Berita Berita Properti

2017: Properti Masih Stagnan Tapi Beberapa Lini Menggeliat

< 1 menit

Dua tahun terakhir properti memang lesu darah. Semua lini, baik apartemen, rumah, komersial ataupun industrial mengalami penurunan dari sisi penjualan. Penurunan penjualan tak hanya dialami sektor properti saja, melainkan hampir semua sektor bisnis pun merasakannya. Ekonomi nasional dan global yang mandek membuat para pebisnis kewalahan meningkatkan penjualan.

Ali Tranghanda, CEO Indonesia Properti Watch memandang, jika hal ini terus berlanjut maka tahun depan properti akan tetap statis. Namun kita semua boleh bergembira karena beberapa bulan terakhir, pemerintah telah memberikan banyak stimulus bagi sektor properti.

Beragam gebrakan, seperti penurunan BI Rate, pelonggaran LTV (loan to value), tax amnesty, peringanan PPh, perubahan suku bunga acuan, hingga diperbolehkannya lagi KPR untuk rumah indeen kedua, ketiga dan seterusnya akan menjadi pelecut kembalinya properti ke titik booming.

“Namun demikian stimulus tersebut harus segera diturunkan dalam bentuk implementasi yang jelas,” kata Ali di laman resmi Indonesia Property Watch.

Pakar yang satu ini kelihatannya benar-benar menyoroti pengaplikasian kebijakan pemerintah. Sebab, menurut ia, selama ini pemerintah hanya gencar membuat kebijakan saja, tapi secara penerapan tidak pernah maksimal. Selalu saja mentah di lapangan.

Namun terlepas dari itu, dirinya tetap berharap, segala kebijakan tadi bisa berimpak bagus untuk sektor properti. “Mungkin tahun depan, di kuartal dua, dampak semua kebijakan ini baru terasa. Apalagi dana repratiasi juga kan baru bisa dipakai setelah bulan maret,” ungkapnya.

“Pasar properti segmen menengah, mulai dari 500 juta – 1 miliar akan menjadi primadona,” katanya menambahkan.

Ali memperkirakan, pasar perumahan dan apartemen di segmen menengah paling memiliki potensi untuk come back. Sementara ritel atau shopping center relatif stabil. Sedang sektor perkantoran belum akan ada pergerakan.

Ekonomi Tanah Air yang baru sampai pada titik bounce back pada kuartal dua nanti, rasanya masih belum berpengaruh signifikan pada sektor perkantoran. Pasalnya, perkantoran akan selalu menjadi lini terakhir yang bergerak setelah sektor properti lainnya berkembang.

Kemungkinan besar, lanjut ia, dana repratiasi hanya akan mengalir deras pada apartemen-apartemen yang ada di kawasan industri. Cikarang mungkin menjadi favorit. “Pasar ekspatriat di sana cukup memikat. Mungkin para wajib pajak akan menginvestasikan dana repratiasinya di sana. Penjualannya bisa meningkat mencapai 10%, bahkan lebih,” ungkapnya memperkirakan.

Sementara untuk sektor perumahan hanya akan meningkat sedikit. Kebanyakan pembelinya masih dari end-user. Belum akan berpengaruh signifikan pada gairah properti. Tapi jika ditanyakan kapan harusnya membeli properti? Ali menjawab, sekaranglah saatnya. It,s time to buy, istilahnya.

“Mumpung properti masih dalam kondisi stagnan, maka potensi keuntungannya masih sangat besar,” tutupnya.

99.co Indonesia

Blog 99.co Indonesia | Ulasan & Berita Seputar Properti Menyuguhkan berita terkini dan artikel seputar properti. Pengemasan eksklusif dengan konten menarik.

Related Posts