Berita

Polemik Pengusiran Tunanetra dari Panti Wyata Guna, Apa Penyebabnya?

17 Januari 2020
panti wyata guna
3 menit

Tepat di depan Panti Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, puluhan penyandang disabilitas netra telantar di trotoar. Mereka baru saja menjadi korban pengusiran.

Tanpa alas memadai, beratapkan kain tipis dan terpal, mereka berbaring di pinggir jalan.

Saking banyaknya, sebagian terpaksa merangsek ke badan jalan hingga menimbulkan kemacetan.

Mereka adalah anak muda disabilitas netra yang mengalami pengusiran sepihak sejak Kamis (9/1) dari asrama mereka di Panti Wyata Guna.

Para penyandang tunanetra itu pun membuat tenda darurat di depan Panti Wyata Guna sebagai bentuk protes dan unjuk rasa.

Apa perkara yang menyebabkan mereka terusir dari asramanya di Panti Wyata Guna?

Duduk Perkara Pengusiran Penyandang Disabilitas Netra dari Panti Wyata Guna

panti wyata guna

Foto: ARIF HIDAYAH/PR

Perkara bermula sejak Kamis (9/1) ketika lebih dari 30 orang penyandang disabilitas netra diusir secara tak manusiawi.

Kepada IDN Times, Ketua Forum Akademisi Luar Biasa Rianto menjelaskan proses pengusiran yang dilakukan oleh pihak Panti Wyata Guna.

“Kamar kami dibongkar. Barang dikeluarkan. Terus kamar juga disegel sehingga barang menumpuk di luar pintu,” ujarnya, Rabu (15/1).

Akhirnya, sejak Selasa malam (14/1), Dian Wardana (21) salah satu korban pengusiran, bersama 31 rekannya menginap di trotoar tepat di depan Wyata Guna.

“Ini adalah bentuk aksi dan unjuk rasa kecewa kami atas regulasi yang berlaku secara sepihak tanpa pelibatan kami serta secara langsung mencabut hak-hak kami,” tutur Dian kepada Tirto, Rabu (15/1).

Baca Juga:

Akhir Tragis Keraton Agung Sejagat yang Dianggap Sesat & Penuh Kontroversi

Perubahan Fungsi Panti Menjadi Dalih Pengusiran

panti wyata guna

Menurut Dian, pengusiran tersebut adalah buntut dari adanya perubahan fungsi Wyata Guna setelah keluarnya Permensos Nomor 18 Tahun 2018.

Aturan tersebut menerangkan perubahan fungsi Wyata Guna dari panti menjadi balai.

Namanya pun ikut berubah menjadi Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN).

Keluarnya peraturan ini berdampak pada perubahan fungsi serta layanan yang didapatkan oleh para penyandang disabilitas sebagai penerima manfaat.

panti wyata guna

Foto: prfmnews.com

Salah satu dampaknya yaitu adanya pembatasan waktu pelayanan bagi para penerima manfaat menjadi hanya enam bulan saja.

Kepala Balai Wyata Guna, Sudarsono, pun turut menampik adanya tindakan pengusiran kepada para penyandang disabilitas netra.

“Kami ada program transformasi, perubahan status panti menjadi balai. Kami ingin balai rehabilitasi sosial ini berkontribusi secara progresif,” ujar Sudarsono, Rabu (15/1).

“Kami sudah secara persuasif meminta penerima manfaat untuk berinisiatif mematuhi ketentuan.

“Sebab, banyak penyandang disabilitas sensorik netra lainnya yang antre untuk masuk balai dan mendapatkan pelayanan,” terang Sudarsono dalam siaran tertulis, Kamis (16/1).

Belum Ada Solusi Konkret Bagi Para Korban Pengusiran

panti wyata guna

Foto: IDN Times/Debbie Sutrisno

Hingga kini, pihak Panti Wyata Guna, Kemensos, dan Pemprov Jabar masih berusaha mencari solusi bersama.

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Dinas Pendidikan Jabar yaitu membangun sarana pendidikan berkebutuhan khusus.

Sayangnya, pihak Wyata Guna masih tak memberikan solusi yang lebih konkret khususnya mengenai tempat tinggal bagi para mahasiswa tunanetra di sana.

Alhasil, puluhan penyandang disabilitas netra yang mengalami pengusiran tersebut hingga kini masih belum mendapatkan kepastian mengenai nasibnya.

Baca Juga:

Bupati Boven Digoel Tewas dengan Ramuan Jamu Misterius di Kamarnya

Semoga artikel ini bermanfaat ya, Sahabat 99!

Daripada disimpan dan dibaca sendiri, mending share artikel ini ke media sosial yuk.

Jangan lupa bookmark blog 99.co Indonesia untuk informasi menarik lainnya.

Ingin cari properti? Pastikan untuk mencarinya di 99.co/id.

You Might Also Like