Berita Ragam

Menurut Survei, Jumlah Pendukung Komunitas LGBTIQ di Indonesia Meningkat. Apa Alasannya?

2 menit

Jumlah peningkatan masyarakat yang menerima keberadaan komunitas LGBTIQ memang tidak signifikan, tetapi cukup impresif dibandingkan tahun 2013 lalu.

Akhir Juni lalu, sebuah survei mengenai perlakuan masyarakat global terhadap komunitas LGBTIQ ramai diperbincangkan masa.

Survei yang dirilis oleh lembaga penelitian Pew Research Center tanggal 25 Juni, 2020 itu menyomot sekitar 40 ribu orang di 34 negara, dan hasilnya cukup mengejutkan.

Menurut survei tersebut, masyarakat yang tinggal di benua Eropa memiliki peningkatan paling tinggi dibandingkan orang-orang yang tinggal di benua Asia.

Lalu, apa alasan di balik peningkatan tersebut?

Berikut berita selengkapnya.

Masyarakat Dunia Lebih Bisa Menerima Komunitas LGBTIQ di Tahun 2020

statistik komunitas LGBTIQ

sumber: pewresearch.org

Dilansir dari pewresearch.org, masyarakat global kini terbukti lebih toleran dan terbuka mengenai homoseksualitas.

Beberapa negara yang dipantau dari tahun 2002 memiliki peningkatan drastis, seperti Korea Selatan, Afrika Selatan, dan India.

Persentase ketiga negara tersebut sebelumnya tidak melebihi 9%, berbeda dengan tahun 2020 yang mencapai jumlah dua digit.

Survei tersebut juga menjelaskan perubahan drastis yang terjadi di Jepang dan Meksiko selama 17 tahun.

Di tahun 2002, hanya 5 dari 10 yang rela hidup berdampingan dengan kaum LGBT.

Kini, angkanya berubah menjadi 8 dari 10 orang, cukup signifikan untuk negara-negara yang tergolong konservatif.

Persentase terkecil dimiliki Nigeria.

Tercatat hanya 1 dari 100 orang subjek yang merasa tindakan homoseksualitas harus dinormalisasi.

Baca Juga:

5 Kasus LGBT Indonesia Paling Kontroversial | Viralnya Sampai Mendunia!

Perbedaan pendapat ini dilatarbelakangi oleh kondisi politik dan polemik agama.

Perbedaan umur, pekerjaan, pendidikan, dan gender juga memegang peran penting dalam pengambilan survei.

Persentase di Indonesia Naik 2%. Apa Alasannya?

Untuk Indonesia, persentasenya naik sebanyak 2% semenjak tahun 2013.

Sebelumnya, hanya 7% masyarakat Indonesia yang tidak keberatan menerima keberadaan komunitas LGBTIQ di tanah air.

Kini angka tersebut naik ke 9%, mengalahkan Nigeria di 7%.

Walaupun masih terbilang kecil dibandingkan negara lainnya di Asia, seperti Filipina (73%), angka tersebut cukup impresif dan diperkirakan tidak stagnan.

Diwawancara oleh The Jakarta Post, aktivis LGBTIQ, Hartoyo mengungkapkan rasa haru dan harapannya terhadap hasil survey tersebut.

“Meskipun angkanya masih sedikit, saya percaya bahwa 9% orang yang setuju itu adalah pembawa perubahan. Mungkin suatu hari, kita bisa mencapai perbandingan 40:60 di mana 40% suara mendukung LGBT. Tetapi, 40 persen orang itu akan membuat keputusan-keputusan penting untuk negeri ini.” jelas Hartoyo.

Peningkatan ini disebabkan oleh mayoritas rakyat Indonesia yang mulai tergerak dan aktif ketika menghadapi isu-isu progresif seperti toleransi sesama manusia, tidak terkecuali kaum homoseksual.

Walaupun begitu, para pegiat HAM merasa hal ini tidak cukup untuk melindungi komunitas LGBTIQ dari tindakan diskriminasi 91% rakyat Indonesia yang masih mengecam mereka.

“Karena peningkatan kepercayaan publik apabila tidak dibarengi dengan respons yang perlu dan proporsional dari pemerintah sama saja bohong. Tanpa itu, akhirnya tidak akan ada perlindungan yang nyata bagi kawan kawan LGBTIQ,” jelas Tim Kampanye Amnesty International Indonesia (AII), Aldo Marchiano.

Baca Juga:

Aktris Moana Mengaku Biseksual, Ini Deretan 7 Artis Disney Lainnya yang Bergabung ke Komunitas LGBTQA+

Semoga informasi cukup mengedukasi ya, Sahabat 99…

Jangan lupa untuk pantau terus informasi penting seputar properti lewat Berita Properti 99.co Indonesia.

Kamu juga bisa menemukan hunian idaman seperti The Taman Dayu Pandaan langsung di 99.co/id!

Samala Mahadi

Content Writer and all things Basquiat connoisseur.

Related Posts