Berita Ragam

Inilah Penyebab Soeharto Tak Mau Lagi Bertemu dengan BJ Habibie. Gara-Gara Reformasi?

2 menit

Soeharto dan BJ Habibie memang dikenal begitu dekat. Namun, siapa sangka, dinamika politik era Reformasi membuat hubungan mereka berakhir renggang, hingga Soeharto memutuskan tali silaturahmi mereka. Penasaran dengan kisahnya?

Hubungan Bacharuddin Jusuf Habibie dengan Soeharto memang pernah begitu dekat ketika Soeharto meminta Presiden ke-3 RI itu pulang dari Jerman pada tahun 1973 lalu.

Ketika diminta untuk pulang, Habibie tak pikir panjang dan langsung kembali ke Tanah Air.

Selama di Indonesia, Habibie langsung diangkat sebagai penasihat pemerintah bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi.

Selain itu, Habibie juga diangkat sebagai CEO Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan tiga periode menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Namun, kedekatan Soeharto dan Habibie berangsur hilang di masa Reformasi.

Ya, seperti yang kita tau, pada saat itu kursi presiden yang sebelumnya dipegang Soeharto pun digantikan oleh Habibie.

Sejak itu, Soeharto enggan untuk bertemu dengan Habibie.

Sebagai orang yang pernah dekat, Habibie sudah beberapa kali berupaya untuk menemui atau menghubungi Soeharto. Namun usaha tersebut selalu gagal dan Soeharto akhirnya  meninggal pada 27 Januari 2008.

Lantas, apa yang menyebabkan Soeharto begitu kecewa terhadap sikap Habibie sehingga ia didiamkan?

Penyebab Renggangnya Hubungan Soeharto dan BJ Habibie

1. Soeharto Merasa BJ Habibie Tiba-Tiba Berubah

soeharto dan bj habibie

sumber: liputan6.com

Melansir dari idntimes.com, keengganan Soeharto menemui Habibie diungkap adik tirinya, Probosutedjo, dalam Memoar Romantika Probosutedjo: Saya Dan Mas Harto yang ditulis Alberthiene Endah.

Dikisahkan bahwa pada 20 Mei 1998 malam, Soeharto menerima kabar tentang mundurnya 14 menteri.

Bahkan, Habibie menyatakan bahwa dirinya siap dan sanggup menjadi pengganti Soeharto sebagai Presiden.

Padahal dikabarkan sebelumnya, Habibie merasa tidak sanggup menjadi Presiden, tapi kemudian tiba-tiba menyatakan sanggup setelah 14 menteri meninggalkan Soeharto.

“Hari itu juga dia memutuskan untuk tidak mau menegur atau berbicara dengan Habibie. Kabarnya, malam itu Habibie menghubungi Mas Harto lewat telepon, tapi Mas Harto enggan bicara,” katanya seperti dikisahkan Endah (2010: halaman 594).

2. BJ Habibie Menggantikan Soeharto

Dalam buku yang sama, juga tertulis bahwa Probosutedjo mengenang malam terakhir Soeharto menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Malam itu, Soeharto menyatakan akan mengundurkan diri keesokan harinya, pada 21 Mei 1998.

Saat ditanyai siapa yang akan menggantikan, jawabannya singkat, “Habibie.”

“Habibie menyanggupi?” tanya Tedjo.

Soeharto pun mengangguk dengan tenang dan menjawab, “Tadi dia bilang sanggup. Sudahlah saya ikhlas.”

3. Referendum Timor Timur Membuat Soeharto Murka

bendera timor leste bj habibie

sumber: hops.id

Saat Habibie mengumumkan keputusan referendum terhadap Timor Timur, Soeharto disebut terkejut dan marah.

“Bagaimana dia bisa memutuskan ini! Dia tahu pengorbanan Indonesia yang sangat besar untuk Timor Timur,” kata Tedjo dalam bukunya.

Keputusan Habibie pada Timor Timur yang kini bernama Timor Leste, semakin memperlebar jarak antara Soeharto dan Habibie.

“Mas Harto merasa bahwa keputusan Habibie itu sangat gegabah. Dia juga terlihat lemas ketika mengatakan bahwa dia mengkhawatirkan kondisi Timor Timur jika telah mendapatkan kemerdekaan,” tulis Tedjo.

Menurut Soeharto, Timor Timur dirasa belum siap seutuhnya untuk menjadi negara mandiri.

***

Semoga artikel ini bermanfaat untuk kamu ya, Sahabat 99.

Jangan lupa pantau terus artikel menarik lainnya lewat Berita 99.co Indonesia.

Sedang mencari rumah dijual di Wiyung?

Cek saja pilihannya hanya di 99.co/id.

Gadis Saktika

Sempat jadi jurnalis politik dan sekarang menulis konten di 99.co Indonesia. Berpengalaman menjadi fans KPOP dan sekarang sedang bersenang-senang menjadi NCTzen. Who's with me?

Related Posts