Berita Berita Properti

Pengamat Sebut Proyek LRT Milik Jokowi Kurang Efektif dan Terancam Rugi Besar. Alasannya…

2 menit

Pembangunan proyek LRT milik Jokowi ternyata banyak dikritik pengamat karena dianggap tidak efektif. Apa alasannya? Simak saja jawabannya di sini!

Dalam masa kepresidenannya, Jokowi membangun banyak infrastruktur di Indonesia, termasuk Lintas Rel Terpadu Jabodebek atau LRT Jabodebek.

Sayangnya, infrastruktur yang hampir rampung dan akan dibuka pada 17 Agustus 2022 ini ternyata mendapat banyak kritikan dari para pengamat.

Simak kritik para pengamat terkait proyek LRT milik Jokowi di bawah ini!

Alasan Proyek LRT Milik Jokowi Kurang Efektif di Jabodebek

lrt jabodebek tidak efektif

sumber: detik.com

Dilansir dari antaranews.com, Tokoh Masyarakat Transportasi Bambang Haryo membagikan kritikannya terhadap proyek LRT.

Menurut Bambang, LRT adalah proyek yang tidak efektif dan efisien karena tidak akan bermanfaat bagi masyarakat.

Alasan kenapa proyek ini dianggap tidak efektif adalah karena salah fungsi dan penempatan.

Di Indonesia, LRT digunakan sebagai transportasi antarkota, seperti kereta komuter atau Kereta Rel Listrik.

“Padahal kapasitas angkutnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan KRL,” kata Bambang, dilansir dari antaranews.com (13/6/2022).

Bambang menambahkan bahwa tidak ada negara yang menggunakan LRT sebagai angkutan antarkota.

LRT umumnya digunakan untuk menghubungan kawasan tertentu di dalam kota, dengan jarak yang lebih pendek dari MRT dan banyak pemberhentian.

Bambang pun memberi contoh proyek LRT di Singapura yang dibuat di jalur kawasan industri Bukit Panjang 7,6 km, pusat pemukiman Sengkang 10,7 km, dan tempat wisata Panggol 10,3 km.

Berbeda dengan di Singapura yang jalur LRTnya relatif pendek, di Indonesia LRT dibuat sangat panjang, yakni 44,3 km.

Karena jaraknya panjang, tentunya biaya yang dibutuhkan akan menjadi sangat mahal.




Proyek yang Terancam Merugi karena Biaya Terlalu Mahal

lrt jabodebek jokowi

sumber: mediaindonesia.com

Melansir Antara, LRT milik Jokowi ini dibangun sejak tahun 2015 dan telah menelan biaya sebanyak Rp32,5 triliun.

Biaya ini sempat membengkak sebesar Rp2,6 triliun dari prediksi awal, yakni Rp29,9 triliun.

Bambang mengatakan negara terancam merugi besar akibat penyelesaian rangkaian gerbong kereta di 2019 belum bisa dioperasikan.

Hal tersebut membuat pembangunan ini sempat menganggur dan dinilai akan merugikan PT KAI serta calon pengguna LRT.

Faktor lain yang membuat pembangunan proyek LRT milik Jokowi mahal adalah ukuran relnya yang terlalu besar.

Rel LRT Jabodebek sendiri memiliki ukuran 1.435 mm, sedangkan umumnya LRT hanya membutuhkan rel berukuran 1.067 mm.

Belum lagi, jalur LRT dibuat melayang dengan tiang penyangga terlalu besar, sehingga tidak terkoneksi dengan jalur angkutan lainnya, seperti MRT.

“Dengan biaya sebesar Rp32,5 triliun, proyek LRT Jabodebek dinilai tidak ekonomis dan efisien dibandingkan dengan kereta api komuter atau Kereta Rel Listrik (KRL),” kata Bambang.

Bambang menambahkan, dibanding membangun LRT yang mahal dan tidak ekonomis, sebaiknya pemerintah membangun KRL karena jauh lebih murah dan efisien.

***

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Sahabat 99, ya!

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di portal Berita 99.co Indonesia.

Jika sedang mencari rumah di Bandung, bisa jadi Kenari Kebonkopi Alamasri adalah jawabannya.

Cek saja di 99.co.id dan rumah123.com untuk menemukan rumah idamanmu!

Wujudkan hunian idamanmu sekarang juga, karena kami selalu #AdaBuatKamu!




Shafira Chairunnisa

Content Writer
Follow Me:

Related Posts