan bagi keluarga kami, semisal kami harus menitipkan anak, membutuhkan bantuan, dan sebagainya,” ungkapnya.

Menyulap Rumah Tua Jadi Kekinian

bangunan tua

Setelah membeli rumah tersebut, “PR” Metia selanjutnya adalah merancang hunian dengan desain yang diinginkan. Terlebih rumah bekas tersebut merupakan bangunan tua yang kondisinya sudah tidak prima.




“Rumah second ini bangunan asli tahun 1980-an. Kami putuskan bangun ulang rumah karena kondisi bangunan yang lama khawatir tidak bisa menopang bangunan baru,” jelas Metia.

Selain khawatir dengan kondisi bangunan, membangun ulang rumah dilakukan untuk mewujudkan cita-cita Metia memiliki rumah dengan desain industrial dan konsep split level.

“Kami bercita-cita memiliki rumah dengan desain layout sendiri, konsepnya ingin split level yang membutuhkan struktur layaknya tiga lantai rumah,” tutur Metia.

Sampai akhirnya, tanpa sengaja Metia dan pasangan bertemu dengan teman lama sekaligus seorang arsitek yang membantu mereka dalam mewujudkan keinginan tersebut.

“Buat kami, ini bentuk rezeki berupa kemudahan dalam membangun rumah. Penting memilih arsitek yang selain memiliki keahlian juga harus amanah dan kooperatif. Meski kami berteman, tetapi kami tetap profesional menjalankan proyek ini,” jelasnya.

Adapun pencarian rumah tersebut memakan waktu enam bulan.

Sementara proses pembangunan rumah dibantu oleh @studio.yannosuminar memakan waktu lima bulan dengan sistem borongan.

Konsep Rumah yang Unik

split level

Rumah Amani memiliki konsep yang unik, mulai dari fasad hingga area service semuanya dirancang dipersiapkan matang.

“Mulai dari fasad yang terinspirasi dari Art-Deco berbentuk curve, konsep split level dengan open space, dan sentuhan industrial pada area service dengan dinding ekspos, lantai acian, dilengkapi pipa kabel ekspos, yang menunjukkan nuansa natural atau raw,” papar Metia.

Untuk menyiasati rumah dengan lahan terbatas ia mengaplikasikan tipe open space, ceiling yang tinggi, sirkulasi udara yang cukup, dan penggunaan skylight untuk penerangan natural.

Karena semua bagian di rumah dirancang sesuai dengan keinginan, hal tersebut membuat hampir seluruh ruangan memiliki kenyamanannya tersendiri.

“Area serbaguna, area yang menjadi titik kumpul keluarga. Hampir banyak aktivitas yang dilakukan di area tersebut,” papar Metia menjelaskan salah satu area favoritnya.

“Selain itu, area musala juga menjadi favorit tamu karena suasananya yang adem dan teduh. Terakhir, ruang makan. Lokasinya yang dekat dengan taman indoor dan dapur dengan konsep meja bar membuat nyaman saat WFH,” jelasnya.

Tantangan dalam Mewujudkan Rumah Amani

halaman rumah

Metia menuturkan kalau tantangan utama sebelum menemukan rumah bekas tersebut adalah sulitnya menemukan lokasi yang sesuai dengan kebutuhan.

“Kebanyakan lokasi rumah sangat jauh dari rumah orang tua dan aksesnya yang sulit, memerlukan kendaraan khusus untuk masuk ke dalam cluster tersebut,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga kurang cocok dengan layout dan material yang pada bangunan klaster, ditambah lagi harganya yang kian meningkat.

***

Itulah kisah perjuangan Metia Pratiwi dalam membangun hunian impiannya bernama Rumah Amani.

Semoga artikel ini dapat menginspirasi Sahabat 99 yang juga sedang berencana membuat rumah impian, ya!

Jangan lupa, baca juga artikel menarik lainnya di Berita 99.co Indonesia.

Sedang mencari rumah dijual di Kota Tangerang seperti Rumah Amani?

Kunjungi 99.co/id dan Rumah123.com dan temukan pilihan menarik, karena kami #AdaBuatKamu.

***Sumber foto: dok. Rumah Amani & Instagram.com/motoin.terior




Nita Hidayati

Penulis konten
Follow Me:

Related Posts