Berita Berita Properti

Pembangunan Rumah di Masa Pandemi Lebih Menguntungkan, Pengembang Disarankan Tak Bangun Apartemen

2 menit

Pengembang properti dinilai lebih menguntungkan melakukan pembangunan rumah dibanding membangun apartemen di masa pandemi seperti sekarang. Hal itu diungkapkan Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI), Lukas Bong, dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Di masa pandemi Covid-19, sektor bisnis properti memang cukup terpukul.

Namun, hal itu tidak membuat semangat para pengembang surut, terutama para pengembang rumah tapak.

Di sisi lain, sektor rumah pribadi juga dinilai lebih menguntungkan secara bisnis dibanding sektor apartemen.

Pembangunan Rumah Lebih Menguntungkan

pembangunan rumah lebih menguntungkan pengembang

Lukas Bong mengatakan bahwa permintaan akan rumah tapak mendominasi pada sektor bisnis properti.

“Tahun ini didominasi oleh rumah-rumah tapak, ruko atau rukan. Permintaan atau demand-nya masih ada,” kata Lukas, seperti dikutip dari Medcom.id

Dengan situasi itu, Lukas menilai bahwa pengembang pun menjadi kurang berminat untuk membangun hunian vertikal atau apartemen.

Hal ini berbanding terbalik dengan tahun 2019, saat proyek pembangunan apartemen mendominasi pasar di sektor properti.

“Kalau kita bicara 2020 ini, sangat jarang para pengembang atau developer meluncurkan proyek hunian vertikal atau high rise,” kata Lukas.

REI Sarankan Pengembang Tidak Membangun Apartemen

REI sarankan pengembang tidak membangun apartemen

Tren pembangunan rumah yang lebih baik dibanding pembangunan apartemen juga diperkuat dengan pernyataan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Tata Ruang dan Pengembangan Kawasan Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (REI), Hari Ganie, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan bahwa pembangunan apartemen sangat berisiko bagi pengembang di tengah kondisi krisis yang menerpa berbagai sektor bisnis.

Kondisi krisis menyebabkan pengembang harus melakukan efisiensi dalam penggunaan dana dan investasi.

Pembangunan rumah tapak, kata Hari, bisa dilakukan secara bertahap sehingga lebih mudah melakukan efisiensi, tidak seperti ketika membangun apartemen.

“Dalam memitigasi risiko, pengembang tidak boleh spekulatif. Semua harus terukur dan memastikan bahwa pasarnya ada. Saat ini, apartemen adalah produk yang berisiko tinggi,” ujarnya, dikutip dari Realestate.id.

Selain itu, Hari menyarankan pengembang untuk membangun hunian dengan konsep desain pandemi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Misalnya, di tengah pandemi seperti sekarang, masyarakat membutuhkan hunian yang menunjang aktivitas work from home (WFH).

Dengan begitu, pengembang dapat membangun rumah dapat membangun rumah dengan ruang terbuka hijau cukup luas dan ventilasi udara yang baik, sehingga penghuni betah bekerja dalam waktu lama di rumah.

Stimulus dari Pemerintah

Peluang pengembang untuk bermain di sektor pembangunan rumah juga didukung dengan adanya beberapa program stimulus dari pemerintah.

Direktur Kepatuhan Intern Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Yusuf Hariagung, mengatakan bahwa saat ini pemerintah tengah fokus memenuhi target program “Sejuta Rumah”.

Pemenuhan target itu, kata Yusuf, dapat terwujud dengan adanya skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan subsidi selisih bunga.

“Realisasi program sejuta rumah pada 2020 sampai Agustus lalu sekitar 260 ribuan unit. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi Agustus 2019 yang sudah mencapai 600 ribuan rumah,” ujar Yusuf, beberapa waktu lalu, dikutip dari Realestat.id.

Di luar program tersebut, untuk menggenjot pembangunan rumah, pemerintah hanya mengutip PPh final sebesar 1% saja untuk pengembang hunian bersubsidi.

Stimulus lainnya yang dilakukan pemerintah adalah dengan cara menyederhanakan birokrasi.

Untuk mendapat izin, pengembang hanya perlu melewati 11 tahapan, dari yang semula berjumlah 33 tahap.

Selain itu, proses perizinan pun dipercepat, dari semula 981 hari, menjadi 44 hari.

Berkaitan dengan hal tersebut, DPP REI juga berharap agar pemerintah dapat memberikan lebih banyak stimulus untuk pengembang.

Hal ini dibutuhkan agar pengembang dapat bertahan di tengah pandemi.

Hari Ganie juga mengatakan bahwa sektor properti merupakan sektor yang sangat penting karena menggerakkan 174 industri dan memperkerjakan 30 juta tenaga kerja.

“Sektor properti Tanah Air juga masih menyumbang 2,7% dari PDB nasional. Bandingkan di negara-negara tetangga yang bisa menyumbang belasan persen. Kami (REI) berharap sektor properti kita bisa menyumbang setidaknya 10%,” ujar Hari.

***

Semoga informasi ini bermanfaat untuk Sahabat 99 ya!

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di situs Berita Properti 99.co Indonesia.

Kamu sedang mencari rumah di Tangerang?

Bisa jadi Atlanta Village Gading Serpong adalah jawabannya!

Cek saja di 99.co/id untuk menemukan rumah idamanmu!

Theofilus Richard

Penulis konten | Semoga tulisanku berkesan buat kamu

Related Posts