Berita

Perusahaan Indonesia Dipercaya untuk Membangun Istana Presiden Niger

13 Agustus 2018
Istana Presiden
1 menit

Perusahan konstruksi milik BUMN Indonesia, WIKA dipercaya untuk menangani proyek renovasi Istana Presiden Niger. Keikutsertaan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk ini pun semakin memperluas dan menambah portofolio BUMN ini di mancanegara.

Program pembangunan dan renovasi istana presiden ini merupakan bentuk kerja sama kedua negara yang digagas oleh Presiden Niger pada Oktober 2017.

Beberapa waktu lalu, penandatanganan kontrak proyek pembangunan Renovation Presidential Palace Republic Niger pun dihelat.

Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Direktur Operasi Luar Negeri Perseroan, Destiawan Soewardjono dan Chief of Cabinet Republik of The Niger, Ouhomoudou Mahamadou.

Total nilai kerja sama pembangunan infrastruktur negara ini disebut mencapai Rp370 miliar.

Dilansir 99.co dari finance.detik.com, renovasi yang dilakukan WIKA ini baru pembuka saja.

Ke depannya, Indonesia akan memberi dukungan lainnya untuk pembangunan infrastrukur negara yang berbatasan dengan Nigeria ini.

Presiden Niger Mahamadou Issoufou dalam sebuah forum diskusi terbatas mengemukan keinginannya menggandeng WIKA untuk program pembangunan infrastruktur di bidang lainnya.

Beberapa di antaranya ialah pembangunan perumahan rakyat, power plant, hingga rel kereta api.

Hal ini pun menurutnya bisa jadi momentum WIKA untuk memperkuat portofolio di Afrika bagian barat.

Setelah Istana Presiden Niger, WIKA Terus Menembus Pasar Luar Negeri

Proyek renovasi Istana Presiden Niger ini disebut-sebut menjadi jalan masuk WIKA menembus pasar Afrika Barat.

Sejak 10 tahun terakhir, BUMN Indonesia di bidang infrastruktur ini juga telah menginjakkan kaki di Timur Tengah, Afrika Utara, dan juga Asia Pasifik.

Destiawan menyebutkan, salah satu proyek internasional besar yang pernah ditangani WIKA ialah East-West Motorway Project di Aljazair sepanjang 400 km dari 1.260 km di bawah COJAAL.

Sementara itu, WIKA pun telah melakukan kontrak luar negeri sebesar Rp1,099 triliun pada kuartal II 2018.

Destiawan yakin, pada dua hingga tiga bulan ke depan WIKA akan mendapat perolehan proyek baru dari beberapa negara lain.

Negara tersebut ialah Aljazair, Filipina, dan juga Timo Leste.

Ke depannya, WIKA berencana untuk menggarap proyek-proyek di negara lain seperti Angola, Ethiopia, Mauritania, dan Nigeria.

You Might Also Like