Berita Berita Properti

6 Penyesuaian Penting Bagi Pelaku Bisnis Properti untuk Hadapi New Normal

3 menit

Pandemi corona telah membawa dampak yang begitu besar terhadap banyak sektor, termasuk juga bisnis properti. Para pelaku yang ingin maju dituntut untuk beradaptasi segera.

Era normal baru (new normal) yang tengah disongsong ini bisa menjadi titik balik bagi semua sektor bisnis untuk bangkit.

Namun, dengan catatan semua sektor bisnis harus beradaptasi dan terus berinovasi.

Bagi sektor properti, terutama pengembang dan pelaku bisnis, ada beberapa hal penting yang perlu dipersiapkan untuk menyambut new normal.

Berikut ini beberapa penyesuaian penting yang harus disiapkan agar mampu bangkit dan bertahan di era new normal seperti dikutip dari Detik Finance.

6 Penyesuaian Penting Bisnis Properti dalam Menghadapi New Normal

1. Koreksi Harga Baru dalam Bisnis Properti

harga baru bisnis properti

Berdasarkan laporan Indonesia Property Watch yang dikutip Detik Finance, harga properti saat ini kembali ke harga tahun 2017.

Dengan kata lain, tiga tahun terakhir ini bisnis properti tidak mengalami kenaikan harga.

Jauh perhitungannya bahkan bila mempertimbangkan aspek inflasi.

Koreksi harga ini merupakan bentuk untuk keseimbangan pasar akibat harga properti yang sudah over value.

Jangan heran bila hal ini terus berlangsung hingga muncul keseimbangan pasar yang baru.

2. Penyesuaian Baru Bagi Pengembang

pengembang bisnis properti

Inovasi adalah kunci.

Prinsip ini pun berlaku bagi para pengembang dan pelaku industri properti.

Ke depannya, bukan hanya soal segmen seperti rumah murah atau rumah minimalis yang diutamakan.

Lebih penting lagi, konsumen yang ingin beli rumah mengharapkan sesuatu yang baru.

Oleh karena itu, pengembang dituntut untuk bisa berinovasi dan memenuhi permintaan konsumen terkait hal ini.

Baca Juga:

Dampak Wabah Corona Di Amerika, Miliarder Borong Bunker Antipandemi untuk Selamatkan Diri

3. Penawaran Konsep Produk Baru

produk baru bisnis properti

Kondisi normal baru yang sedang digalakan turut berimbas terhadap perilaku konsumen properti.

Produk rumah murah maupun segmen rumah lainnya dituntut untuk mengedepankan sistem baru yang lebih sesuai.

Misalnya, aspek keamanan tak hanya berkaitan dengan aspek fisik namun juga berkaitan dengan aspek kesehatan.

Otomatis, elemen-elemen hunian lainnya diharapkan untuk mengikuti dan menyesuaikan dengan kondisi terkini.

4. Hadirnya Kebiasaan Baru

Dampak lain dari pandemi corona ini adalah hadirnya sebuah kebiasaan baru.

Kebiasaan baru ini berupa sistem kerja WFH atau bekerja dari rumah (BDR).

Di masa depan, kebiasaan ini pun kemungkinan akan tetap dipertahankan oleh banyak perusahaan.

Alhasil, para pengembang dan pelaku bisnis properti diharapkan lebih adaptif untuk menunjang tren baru ini.

5. Sistem Pemasaran Bisnis Properti yang Baru

Selama pandemi berlangsung, pengembang dan penyedia properti dipaksa beradaptasi dengan sistem digital.

Hal ini pun berlaku untuk sistem pemasaran.

Sistem pemasaran secara digital akan semakin jamak, alhasil proses jual rumah maupun beli rumah bisa diselesaikan secara daring.

Dalam waktu dekat, kemungkinan startup properti akan semakin berkembang.

6. Proses Transaksi yang Lebih Praktis

Selama masa karantina, masyarakat sudah semakin terbiasa bertransaksi secara digital dan mengurangi transaksi tunai.

Hal ini secara tidak langsung juga akan berimbas terhadap bisnis properti.

Konsumen dan penyedia properti tak perlu lagi bertatap muka saat proses jual beli rumah.

Bahkan, proses dengan notaris pun kemungkinan bisa diselesaikan secara daring.

Baca Juga:

Sebelum Olahraga Pakai Masker untuk Cegah Corona, Simak Aturan & Bahayanya Ini!

Semoga artikel ini bermanfaat ya, Sahabat 99!

Daripada disimpan dan dibaca sendiri, mending share artikel ini ke media sosial yuk.

Jangan lupa baca berita properti menarik lainnya hanya di Berita Properti 99.co Indonesia ya.

Berminat investasi properti? Cari saja hanya di 99.co/id!

Elmi Rahmatika

Scribo ergo sum. I write, therefore I am.
Follow Me:

Related Posts