Gaya Hidup Kesehatan

6 Obat Darah Tinggi yang Bisa Atasi Hipertensi. Sudah Tahu?

3 menit

Tekanan darah tinggi merupakan kondisi yang tak boleh dianggap sepele. Pasalnya, darah tinggi bisa menyebar dan menimbulkan penyakit yang lebih berbahaya. Untuk mengatasinya, penderita harus mengonsumsi obat darah tinggi.

Perlu diketahui, darah tinggi atau hipertensi bisa menyebabkan komplikasi yang berbahaya, seperti strok dan jantung yang bisa berujung kematian.

Hipertensi bisa menyebabkan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik di atas 90 mmHg.

Dengan begitu, beberapa hipertensi pasti akan membutuhkan bantuan obat darah tinggi agar tekanan darah bisa berangsur normal dan membaik.

Namun, sebelum mengetahui rekomendasi obat darah tinggi, Sahabat 99 perlu mengetahui gaya hidup yang bisa mencegah terjadinya hipertensi.

Berikut uraiannya.

Gaya Hidup yang Bisa Mencegah Darah Tinggi

Mengutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), modifikasi gaya hidup untuk mencegah darah tinggi yaitu seperti berikut:

  • Membatasi asupan garam tidak lebih dari ¼ – ½ sendok teh (6 gram/hari)
  • Menurunkan berat badan
  • Menghindari minuman berkafein
  • Menghindari rokok
  • Melakukan olahraga sebanyak 3-5 kali per minggu
  • Menghindari makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih)
  • Menghindari makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biskuit, keripik, dan makanan kering yang asin)
  • Menghindari makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, kornet, sayuran serta buah-buahan dalam kaleng, soft drink)
  • Menghindari makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, selai kacang)
  • Membatasi konsumsi susu full cream, mentega, margarin, keju mayones, serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi atau kambing), kuning telur, dan kulit ayam
  • Membatasi konsumsi kecap, terasi, saus tomat, saus sambal, dan tauco
  • Menghindari alkohol dan makanan yang mengandung alkohol, seperti durian dan tape

Obat Darah Tinggi

1. ACE Inhibitor

obat darah tinggi

Obat darah tinggi ini bekerja dengan cara menghambat produksi hormon angiotensin, yakni hormon yang dapat menyempitkan pembuluh darah.

Dengan obat ini, otot dinding pembuluh darah akan menjadi relaks dan sedikit melebar, sehingga tekanan pada pembuluh darah bisa berkurang.

ACE inhibitor biasanya diberikan pada pasien berusia di atas 65 tahun atau pasien hipertensi dan pemilik penyakit lain, seperti

  • penyakit jantung;
  • gagal jantung;
  • kelainan ginjal; dan
  • diabetes.

Adapun, contoh obat ACE inhibitor yang sering digunakan adalah sebagai berikut:

  • Captopril
  • Enalapril
  • Lisinopril
  • Perindopril
  • Ramipril

Untuk efek sampingnya sendiri, obat ini bisa menimbulkan batuk kering, sakit kepala, pusing, hiperkalemia, dan ruam kulit.

Obat tekanan darah tinggi yang satu ini juga bisa meningkatkan risiko terjadinya kelainan atau cacat pada janin jika dikonsumsi oleh ibu hamil.

2. Angiotensin II Receptor Blocker (ARB)

Umumnya, ARB mempunyai efek yang hampir sama dengan ACE inhibitor.

Namun, cara kerja kedua golongan obat darah tinggi ini berbeda.

Pasalnya, ARB bisa menghalangi kerja hormon angiotensin yang menyempitkan pembuluh darah.

Dengan begitu, pembuluh darah dapat diperlebar agar sirkulasi darah berjalan lancar sekaligus menurunkan tekanan darah.

Biasanya dokter akan meresepkan obat ini kepada pasien yang tidak cocok dengan obat hipertensi golongan ACE inhibitor.

Adapun deretan obat ARB adalah sebagai berikut:

  • Candesartan
  • Irbesartan
  • Losartan
  • Valsartan
  • Olmesartan

Namun, obat tekanan darah tinggi ini memiliki beberapa efek samping, seperti

  • pusing;
  • sakit kepala; dan
  • peningkatan risiko kematian janin di dalam kandungan.

3. Beta Blockers

obat darah tinggi

Beta blockers diklaim bisa menghambat efek hormon epinefrin atau adrenalin, yaitu hormon yang berperan dalam meningkatkan aliran dan tekanan darah.

Oleh sebab efek tersebut, obat golongan beta blockers dapat membuat jantung berdenyut lebih lambat dan tekanan darah menurun.

Berikut adalah contoh obat beta blockers atau penghambat beta:

  • Atenolol
  • Bisoprolol
  • Metoprolol

Kemudian untuk efek sampingnya, obat ini bisa menimbulkan pusing, sakit kepala, mual, kelelahan, susah tidur, serta sesak napas.

4. Calcium Channel Blocker (CCB)

CCB bisa menghambat jalan masuknya kalsium ke dalam otot jantung dan dinding pembuluh darah.

Dengan begitu, sel-sel jantung dan pembuluh darah otot dapat mengendur dan relaks.

Efek tersebutlah yang membuat tekanan darah menurun.

Contoh-contoh obat CCB, yaitu sebagai berikut:

  • Amlodipine
  • Nicardipine
  • Diltiazem
  • Verapamil
  • Vifedipine

5. Diuretik

obat darah tinggi

Obat ini dipercaya bisa membuang kelebihan air dan natrium dalam tubuh, sehingga jumlah cairan dan garam yang mengalir pada pembuluh darah bisa menurun.

Nah, efek tersebut dapat menimbulkan penurunan tekanan darah.

Berikut adalah contoh-contoh obat diuretik:

  • Furosemide
  • Torsemide
  • Spironolactone
  • Hydrochlorothiazide

6. Nitrat

Obat ini memiliki fungsi melebarkan pembuluh darah.

Dengan mengonsumsi obat ini, aliran darah ke jantung dapat meningkat dan jantung tidak memompa darah lebih kuat.

Adapun, jenis obat-obatan nitrat yaitu sebagia berikut:

  • Isosorbide dinitrate
  • Isosorbide mononitrate
  • Glyceryl trinitrate

Obat darah tinggi golongan nitrat ini bisa menimbulkan efek samping berupa pusing, wajah kemerahan, mual, hipotensi, dan rasa tidak nyaman di mulut.

***

Semoga informasi ini bermanfaat untuk Sahabat 99!

Jangan lupa untuk membaca artikel menarik lainnya di Berita Properti 99.co Indonesia.

Sedang mencari apartemen di Bandung?

Kunjungi 99.co/id dan temukan pilihan menarik, seperti HQuarters Bandung!

Gadis Saktika

Sempat jadi jurnalis politik dan sekarang menulis konten di 99.co Indonesia. Berpengalaman menjadi fans KPOP hingga grup yang diidolakan semuanya bubar. Who's with me?

Related Posts