Berita

Dikenal Kaya Raya, Hari Darmawan Lebih Senang Tinggal di Rumah Sederhana Ini

3 menit

Pendiri ritel Matahari Grup, Hari Darmawan ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di Sungai Ciliwung, Kabupaten Bogor pada 10 Maret 2018. Hari diduga terpeleset sehari sebelumnya dan terbawa derasnya arus sungai. Pria yang wafat dalam usia 77 tahun ini pun telah dikremasikan pada 14 Maret 2018.

Awalnya ada dugaan bahwa Hari merupakan korban pembunuhan, namun hal ini terbantahkan karena tidak ditemukannya tanda kekerasan.

Dilansir dari regional.kompas.com, hasil visum menunjukkan bahwa tubuh Hari mengalami luka-luka akibat goresan dan benturan batu sungai.

Jasad Hari Darmawan Ditemukan 100 Meter dari Rumah

Pihak kepolisian setempat hingga saat ini masih mendalami penyebab sebenarnya di balik wafatnya Hari.

Dugaan sementara, pada Jumat malam (9/3/18) Hari disebut mengunjungi rumah peristirahatannya yang berada persis di samping bantaran Sungai Ciliwung.

Menurut keterangan, ia kemudian meminta sopirnya untuk mengambil minum di mobil.

Saat kembali bersama air minum yang diminta, Hari tak dapat ditemukan di sekitar rumah tersebut.

Penyisiran daerah sekitar pun langsung dilakukan, namun hasilnya nihil.

Pada keesokan harinya, pencarian dilanjutkan dan sekitar pukul 06.00 WIB, Hari Darmawan ditemukan sekitar 100 meter dari rumah peristirahatannya dalam kondisi meninggal dunia.

Jenazah Hari Darmawan langsung dibawa ke rumah, lalu dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk keperluan visum.

Setelah disemayamkan beberapa waktu di Bogor, tubuh Hari pun diterbangkan ke Denpasar, Bali untuk dikremasi.

Sosok Bersahaja yang Memilih Tinggal di Rumah Sederhana

Semasa hidupnya, Hari Darmawan dikenang sebagai bos yang ramah dan tak canggung menyapa para bawahannya.

Bukan hanya pada bawahannya di Matahari Grup, namun juga pada masyarakat sekitar rumah peristirahatannya berada.

Hal ini diakui oleh sekretaris desa setempat bernama Jejen seperti yang dilansir dari indopress.id.

Jejen mengenang Hari sebagai orang yang suka bergaul dengan masyarakat sekitar.

Hari pun dikenal sebagai orang yang tidak sungkan untuk membantu. Itu mengapa masyarakat sekitar sangat akrab dengan Hari.

Kesederhanaan Hari bukan hanya terpancar dari diri, namun juga rumah yang dimilikinya.

Rumah peristirahatan di Celember, Kabupaten Bogor yang sempat Hari kunjungi sebelum meninggal pun cukup menjelaskan kesan tersebut.

Berdasarkan laporan indopress.id, rumah tersebut memiliki desain yang biasa saja, sama seperti rumah-rumah pada umumnya.

Tidak ada dinding yang berlapis wallpaper mahal, begitu pula lantainya yang hanya menggunakan keramik putih yang sudah sangat umum.

Tak banyak pula barang yang ada di dalam rumah tersebut, hanya sofa, meja, dan beberapa kursi.

Disebutkan Jejen, Hari membeli rumah tersebut pada tahun 2010 dan merenovasinya empat tahun kemudian.

Saat Hari hilang, sempat ditemukan tapak alas kaki yang disinyalir merupakan milik Hari.

Berita hilangnya pendiri Taman Wisata Matahari di Bogor ini pun didengar masyarakat yang langsung berduyun-duyun mendatangi rumah tersebut.

Rumah tersebut secara kilat menjadi perhatian warga sekitar dan juga warganet.

Rumah peristirahatan milik Hari itu pun kini telah diamankan kepolisian dengan memasang police line di pagar depan.

Tidak banyak yang tahu, walaupun Hari merupakan pengusaha kaya, ia juga punya sebuah rumah sederhana di Bogor dan memilih tinggal di sana.

Diketahui, rumah tersebut terletak tidak jauh dari Taman Wisata Matahari yang ia dirikan.

Dikutip dari banjarmasin.tribunnews.com, dalam suatu wawancara Hari pernah mengatakan bahwa ia merasa kerasan di sana karena bisa dekat dan membantu anak buahnya.

Selain itu ia mengatakan bahwa bermodal tempat tidur yang baik serta suasana yang tenang dan menyenangkan sudah cukup baginya.

Abu Kremasi Hari Darmawan Masih Disimpan Keluarga

Setelah sampai di Denpasar, jenazah Hari dibawa ke rumah duka Kertha Semadi, Denpasar.

Acara ini bukan hanya dihadiri oleh keluarga, namun juga ratusan karyawan Matahari dan kolega bisnis yang berkabung atas kepergiannya.

Setelah dilakukan doa dan juga penaburan bunga, pria yang lahir di Makassar ini dikremasi dengan didampingi pihak keluarga.

Abu kremasi Hari ternyata tidak langsung dilarung ke laut karena bertepatan dengan pekan ibadah umat Hindu yang tengah menyambut hari Nyepi.

Disebutkan, saat perayaan penyambutan tersebut digelar, aktivitas di laut menjadi padat.

Itu sebabnya, abu kremasi Hari masih disimpan oleh keluarga hingga waktu yang dianggap tepat.

Tiara Syahra Syabani

Seorang jurnalis/editor kemudian beralih profesi menjadi content dan copywriter. Pecinta buku komik Hai, Miiko! Senang traveling dan makan makanan gurih. Beri saya masukan dengan meninggalkan komentar :)
Follow Me:

Related Posts