Agen

Konsumen Enggan Survei Lokasi? Ini Tips Ampuh untuk Para Agen Properti!

< 1 menit

Kamu seorang agen properti? Tentu pernah mendengar tentang teknologi virtual realty. Teknologi yang mampu memberikan gambar suatu tempat secara jelas dengan kacamata 3D. Teknologi ini belakangan banyak digunakan developer atau agen properti untuk memasarkan produknya.

Dengan teknologi ini, calon klien dapat melihat setiap sisi ruang pada unit apartemen ataupun rumah yang hendak dibelinya dari tempat mereka berada. Jadi, mereka tidak perlu jauh-jauh datang ke lokasi properti yang ingin dibelinya. Cukup dari rumah atau kantor, lantas gunakan kacamata 3D, maka semua akan tampak jelas di depan mata.

Akan tetapi layaknya pisau bermata dua, bagi para broker atau agen properti, teknologi ini bisa jadi suatu keuntungan juga sekaligus kerugian. Pasalnya, dengan teknologi ini calon pembeli bisa lebih mudah mengetahui bagaimana gambaran unit yang ingin dibelinya.

Tapi di satu sisi, teknologi ini juga bisa membuat calon konsumen menjadi malas melakukan survei. Lalu ternyata ketika gambar 3D unit yang dilihatnya tidak sesuai dengan aslinya, maka broker lah yang akan ketimpa pulungnya; kehilangan reputasi dan sejenisnya.

Nah, sebagai agen properti yang bijak, dan tentu tidak mau kehilangan reputasi, maka perlu bagi Anda untuk mengetahui bagaimana cara bersikap ketika menemukan konsumen seperti ini. Berikut adalah beberapa tips atau cara memperlakukan konsumen yang enggan melakukan survei itu.




1. Tawarkan Bantuan Pengecekan

Sebagai agen profesional, Anda bisa menawarkan bantuan pengecekan bangunan terhadap calon pembeli. Beberapa klien yang sibuk dan tidak mengetahui seluk beluk properti biasanya akan lebih memilih memercayakan pengecekan propertinya kepada broker.

Cek dengan seksama kondisi bangunan dari sisi eksterior hingga interior. Adakah potensi kerusakan dalam beberapa bulan ke depan? Lantas jika ada, perkirakan berapa biaya renovasi yang dibutuhkan? Pastikan, klien Anda tidak mengalami kerugian setelah membeli rumah.

2. Bujuk Mereka Datang Sebelum Akad Jual Beli

Jika pembeli enggan melakukan survei bangunan, paling minim sekali Anda harus mengajak mereka melihat langsung kondisi bangunan sebelum menandatangani Akad Jual Beli (AJB). Ini untuk menghindari kemungkinan terburuk, yaitu klien menyesal setelah mengeluarkan biaya ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah.

3. Berkomunikasi Secara Aktif

Sebagai seorang broker, Anda bisa membantu klien untuk melakukan interaksi intens dengan pemilik rumah. Komunikasinya tidak perlu bertatap muka, bisa hanya dengan pesan singkat atau telepon saja. Hal ini dilakukan agar calon konsumen semakin yakin dan bisa mengetahui lebih detail kondisi properti yang ingin dibelinya.

Dengan begitu Anda juga bisa mencegah ‘maki-makian’ konsumen jika kelak properti yang dibelinya ternyata tidak sesuai ekpektasi mereka.




Bobby Agung Prasetyo

Senior Content Editor at 99.co Indonesia. Keep up with all things business, economics, and property. Loves video games and heavy metal.
Follow Me:

Related Posts