Berita Ragam

Inspiratif, Kisah Pengamen yang Kini Jadi Bos Pabrik Penggilingan Padi. Berawal dari Modal Rp3 Juta!

3 menit

Siapa sangka hidup seseorang dapat berbalik 180 derajat. Seperti yang dialami Nellys Soekidi, seorang pengamen yang kini menjadi seorang bos pabrik penggilingan padi.

Nellys Soekidi sebenarnya hanya seorang pria biasa tamatan sebuah SMA di Ngawi, Jawa Timur.

Seperti kebanyakan orang, Nellys pun ingin merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Namun, ternyata jalan Nellys pun tidak semudah membalikkan telapak tangan, hingga sempat merasakan kerasnya hidup di jalanan.

Yuk, simak kisah inspiratifnya hingga bisa menjadi juragan beras!

Kisah Pengamen Jadi Bos Pabrik Penggilingan Padi

nellys soekidi pengamen jadi bos pabrik penggilingan padi

sumber: Okezone.com/Doddy Handoko

Melansir Okezone.com, Nellys lulus SMA pada tahun 1990 dan langsung merantau ke Jakarta.

“Tujuannya tidak jelas, karena itulah untuk menyambung hidup saya bekerja kasar sebagai pekerja bangunan,” katanya, Kamis (6/5/2021).

Jika proyek bangunan sedang sepi, Nellys terpaksa mengamen di bus kota.

Biasanya, dia mangkal di Blok M untuk mengunggu bus kota yang akan lewat.

Perjalanan hidupnya berubah ketika bertemu seorang teman yang sama-sama berasal dari Ngawi saat mengamen di bus kota.

Saat itu, sang kawan menawari pekerjaan di sebuah toko beras milik bosnya.

Nellys ditawari bekerja untuk mengurus pembukuan toko tersebut.

“Itu terjadi sekitar tahun 1992. Saya diajak untuk bekerja di toko beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Tugasnya mencatat semua pengeluaran dan pemasukan toko, dengan gaji yang masih rendah,” ujarnya.

Beruntung, Nellys terbiasa dengan gaya hidup yang hemat dan selalu tekun dalam bekerja, sehingga dia bisa menabung sedikit demi sedikit.

Akhirnya, setelah satu tahun bekerja, dia bisa mengumpulkan tabungan sebanyak Rp3 juta.

Tidak hanya itu, dia juga memanfaatkan pekerjaannya untuk menjalin relasi dengan berbagai kalangan.

Nekat Berjualan dengan Modal Rp3 Juta

ilustrasi toko beras

sumber: Jawapos.com

Pada tahun 1993, Nelly nekat berhenti bekerja di toko beras tersebut dan berdagang beras sendiri di los pasar.




Dengan modal Rp3 juta, tentu dia tidak mampu untuk berjualan di toko.

Maka dari itu, dia memanfaatkan relasi yang bersedia membantunya.

“Mereka menyimpan berasnya di saya untuk dijual dengan sistem konsinyasi, barang habis baru dibayar,” ujarnya.

Bisnis yang dijalankan Nellys pun semakin maju seiring waktu.

Dalam sehari, dia bisa mendapat pasokan beras sebanyak 15 sampai 20 ton.

Beras tersebut dapat dijual habis dalam waktu dua hari.

Performa yang bagus, membuat banyak pemasok beras semakin percaya dengan Nellys.

“Setelah barang habis, uangnya saya langsung berikan ke pemasok. Saya tidak menunda-nunda pembayaran. Untungnya saya tabung, tidak dipakai konsumtif,” kata Nellys.

Karena gaya hidup yang hemat ini, Nellys bisa mengumpulkan uang dalam waktu cepat.

Dalam waktu lima tahun, dia bisa membeli sebuah kios seharga Rp160 juta.

Kios tersebut pun membantu kelancaran bisnisnya.

Bahkan, ketika telah memiliki kios, gaya hidup Nellys pun tidak berubah banyak.

“Begitu seterusnya sampai saat ini saya bisa membuka beberapa kios lainnya,” ujar pria pemilik Toko Nellys Jaya ini.

Kini, namanya pun terkenal sebagai salah satu pedagang beras terbesar di PIBC.

Dia tercatat memiliki lima kios beras di PIBC dan beberapa di sekitar Jabodetabek.

Beberapa kiosnya berada di Pondok Ungu, Bintara, Kalimalang, Cilodong, Depok, Bintaro, dan Cengkareng.

“Jumlah totalnya ada sekitar 12 toko beras di Jabodetabek. Beras didatangkan dari Garut dan Cirebon,” ungkapnya,” ujarnya.

Berawal dari menjadi pegawai toko beras, kini dia mempekerjakan 34 pegawai di toko beras miliknya.

Berbisnis sambil Melanjutkan Pendidikan

Meski sukses di dunia bisnis, dia tidak pernah mengesampingkan dunia pendidikan.

Maka dari itu, ayah dari dua anak ini melanjutkan pendidikan dengan berkuliah di jurusan manajemen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.

“Memang benar kalau pendidikan mampu meningkatkan kualitas diri saya. Dengan pendidikan, saya semakin terbuka dan semakin jeli dalam melihat peluang,” ujarnya.

Pada 2008, dia mengembangkan bisnisnya sambil melanjutkan usaha.

Dengan modal Rp3 miliar, Nellys membuka penggilangan padi berkapasitas 25 ton di Ngawi, Jawa Timur.

“Pabriknya bisa dibilang skala besar karena mampu menggiling sampai 25 ton sehari dan dibangun di atas lahan 4.000 meter persegi, juga ada gudang penyimpanan berasnya,” ujarnya.

***

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Sahabat 99 ya!

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di portal Berita 99.co Indonesia.

Kalau sedang mencari rumah di Jakarta Utara, bisa jadi Manhattan Residence adalah jawabannya!

Cek saja di 99.co/id untuk menemukan rumah idamanmu!




Theofilus Richard

Penulis konten | Semoga tulisanku berkesan buat kamu

Related Posts