Berita Berita Properti

Masjid Cipaganti: Pertama dan Tertua di Bandung Utara

2 menit

Masjid Cipaganti memang tak seterkenal Masjid Raya Bandung atau masjid besar lainnya, namun, masjid ini memiliki nilai sejarah yang tak kalah pentingnya.

Keberadaan Masjid Cipaganti tak bisa dilepaskan dari nama besar seorang pengusaha susu terkenal di Bandung asal Italia yaitu PA Ursone.

Beliaulah yang berjasa mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid ini melalui istrinya yang bernama Nyi Oerki.

Tujuan awalnya adalah untuk memfasilitasi umat muslim yang bekerja di perusahaan susu milik Ursone agar lebih mudah dalam beribadah.

Sayangnya, informasi mengenai Masjid Cipaganti ternyata belum banyak diketahui orang, bahkan oleh orang Bandung sendiri.

Padahal, nilai sejarah yang terkandung tak hanya mengenai perjalanan masjid ini, namun juga mengenai konflik politis antara pemerintah dan warganya.

Sejarah Masjid Cipaganti

Masjid yang awalnya bernama Masjid Kaum Cipaganti ini merupakan masjid pertama sekaligus tertua yang dibangun di wilayah Bandung Utara.

Pada saat itu, daerah sekitar merupakan Een Western Enclave atau daerah pemukiman elite khusus bangsa Eropa dan bangsawan pribumi.

Pembangunan Masjid Cipaganti dicetuskan karena saat itu tak ada bangunan yang bisa digunakan oleh kaum muslim di wilayah Bandung Utara untuk melaksanakan kegiatan keagamaan.

Lalu, atas bantuan biaya dari R.A.A. Hasan Soemadipradja ditambah sumbangan dari warga pribumi dibangunlah proyek masjid ini.

Rancangan masjid sendiri dibuat oleh seorang arsitek Belanda ternama di Kota Bandung yaitu Prof. C.P. Wolff Schoemaker.

Baca juga:

7 Gambar Masjid Terindah di Dunia. Mana yang Paling Cantik?

Wolff Schoemaker adalah salah satu arsitek terbaik yang merancang banyak bangunan bersejarah di Bandung seperti Hotel Preanger, Villa Isola, dan Gedung Merdeka.

Masjid Cipaganti tempo dulu hingga kini menjadi pusat kegiatan agama Islam dan bahkan digunakan oleh masyarakat dari daerah Gegerkalong yang cukup jauh.

Arsitektur Masjid Cipaganti

Melihat arsitektur masjid ini sama seperti melihat karya C.P. Wolff Schoemaker lainnya yang khas dan megah.

Desainnya menggabungkan gaya arsitektur Eropa dan Jawa serta memadukan unsur modern dan tradisional di dalamnya.

Unsur khas Jawa dapat dilihat pada penggunaan atap tajug tumpang dua, empat guru di tengah ruangan, dan detail ornamen bunga berukir kaligrafi.

Sedangkan unsur Eropa dapat terlihat dari konstruksi bangunan yang menggunakan kuda-kuda penyangga atap.

Bahkan, lokasi pendiriannya yang terletak di area “tusuk sate” antara Jalan Cipaganti dan Jalan Sastra pun adalah ciri bangunan khas Eropa yang sangat unik.

Tak hanya itu, ornamen keramik yang digunakan adalah buatan Keramich Laboratium (Balai Besar Keramik) dan ornamen kayunya dibuat oleh murid-murid Sekolah Teknik Gemeentelijke Ambachtsschool.

Menjadi Pusat Studi Islam di Bandung Utara

Sejak awal pembangunannya, banyak umat muslim yang menjadikan masjid ini sebagai pusat penyebaran dan pusat studi Islam di daerah Bandung Utara.

Bahkan, para mahasiswa muslim dari ITB pun banyak yang sering mengunjungi Masjid Cipaganti karena lokasinya paling dekat dari ITB.

Sementara pada tahun 1950-an, masjid ini sempat dijadikan markas persembunyian para pejuang kemerdekaan.

Hingga saat ini, Masjid Cipaganti masih sering digunakan sebagai pusat kegiatan dan aktivitas keagamaan khususnya bagi masyarakat di wilayah Bandung Utara.

Baca juga:

50 Tempat Wisata di Bandung yang Wajib Dikunjungi

Bagaimana sahabat 99, tertarik untuk mengunjunginya?

Sekalian saja beli properti di Bandung biar kamu bisa terus tinggal di kota yang nyaman ini.

Coba deh cari propertinya di 99.co/id karena banyak yang menarik, lho!

Elmi Rahmatika

Scribo ergo sum. I write, therefore I am.

Related Posts