Berita

Gapura Candi Bentar, Rumah Adat Bali yang Memikat

1 September 2019
rumah adat betawi
4 menit

Rumah adat bali, Gapura Candi Bentar, keindahannya sudah diakui oleh banyak kalangan. Selain indah, rumah adat ini juga memiliki keunikannya sendiri. Selengkapnya dalam artikel ini.

Kekayaan budaya Bali terlihat dari senin arsitektur yang mampu dipertahankan oleh masyarakat sekitarnya.

Selain itu, mereka juga mewarisi adat yang diturunkan turun temurun oleh nenek moyang-nya.

Salah Satuny adalah rumah adat Bali yang bernama Gapura Candi Bentar.

Gapura candi bentar memiliki arsitektur tradisional yang mewarisi bentuk bangunan, struktur, fungsi, dan ornamen yang diwariskan turun temurun.

Ada sebuah persayaratan yang harus dipenuhi dalam pembangunan rumah adat khas Bali ini.

Selain itu, tata cara mendirikan rumahnya pun dilakukan dengan berbagai ritual khusus.

Mewarnai bangunannya juga tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Namun, bukan berarti kamu tidak bisa meniru gaya desain rumah adat Bali ini.

Kamu tetap dapat menggunakan desain atau bentuk rumahnya dengan terlebih dahulu mengetahui beberapa unsur penting di bawah ini.

5 Unsur Penting dalam Gapura Candi Bentar, Rumah Adat Bali

rumah adat bali

Sumber: rumahulin.com

1. Pembagian Ruang

Aturan penempatan lahan yang ada di Bali ternyata selalu diatur dalam kitab suci Weda yang dikenal dengan Asta Kosal kosali.

Nah, rumah adat di Bali dipandang sebagai miniature alam semester (bhuana agung) yang menjadi tempat aktivitas manusia (bhuana alit).

Rumah adat Bali terbagi menjadi dua bagian yaitu, Gapura Candi bentar sebagai rumah adat dan rumah biasa sebagai hunian.

Selain itu, letak bangunan, arah, desain, dimensi pekarangan, kontruksi, dan struktur harus dibuat berdasarkan aturan khusus yang sudah ditetapkan.

Sudut utara dan timur dianggap sebagai tempat yang lebih suci dibandingkan dengan sudut barat dan selatan.

Itulah alasan kenapa tempat sembahyang didirikan di sudut utara dan timur rumah.

Namun, kamar mandi, tempat menjemur, dan ruang-ruang lain ditempatkan di sudut barat dan selatan.

2. Bangunan Gapura Candi Bentar

Bangunan rumah adat gapura candi batur ini dicirikan dengan dua bangunan candi yang berdiri sejajar dan digunakan sebagai pintu masuk utama.

Gapura masih terhubung dengan pagar besi dan anak tangga di bagian bawah meski bangunan terpisah satu sama lain.

Baca Juga:

7 Keunikan Rumah Adat Baileo yang Wajib Diketahui!

3. Material dan Bangunan Rumah

Selain gapura candi bentar, terdapat rumah adat berupa kawasan berbentuk segi empat.

Bangunan dikelilingi oleh tembok besar yang memisahkan lingkungan dalam dengan bagian luar rumah.

Biasanya, material bangunan yang dipakai untuk membangun suatu rumah adat Bali tidak bisa disamakan dengan yang lain/

Hal ini karena pengaruh dari tingkatan ekonoi dan status sosial pemiliknya.

Sedangkan untuk masyarakat biasa, bagian dinding rumahnya biasa dibangun dengan speci yang dibuat dari bahan tanah liat atau popolan.

Sementara sisi golongan bangsawan, biasa memakai tumpukan bata.

Bahkan atapnya sendiri dibuat dari bahan genting tanah, ijuk, alang-alang, ataupun sejenisnya.

Asalkan sesuai dengan kemampuan dan finansial dari pemilik rumah.

4. Filosofi Makna Rumah Adat Bali

Rumah adat Bali ini terkandung dalam beragam unsur filosofis yang menggambarkan kearifan lokal budaya dari masyarakatnya.

Seperti, gapura canda bentar dibuat dengan serangkaian proses yang panjang.

Mulai dari proses nyikut karang atau mengukur tanah, ritual nasarin atau meletakkan batu pertama, proses pembuatan, hingga ditutup dengan upacara selametan dan tarian adat Bali.

Semua ritual itu, sebenarnya dilakukan dengan niat agar rumah yang telah didirikan bisa memberikan manfaat yang baik untuk pemilik rumah.

5. Bagian-Bagian Rumah Adat Gapura Candi Bentar

rumah adat bali

Sumber: rumahulin.com

Dalam pembuatannya, arsitek rumah adat Bali atau disebut Udagi harus bepedoman pada aturan tertentu hingga menghasilkan bagian-bagian rumah yang seragam.

Diantaranya adalah:

  • Angkul-Angkul

Angkul-angkul pada rumah adat Bali berfungsi sebagai pintu masuk utama menuju ke dalam rumah.

Pada angkul – angkul ini mempunyai atap yang menyatukan kedua sisinya.

Atapnya juga menyerupai piramida, bagian ini terbuat dari rumput kering.

  • Aling-Aling

Aling-aling adalah sebuah pembatas antara angkul-angkul dengan pekarangan.

Jika kamu masuk ke bagian halaman rumah adat Bali akan ditemukan sebuah bangunan aling-aling.

Bangunannya menyerupai pos ronda kecil yang biasa ditemukan di pekarangan depan rumah.

Aling-aling berguna untuk melakukan aktivitas pemilik rumah seperti, mengukir patung, mempersiapkan alat upacara adat, ataupun sekedar bersantai.

Biasanya aling-aling ini selalu di kelilingi oleh tembok pembatas yang disebut penyeker, yang merupakan sebuah simbol untuk membatasi aura negatif dan positif.

  • Sanggah atau Pamerajan

Tempat suci yang biasanya ada di sudut timur laut rumah. Fungsinya sebagai tempat berdoa dan sembahyang.

Pamerajan atau sanggah adalah tempat suci untuk seluruh orang rumah yang ada di sudut, tepatnya timur laut.

Bangunan ini merupakan bangunan suci yang disakralkan karena penghuni rumah tersebut kerap melakukan upacara sembahyang atau melakukan dia harian di bangunan ini

Sebagai mana yang sudah kita ketahui bahwa kebanyakn mayoritas masyarakat Pulau Bali adalah pemeluk Agama Hindu.

  • Bale Meten

Bale Meten atau Bale Daja ini adalah ruang tidur untuk seorang kepala keluarga, anak gadis, atau pasangan yang baru saja menikah.

Bale meten memiliki bentuk pesergi panjang.

Bagian ini terbuat dari dua bale yang ada di bagian kiri dan kanan ruangan.

Bale Daja dapat memakai  sesaka atau tiang dari bahan kayu yang memiliki jumlah 8 atau sakutus, dan 12 atau saka roras.

Bebaturan atau dibagian bawah bale juga dibangun lebih tinggi dari tinggi pekarangan serta menjadi bangunan paling tinggi pada rumah adat Bali.

Selain berguna untuk estetika, hal ini juga dimaksud untuk menghindari terjadinya suatu resapan air tanah.

  • Bale Dauh

Ada dua sebutan yang sering digunakan oleh masyarakat bali pada bangunan ini, yaitu Bale Dauh atau Bale Tiang Sanga.

Nama keduanya digunakan karena bangunan ini memiliki 9 (sanga) tiang. Rumah adat ini merupakan sebuah bangunan yang khusus untuk menerima tamu.

Bentuknya dihiasi dengan kayu yang diukir sedemikian rupa.

Bangunan ini biasanya dibangun di sebelah Barat dengan bentuk pesergi panjang dan dilengkapi dengan beberapa patung disudut ruangan.

Biasanya digunakan sebagai tempat untuk bekerja, menggelar pertemuan, dan tempat tidur anak laki-laki.

  • Bale Sekapat

Bangunan bale sekapat yang ada dalam rumah adat Bali memiliki bentuk yang khas seperti, segi empat dengan atap limasan.

Serupa dengan gazebo, bale sekapat mempunyai 4 tiang untuk paviliun,kamar anak, dan ruang bersantai.

  • Bale Dangin

Bangunan ini digunakan untuk tempat upacara adat dan istirahat.

Tapi jika sedang tidak dipakai, maka akan dipakai untuk tidur atau tempat beristirahat.

rumah adat bali

Sumber: superadventure.com

Bale dangin memiliki sesaka atau tiang berjumlah enam, delapan, bisa juga 9.

Bahkan ada yang hanya terdiri dari satu bale saja.

Bebaturan di Bale Dangin ini mempunyai lantai yang memiliki ketinggian tertinggi kedua setelah Bale Meten.

  • Paweregen

Paweregen atau paon adalah ruang dapur untuk mengolah masakan yang terbagi menjadi 2 area yaitu, ruang terbuka dan tempat penyimpanan makanan serta peralatan dapur.

Paweragan ini merupakan sebuah bangunan yang selalu ada pada setiap rumah adat Bali.

  • Jineng atau Klumpu

Terakhir, ruangan yang ada pada rumah adat Bali, Gapura Canda Bentar adalah jineng atau klumpu.

Jineng ini sebagai ruangan tempat menyimpan bahan makanan pokok yang terdiri dari 2 lantai.

Lantai atas untuk menyimpan padi kering, sementara lantai bawah ada bale untuk menyimpan padi yang belum kering.

Jineng merupakan sebuah bangunan untuk tempat menyimpan gabah dan padi, masyarakat Bali mengenal bangunan ini dengan sebutan Klumpu.

Ukuran bangunan ini biasanya sama dengan Bale Sekepat, tidak terlau kecil namun tidak terlalu besa.

Masyarakat Bali biasanya menyimpan gabah dengan dua tempat, di kolong untuk gabah yang masih basah dan di atas untuk gabah yang sudah kering.

Baca Juga:

40 Gambar Rumah Adat yang Ada di Seluruh Indonesia

Semoga informasi di atas bermanfaat untukmu, ya!

Jangan lupa temukan update-an terbaru seputar properti dalam Blog 99.co Indonesia

Temukan properti yang kamu cari hanya di situs 99.co/id .

You Might Also Like