Berita

3 Kisah Sukses Budidaya Cabe Rawit | Untung Ratusan Juta!

2 menit

Budidaya cabe rawit hanya bisa berhasil bila dilakukan oleh petani? Salah besar! Tiga orang berikut ini buktikan mereka bisa berhasil meskipun bukan petani, lho.

Bukan tanpa alasan orang-orang dengan latar belakang yang tak beririsan ini memilih untuk terjun ke dunia budidaya cabe rawit.

Mereka tahu, bahwa cabai adalah salah satu komoditas yang bernilai ekonomi tinggi di Indonesia.

Selain itu, tanaman cabai juga tak pernah kehabisan peminat karena hampir setiap orang membutuhkannya.

Ada yang untuk keperluan masak pribadi, untuk bahan baku industri, sumber vitamin, ataupun untuk diperdagangkan di pasar ekspor.

Pastinya, bisnis budidaya cabe rawit sangat menjanjikan karena selalu dibutuhkan dan memiliki pasar yang sangat besar terutama di Indonesia.

Yuk, kita simak kisah sukses tiga pegiat budidaya cabe rawit berikut ini agar Anda semakin terinspirasi!

3 Kisah Sukses Budidaya Cabe Rawit di Indonesia

1. Farid Amiruddin

budidaya cabe rawit

Sumber: metrotimur.com

Ir. Farid Amiruddin adalah seorang alumni FT Universitas Hasanuddin yang bekerja sebagai seorang arsitek.

Oleh karena itu, Farid pun mencoba menanam cabai rawit di lahan miliknya di Dusun Bonto Jonga, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Cabai merah selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi juga memiliki nilai gizi yang cukup tinggi untuk konsumsi.

Berawal dari coba-coba, arsitek ini kini telah memiliki sekitar 12 ribu pohon cabai yang hasil panennya sangat baik.

Hasilnya, kebun cabainya bisa menghasilkan berpuluh-puluh kilogram setiap kali panen dan ia pun bisa ikut memberdayakan warga di sekitar rumahnya.

Baca Juga:

Panduan Budidaya Buah Naga Dalam Pot | Tak Perlu Lahan Luas!

2. Imam Kusno

budidaya cabe rawit

Sumber: jpnn.com

Setelah purna masa kerjanya sebagai Aparataur Sipil Negara (ASN), Imam Kusno (50 tahun) enggan berhenti untuk melanjutkan hidupnya.

Dari yang awalnya bekerja sebagai guru, Imam Kusno pun kemudian memutuskan untuk mencoba budidaya cabe rawit.

Ia menanam cabai rawit di lahan seluas 1 hektare di Desa Natai Raya, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Dengan durasi panen dua kali per tahun, Imam mengaku bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp100 juta per tahunnya.

Apalagi ketika harga cabai melonjak tinggi hingga Rp150 ribu per kilogram, Imam bisa mendapatkan untung hingga berkali-kali lipatnya.

Namun, ketika harganya normal, per kilogram cabai bisa dijual seharga puluhan ribu rupiah saja.

“Tergantung kualitas bibitnya, biasanya harga normal dulu sebelum naik Rp20 ribu hingga Rp40 ribu per kilogramnya,” ujarnya seperti dilansir Jawapos.

Setelah empat tahun bergelut di budidaya cabe rawit, Imam mengaku penghasilannya kini jauh lebih tinggi dari pada ketika masih menjadi ASN.

3. Suparmin

budidaya cabe rawit

Sumber: liputan6.com

Suparmin adalah seorang transmigran asal Solo berusia 50 tahun yang juga mampu membuktikan diri bisa sukses berkat budidaya cabe rawit.

Sebelum memutuskan bertani cabai, Suparmin menjalani beragam pekerjaan mulai dari kuli bangunan hingga petani penggarap.

“Namun semua hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga,” tungkasnya seperti diberitakan Liputan6.

Keputusan transmigran tersebut rupanya tak salah dan justru membawa berkah bagi hidupnya.

Menurut Suparmin, tanaman cabai yang ditanamnya adalah varietas unggul berjenis sigantung yang harga jual per kilogramnya mencapai 50 ribu rupiah.

Ia kini punya sekitar 36 ribu batang pohon cabai yang ditanam di lahan seluas dua hektare.

Diakui Suparmin, sekali panen ia bisa menghasilkan 56 kuintal dan dengan harga jual Rp50 ribu per kilogram, ia bisa mendapatkan Rp280 juta setiap satu kali panen!

Siapa yang tak tertarik dengan penghasilan sebesar itu coba?

Baca Juga:

Mantan Pemulung Jadi Miliuner Berkat Budidaya Porang, Ini Rahasianya!

Semoga artikel ini bisa bermanfaat ya, Sahabat 99.

Yuk bookmark Blog 99.co Indonesia agar tak ketinggalan berita menarik lainnya!

Tak lupa, kunjungi 99.co/id untuk segala kebutuhan propertimu, ya!

Elmi Rahmatika

Scribo ergo sum. I write, therefore I am.

Related Posts