Berita Ragam

Menulusuri Sejarah Permukiman Tionghoa di Kota Bandung. Apakah Dipengaruhi Feng Shui?

4 menit

Rekam jejak sejarah permukiman Tionghoa di Bandung cukup unik karena cukup berbeda jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia. Yuk, simak ceritanya di bawah ini.

Saat ini masyarakat etnis Tionghoa sudah hidup membaur dengan masyarakat etnis lainnya yang tinggal di Bandung.

Berdasarkan catatan sejarah, kehidupan komunitas Tionghoa di Bandung memang sedikit unik dibanding beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Salah satu keunikannya adalah permukiman masyarakat Tionghoa di Bandung relatif menyebar ke beberapa titik, tidak terpusat di satu titik.

Kenapa bisa begitu?

Mari kita simak sejarah permukiman Tionghoa di Bandung berikut ini!

Awal Mula Kedatangan Masyarakat Tionghoa ke Bandung

sejarah permukiman tionghoa di kota bandung

sumber: komunitasaleut.com

Untuk mendapat cerita lengkap mengenai sejarah permukiman Tionghoa di Kota Bandung, 99.co Indonesia menghubungi Ariyono Wahyu Widjajadi, seorang pegiat Komunitas Aleut.

Sebagai informasi, Komunitas Aleut adalah komunitas pencinta sejarah di Kota Bandung.

Salah satu aktivitasnya adalah menelusuri rekam jejak berbagai sejarah di Kota Bandung melalui berbagai sumber.

Kepada 99.co Indonesia, Ariyono menceritakan bahwa kedatangan masyarakat etnis Tionghoa ke Bandung tidak lepas dari pemindahan pusat Ibu Kota Kabupaten Bandung pada masa kolonial.

Pada tahun 1810, pusat pemerintah yang semula di Dayeuh Kolot dipindahkan ke tempat yang saat ini dikenal sebagai Jalan Asia-Afrika.

Saat itu, pemerintah kolonial membangun sejumlah gedung untuk mendukung daerah tersebut menjadi pusat ibu kota, semisal Masjid Agung, Pendopo, Pesanggrahan, dan lain-lain.

Nah, gelombang pertama kedatangan masyarakat Tionghoa terjadi pada tahun 1825.

Saat itu, sekelompok masyarakat Tionghoa datang dari Cirebon ke Bandung dipimpin oleh seorang mandor bernama Babah Tamlong.

jalan asia afrika tempo dulu

sumber: disparbud.jabarprov.go.id

Ariyono mengatakan, latar belakang masyarakat Tionghoa tersebut berasal sebuah daerah di China bernama Konghu.

Kedatangan masyarakat Tionghoa ini adalah untuk bekerja sebagai kuli untuk beberapa proyek pembangunan pemerintah kolonial.

Selain itu, kedatangan masyarakat Tionghoa ke Indonesia, khususnya Bandung, dipengaruhi juga oleh keruntuhan Dinasti Qing di akhir abad 19.

Setelah dinasti tersebut runtuh, banyak orang Tionghoa meninggalkan China dan pergi ke berbagai negara, salah satunya adalah Indonesia.

Sejarah Permukiman Tionghoa di Bandung

sejarah permukiman Tionghoa di Kota Bandung

sumber: disparbud.jabarprov.go.id

Setelah kedatangan gelombang masyarakat Tionghoa yang dipimpin Babah Tamlong tersebut, barulah terbangun permukiman Tionghoa di Kota Bandung.

“Kemudian, beberapa keluarga tukang ini bermukim di timur pesanggrahan, yang kemudian menjadi lokasi Hotel Preanger,” kata Ariyono, ketika dihubungi 99.co Indonesia pada Selasa malam (4/5/2021).

Kedatangan Babah Tamlong ini juga yang akhirnya menjadi cikal bakal penamaan “Jalan Tamblong” yang lokasinya tidak jauh dari Hotel Preanger.

Uniknya, saat itu sejumlah warga keturunan Tionghoa lebih memilih tinggal di sebelah barat pusat Kota Bandung.

Beberapa di antaranya adalah di Jalan Pecinan Lama (sekitar Jalan Banceuy), sekitar Jalan Cibadak, Jalan Kelenteng, dan sekitar Kecamatan Andir.

“Enggak seperti di kota lain, semisal di Batavia, (permukiman Tionghoa terpusat) di daerah Glodok. Kalau di Bandung relatif enggak ada pecinan yang kasat mata bisa dilihat,” ujarnya.

Saat ini, memang kita bisa melihat banyak permukiman Tionghoa di sejumlah titik yang berdekatan seperti di Jalan Cibadak, Jalan Sudirman, Jalan Andir, Jalan Kelenteng, dan Pasar Baru.

Sampai sekarang, kita masih bisa melihat beberapa bangunan ruko dengan arsitektur khas Tionghoa.

Bahkan, di Jalan Cibadak, kita bisa melihat sebuah gapura dengan gaya desain khas oriental berdiri kokoh.

Melansir komunitasaleut.com, pegiat Bandung Heritage Sugiri Kustedja, menyebut bahwa 95% warga yang tinggal di sekitar Jalan Cibadak adalah masyarakat keturunan etnis Tionghoa.

Namun, menurut Ariyono, hal tersebut tidak membuktikan bahwa permukiman etnis Tionghoa di Bandung terpusat di satu titik.

“Di Cibadak memang banyak rumah orang Tionghoa, tetapi kalau disebut itu pecinan di Bandung, menurut saya kurang tepat, karena buktinya (tempat tinggal orang Tionghoa) menyebar,” ujarnya.

Dia juga menceritakan bahwa zaman dulu, banyak jalan yang menggunakan nama Tionghoa.

Salah satu contohnya, terdapat sebuah gang yang dulunya diberi nama Gang Tan Joen Liong di Jalan Baranangsiang dan Gang Tan Sim Tjong di sekitar Jalan Jenderal Sudirman.

Alasan Tidak Ada Pecinan Resmi di Kota Bandung

Bangunan berdesain oriental di Kota Bandung

sumber: komunitasaleut.com

Umumnya, di beberapa daerah di Indonesia, permukiman Indonesia dipusatkan di satu titik.

Melansir komunitasaleut.com, setidaknya ada dua dugaan alasan lahirnya permukiman khusus etnis Tionghoa.

Alasan pertama adalah keinginan masyarakat Tionghoa untuk hidup berkelompok sehingga lebih mudah saling membantu.

Alasan kedua adalah alasan politik pemerintah Hindia Belanda yang ingin mengonsentrasikan masyarakat Tionghoa di satu titik agar lebih mudah diatur.

Saat itu, kedekatan warga lokal dengan masyarakat etnis Tionghoa dianggap dapat membahayakan keamanan pemerintah Hindia Belanda.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa permukiman masyarakat Tionghoa di Kota Bandung tidak terlalu terpusat seperti di kota lain.

Hal ini disebabkan, saat kedatangan masyarakat Tionghoa, Kota Bandung masih seumur jagung, belum setua Batavia atau Semarang.

Dengan begitu, peraturan pemusatan masyarakat etnis Tionghoa di Bandung hanya berlaku sebentar, karena keburu tergantikan oleh peraturan baru.

Peraturan baru inilah yang memungkinkan masyarakat etnis Tionghoa tinggal di luar pecinan.

Permukiman Tionghoa Pasca Bandung Lautan Api

bangunan bernuansa oriental di Bandung

sumber: komunitasaleut.com

Sedikit perubahan peta permukiman masyarakat Tionghoa juga terjadi setelah peristiwa Bandung Lautan Api.

Peristiwa Bandung Lautan Api berawal dari ultimatum pasukan sekutu pada November 1945 yang memerintahkan agar tentara dan rakyat mengosongkan wilayah Bandung Utara.

Namun ultimatum tersebut tidak digubris, hingga pasukan sekutu kembali mengirim ultimatum pada 17 Maret 1946.

Singkat cerita, Kolonel AH Nasution memimpin rakyat untuk membumihanguskan Bandung dan mengungsi ke daerah selatan Bandung.

Setelah itu, Bandung utara ditempati oleh sekutu, sedangkan Bandung bagian selatan ditempati pejuang dan rakyat pribumi.

Pada saat eksodus besar-besaran itu terjadi, sejumlah masyarakat Tionghoa memilih tidak mengikuti eksodus tersebut.

Mereka memilih tetap tinggal di kawasan utara Bandung.

“Mereka kemudian banyak diinfokan menempati bangunan yang ditinggalkan,” ujar Ariyono.

Setelah kondisi Indonesia mulai kondusif dan kedaulatan negara sudah diakui dunia, sejumlah warga Bandung yang tadinya mengungsi pun kembali ke tempat asalnya di bagian utara Bandung.

Namun, ternyata kepulangan ini bukannya tanpa masalah.

Pasalnya, sejumlah masyarakat Tionghoa yang tidak ikut mengungsi tersebut menempati bangunan yang ditinggalkan dan mengklaim telah menjadi milik mereka.

Sementara, warga yang sebelumnya mengungsi pun merasa memiliki hak yang sama.

Akhirnya sengketa kepemilikan lahan dan bangunan pun sempat terjadi di beberapa tempat.

Masyarakat Tionghoa Mengikuti Fengshui?

kelenteng jalan cibadak bandung

sumber: komunitasaleut.com

Seperti yang telah kita ketahui bahwa banyak masyarakat etnis Tionghoa sangat memercayai perhitungan feng shui untuk banyak hal, termasuk feng shui tempat tinggal.

Jika melihat masyarakat etnis Tionghoa di kota lain, biasanya mereka akan tinggal di daerah yang menjadi pusat “kepala naga”.

Dalam feng shui, “kepala naga” ini dipercaya menjadi sumber keberuntungan.

Salah satu contohnya adalah Glodok di DKI Jakarta yang dipercaya sebagai “kepala naga” yang dapat membawa keberuntungan.

Lalu, apakah masyarakat Tionghoa di Kota Bandung mengikuti hal yang sama?

Pasalnya, menurut sejarah, sejumlah masyarakat Tionghoa cenderung tinggal di sebelah barat Kota Bandung, semisal di daerah Andir dan Jalan Kelenteng.

Namun, menurut Ariyono, sampai sekarang tidak ada catatan sejarah yang menceritakan bahwa kecenderungan masyarakat Tionghoa tinggal di daerah tersebut dipengaruhi oleh feng shui.

“Tidak ada informasi tambahan apakah mereka memilih kawasan di sebelah timur pesanggrahan tersebut sebagai tempat tinggal berdasarkan perhitungan feng shui atau tidak,” ujar Ariyono.

***

Itulah gambaran jejak sejarah permukiman Tionghoa di Kota Bandung.

Semoga artikel in bermanfaat untuk Sahabat 99 ya!

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di portal Berita 99.co Indonesia.

Jika sedang mencari rumah di Bandung, bisa jadi Podomoro Park Bandung adalah jawabannya!

Cek saja di 99.co/id untuk menemukan rumah idamanmu!

Theofilus Richard

Penulis konten | Semoga tulisanku berkesan buat kamu

Related Posts