Hukum

Mau Memajang Kepala Hewan di Rumah? Awas Kena Sanksi Pidana Berat!

3 menit

Pernahkah kamu melihat ada yang memajang kepala hewan di rumahnya? Sekilas, hal tersebut mungkin tampak keren, tapi itu adalah hal terlarang dan bisa membuat kita mendapatkan hukuman pidana, lo!

Memajang hiasan adalah sebuah hal yang pasti dilakukan oleh siapa pun yang memiliki hunian baik itu di apartemen, kos-kosan, kontrakan, ataupun rumah pribadi.

Pilihan hiasan yang dapat dipajang pun sangat beragam, mulai dari karya seni, foto keluarga, hingga berbagai macam benda unik yang berkaitan dengan hobi atau minat pribadi.

Nah, biasanya, kepala hewan juga termasuk salah satu pajangan yang ada di dalam rumah, terutama di rumah-rumah warga kelas ekonomi menengah ke atas.

Sepintas, tidak ada yang salah dengan hal tersebut, kan?

Tapi, tahukah kamu bahwa kepala hewan adalah pajangan terlarang dan termasuk pelanggaran hukum?

Jadi, siapa pun yang punya pajangan kepala hewan di rumahnya bisa dipidanakan dan mendapatkan hukuman, lo!

Yuk, simak penjelasan kenapa memajang kepala hewan termasuk tindakan pidana pada ulasan di bawah ini.

Memahami Jenis Satwa sesuai Aturan Hukum di Indonesia

jenis satwa menurut hukum indonesia

Aturan hukum di Indonesia tidak hanya memberikan perlindungan bagi manusia, tetapi juga bagi satwa dan tumbuhan yang hidup di dalamnya.

Menurut hukum Indonesia, satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat dan/atau di air, dan/atau di udara.

Penjelasan ini tercantum dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU 5/1990).

Dalam Pasal 20 ayat (1) UU 5/1990, dijelaskan pula bahwa tumbuhan dan satwa terbagi dua kategori:

  1. Tumbuhan dan satwa yang dilindungi;
  2. Tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi.

Hewan apa saja yang termasuk dilindungi?

Rincian lengkapnya ada dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Beberapa contoh hewan yang dilindungi misalnya harimau sumatera, harimau jawa, rusa bawean, orang utan, badak jawa, banteng, kerbau pendek, penyu hijau, dan masih banyak lagi.

Meski tergolong hewan yang dilindungi, masih ada saja yang menjadikan anggota tubuh dari hewan-hewan tersebut sebagai pajangan.

Larangan Memajang Kepala Hewan yang Dilindungi

larangan memajang kepala hewan dilindungi

Selain menjelaskan soal kategorisasi satwa, UU No. 5 Tahun 1990 pun secara jelas membahas mengenai larangan apa saja yang berkaitan dengan hewan dilindungi.

Pada Pasal 21 Ayat 2 misalnya, terdapat poin-poin terkait larangan terkait satwa di Indonesia yang harus ditaati oleh setiap orang.

Sementara itu, aturan khusus mengenai memajang bagian tubuh hewan (dalam hal ini biasanya kepala) ada pada Poin (b) dan Poin (d) Pasal 21 Ayat 2.




Berikut isi dari kedua poin tersebut:

b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.

d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

Pada kedua poin tersebut, terlihat dengan jelas bahwa memiliki atau menyimpan (termasuk memajang kepala hewan) hewan yang dilindungi dalam keadaan mati pun tidak diperbolehkan.

Hukuman Pidana Jika Memajang Hewan Dilindungi di Rumah

hukuman memajang kepala hewan

Jika ada aturan hukumnya, sudah pasti ada pula hukumannya.

Lantas, apa hukuman bagi orang yang terbukti dengan sengaja menyimpan dan memajang kepala atau bagian-bagian tubuh hewan dilindungi?

Tidak main-main, hukuman bagi seseorang yang melakukan pelanggaran Pasal 21 di atas adalah sanksi pidana!

Secara khusus, rinsian sanksi pidananya pun tercantum pada Pasal 40.

Jika pelanggaran dilakukan atas dasar lalai atau tidak tahu, maka pelakunya akan dikenakan hukuman yang tercantum pada Ayat (4), yaitu:

“Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).”

Selanjutnya, jika seseorang sudah mengetahui adanya aturan terkait hewan langka dan masih melakukan pelanggaran, tentu hukumannya pun lebih berat.

Pada Ayat (2) tertulis:

“Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).”

Jadi, kini sudah tahu ‘kan kalau kita tidak boleh memajang atau memiliki bagian tubuh dari hewan yang dilindungi?

***

Semoga informasinya bermanfaat ya, Sahabat 99.

Simak artikel menarik lainnya di portal Berita 99.co Indonesia.

Kamu sedang mencari properti untuk investasi masa depan?

Kunjungi 99.co/id dan temukan hunian impianmu.

Ada beragam pilihan properti menarik seperti Perumahan Oma Indah Kapuk.




Elmi Rahmatika

Writer/Editor/Content Strategist with years of experience in Content Writing and SEO Writing. I enjoy writing about property, lifestyle, and pop culture.
Follow Me:

Related Posts