Rumah, Tips & Trik

Ingin Membeli Tanah Warisan dengan Aman? Ini 7 Prosedurnya

19 Juli 2019
membeli tanah warisan
4 menit

Tanah yang telah diwariskan tentu dapat diperjualbelikan. Bila sudah berniat membeli tanah warisan, pastikanlah pada sang penjual mengenai beberapa hal. Jangan sampai karena ada pertikaian internal, tanah yang sudah kamu beli malah jadi sengketa di masa depan.

Tanah warisan adalah harta kekayaan seseorang yang sudah meninggal namun, seluruh hartanya jatuh pada para ahli warisnya.

Secara hukum para ahli waris ini terbagi dalam beberapa golongan, maka saat membeli tanah warisan perlu dipastikan, bahwa kamu berhadapan dengan ahli waris sah (sesuai golongannya).

Nah, dalam jual beli tanah warisan, ini memang perkara yang mudah.

Sama saja dengan proses jual-beli pada umumnya.

Hanya saja, perbedaannya ada pada pajak-pajak yang dibebankan kepada penjual karena jual beli tersebut.

Jika pada jual beli biasa, orang yang tercantum di sertifikat tanah hadir untuk menandatangani akta jual beli.

Kali ini jual beli tanah warisan dilakukan penjual yang merupakan ahli waris dari seorang yang telah meninggal dunia.

Untuk itu, akan ada kewajiban membayar pajak waris.

Bagaimana caranya agar membeli tanah warisan aman dan terhindar dari masalah yang tak diinginkan?

Simak yuk beberapa kiat yang dapat kamu ikuti sebelum membeli tanah warisan.

7 Kiat Aman Membeli Tanah Warisan

1. Cek Kelengkapan Dokumen

Seperti halnya membeli properti pada umumnya, kamu wajib memeriksa kelengkapan dokumen atau surat-surat tanah warisan.

Beberapa surat tersebut di antaranya sertifikat kepemilikan, Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), akta jual-beli, surat wasiat, surat hibah, dan surat-surat pendukung lainnya.

Selain itu, wajib mencari tahu benarkah pihak penjual merupakan ahli waris dari pemilik sah tanah tersebut.

Hal ini penting agar kamu tidak tersandung masalah sengketa di kemudian hari.

2. Cari Tahun Siapa Saja Ahli Waris

Kebanyakan ahli waris lebih dari satu.

Itu berarti semu aahli waris harus terlibat dalam menandatangani surat kuasa.

Carilah informasi dari warga sekitar, ketua RT, RW setempat.

Kenali semua identitas para ahli waris karena tidak jarang tanah warisan itu biasa dibagikan untuk beberapa orang.

Pastikan pula sebelum bertransaksi jual beli tanah warisan, sang ahli waris berhak menjual tanahnya.

Namun sertifikat atas nama pewaris bisa diajukan balik nama ke atas nama seluruh ahli waris ke Kantor Pertanahan dengan melampirkan Surat Keterangan Waris (SKW).

Dalam pengajuan balik nama ini tidak ada proses jual beli, peralihan haknya hanya karena warisan atau dalam istilah populer disebut turun waris.

Berikut Syarat-Syarat Pengajuan Balik Nama Turun Waris:

tanah warisan

  1. Identitas diri
  2. Luas, letak dan penggunaan tanah yang dimohon
  3. Tidak ada sengketa di dalam pernyataan tanah
  4. Pernyataan tanah dikuasai secara fisik
  5. Fotocopy identitas pemohon atau para ahli waris seperti KTP atau KK dan surat kuasa yang sudah dicocokkan dengan berkas aslinya oleh petugas loket
  6. Sertifikat asli
  7. Surat Keterangan Waris (SKW) yang sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan
  8. Lembar sertifikat yang asli
  9. Fotocopy lembar SPPT PBB tahun yang sedang berjalan dan telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket

3. Bertemu Langsung dengan Ahli Waris

Sebelum memutuskan membeli tanah warisan, ada baiknya bertemu dengan semua ahli waris yang sah untuk mengetahui identitas mereka.

Selain memastikan keabsahan surat keterangan ahli waris, kamu juga bisa…

…Mencari tahu apakah tidak ada ahli waris yang keberatan dengan transaksi jual beli tanah warisan tersebut.

Baca Juga:

Sertifikat Tanah Warisan: Apa dan Bagaimana Cara Membuatnya

4. Cek Tanah Warisan Secara Langsung

Dalam hal ini tanah yang dibeli harus kamu cek secara langsung.

Cara ini dapat membuat kamu mengetahui lokasi, akses jalan, dan lingkungan di sekitar tanah warisan.

Ada baiknya kamu menggali informasi dari tetangga sekitar mengenai status tanah warisan.

Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah tanah tersebut tidak dalam status sengketa atau justru sudah disita pihak bank.

Jika status tanah warisan meragukan, sebaiknya pertimbangkan kembali keputusan membeli tanah tersebut.

5. Hadirkan Notaris/PPAT

Ketika sudah melakukan survey dan yakin kalau tanah warisan tersebut aman, proses selanjutnya adalah menuntaskan akta jual-beli.

Kamu perlu menghadirkan notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Pastikan kalau tanda tangan akta jual beli dilakukan di depan semua ahli waris dan petugas yang sah.

Bila ahli waris berhalangan hadir, ia dapat memberi surat kuasa kepada perwakilan dengan menyertakan akta notaris secara tertulis untuk mengurus proses jual-beli.

Namun, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang…

…Usahakan agar semua yang terlibat dalam proses jual beli tanah warisan, dapat hadir secara langsung tanpa diwakili.

6. Surat Kuasa Dibuat Atas Sepengetahuan Notaris

Jika surat kuasa yang dimiliki penjual – ahli waris – tidak tertulis atau hanya secara lisan, sebainya jangan beran-berani untuk melakukan transaksi jual beli.

Agar kamu lebih aman dan terjaga di masa depan, surat kuasa dibuat atas seperngetahuan notaris.

Nantinya akan ada identitas seperti stempel ataupun tanda tangan di atas surat kuasa tersebut.

Jika tidak sepengetahuan notaris, undanglah camat atau lurah setempat untuk mengetahui hal tersebut.

Nantinya pihak lurah atau camat setempat akan bertindak selaku saksi.

7. Transaksi Pembayaran Jual Beli Dilakukan Secara Terbuka

Undanglah pejabat pemerintahan setempat seperti Ketua RT, RW, lurah atau camat saat melakukan pembayaran jual beli pada ahli waris di depan PPAT.

Kamu juga harus memastikan kalau masing-masing ahli waris sudah menerima pembayaran.

Apabila jumlah uang yang dibayarkan banyak dan harus transfer via bank, Sahabat 99 mesti membuat bukti penerimaan yang sah.

tanah warisan

Ini dilakukan agar dapat diketahui oleh semua pihak yang hadir dalam proses pembayaran tanah warisan.

Selain itu, tidak ada salahnya untuk melakukan dokumentasi seperti foto dan video.

Mulai dari proses pembelian tanah warisan sebagai bukti bahwa semua prosedur sudah dilakukan sesuai hukum.

Bila semuanya selesai, segera daftarkan sertifikat tersebut paling lambat 7 hari setelah akta jual-beli dibuat.

Baca Juga:

Cara Membuat Sertifikat Tanah Warisan

3 Syarat Sah Perhitungan Pajak Jual Beli Tanah Warisan

1. Pajak Penghasilan (PPH)

Penjual atau orang yang memperoleh penghasilan dan berhubungan dengan hukum diwajibkan untuk membayar PPH.

Besar dari PPH yang harus dibayar adalah sebagai berikut:

5% x Harga Transaksi atau NJOP (mana yang lebih besar)

2. BPHTB Waris (Bea Peroleh Hak Atas Tanah dan Bangunan)

Walaupun proses jual-beli tanah waris tidak ada balik nama atas nama ahli waris, namun, ketika praktiknya ahli waris tetap memperoleh hak tersebut dan wajib membayar BPHTB.

Besar dari BPHTB yang harus dibayar sebagai berikut:

{5% (NJOP – NJOPTKP)} x 50%

Keterangan:

NJOP : Nilai Jual Objek Pajak

NJOPTKP : Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak.

3. BPHTB Pembeli

Besar nilai BPHTB pembeli dapat dihitung seperti proses jual-beli biasa, yaitu:

{5% (NJOP – NJOPTKP)}

Perlu diketahui, tiap masing-masing daerah memiliki nilai NJOPTKP yang berbeda-beda.

Contohnya untuk DKI Jakarta Rp80 juta, sedangkan kota-kota lainnya bisa diketahui dengan menanyakan ke PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) setempat.

Kewajiban membayar pajak-pajak tersebut dibebankan secara proporsional, yaitu BPHTB Waris dan PPH dipikul oleh ahli waris dan BPHTB pembeli ditanggung oleh pembeli.

Sementara itu, biaya akta jual beli bisa dipikul secara bersama-sama oleh penjual dan pembeli atau sesuai kesepakatan.

Berdasarkan AJB, PPAT mengajukan balik nama ke Kantor Pertanahan.

***

Demikianlah beberapa kiat yang dapat kamu lakukan saat hendak membeli tanah warisan.

Semoga bermanfaat ya, Sahabat 99!

Jangan lupa untuk pantau terus informasi penting seputar properti di Blog 99.co Indonesia!

Dapatkan pula properti idaman dengan harga terjangkau dalam situs 99.co/id .

***CYN/BAP

You Might Also Like