Berita Berita Properti

Serba-Serbi Arsitektur Hijau, Solusi Bangunan Ramah Lingkungan & Sehat

3 menit

Membangun rumah dengan pendekatan alami atau ramah lingkungan menjadi solusi untuk menciptakan hunian yang sehat. Jika kamu tertarik, yuk simak serba-serbi arsitektur hijau di artikel ini!

Sahabat 99, membangun rumah atau bangunan berkonsep ramah lingkungan terutama di tengah kota merupakan hal yang tepat.

Alasannya, tingkat polusi yang makin tinggi membuat lingkungan menjadi tidak sehat.

Ini juga diperlukan untuk menjawab tantangan persoalan lingkungan yang semakin memburuk.

Nah, salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan arsitektur hijau.

Lantas, apa sih sebetulnya arsitektur hijau? Bagaimana penerapannya?

Yuk, simak selengkapnya di bawah ini.

Apa Itu Arsitektur Hijau?

arsitektur hijau adalah

sumber: iced.or.id

Dikutip berbagai sumber, arsitektur hijau disebut juga arsitektur ekologis atau arsitektur ramah lingkungan.

Arsitektur hijau adalah satu pendekatan desain dan pembangunan yang didasarkan atas prinsip-prinsip ekologis dan konservasi lingkungan.

Ini akan menghasilkan bangunan yang mempunyai kualitas lingkungan dan menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.

Berbicara arsitektur hijau, maka berkaitan erat dengan bangunan yang juga disebut bangunan hijau.

Bangunan hijau adalah satu pendekatan pembangunan bangunan yang didasarkan atas prinsip-prinsip ekologis.

Pendekatan ini dipilih berdasarkan kenyataan bahwa selama ini 50 persen sumber daya alam dipakai untuk bangunan dan 40 persen energi dikonsumsi bangunan.

Sementara itu lebih dari 50 persen produksi limbah berasal dari sektor bangunan.

Tujuan Arsitektur Hijau 

Dikutip sustainablebuild.co.uk,  arsitektur hijau bisa menjadi contoh yang baik supaya manusia bisa hidup secara harmonis dengan lingkungan.

Hal ini merupakan peluang untuk mendesain tempat tinggal atau tempat kerja yang indah dan sehat, hemat energi, serta ramah lingkungan.

Dengan demikian, menunjukkan kemampuan manusia untuk beradaptasi dan hidup damai dalam ekologi alam.

Seorang arsitek yang terlibat dalam hal ini juga harus memberi tahu tentang sebuah bangunan hemat energi pada kliennya.

Misalnya penggunaan panel surya, konstruksi bangunan massal termal, bahan ramah lingkungan termasuk kayu, batu, atau bahan limbah daur ulang, seperti ban atau kaca dan botol plastik.

Baik desain maupun konstruksinya dapat membuat bangunan benar-benar lestari dan hijau, dan arsitek harus memperhatikan kedua aspek dari keseluruhan proses dengan cermat.

Prinsip Arsitektur Hijau

prinsip arsitektur hijau

sumber: greendiary.com

Ada beberapa prinsip arsitektur hijau supaya sebuah bangunan dapat disebut sebagai bangunan hijau.

Berikut prinsip yang dikutip Leadership in Energy and Environmental Design (LEED) standards serta Brenda dan Robert Vale.

1. Konservasi Energi

Bangunan harus dibangun dengan tujuan meminimalkan kebutuhan bahan bakar untuk pengoperasian bangunan tersebut.

Efisiensi energi dapat dilakukan mulai saat konstruksi bangunan, pemakaian atau pengoperasian bangunan, dan saat bangunan dirobohkan.

2. Penyesuaian dengan Iklim

Bangunan harus dirancang sesuai dengan iklim dan sumber energi alam yang ada.

Misalnya Ikilim di Indonesia yang panas lembab sehingga bangunan harus dirancang untuk mengatasi udara panas, kelembaban dan curah hujan tinggi.

3. Meminimalkan Pemakaian Sumber Daya

Bangunan harus dirancang untuk mengurangi pemakaian sumber daya, terutama yang tidak dapat diperbarui dan diakhir pemakaian bangunan dapat membentuk sumberdaya baru untuk arsitektur bangunan lain.

4. Memperhatikan Pemakai

Bangunan harus memberi kenyamanan, keamanan dan kesehatan bagi penghuninya.

Rancangan bangunan juga harus memperhatikan budaya dimana bangunan didirikan, dan perilaku pemakainya.

bangunan hijau

sumber: medium.com

5. Memperhatikan Lahan 

Bangunan harus dirancang dan dibangun sesuai dengan potensi lahan tempat bangunan akan didirikan.

6. Holistik

Bangunan hijau memerlukan pendekatan holistik dari seluruh prinsip yang ada.

7. Pembangunan yang Berkelanjutan 

Diusahakan menggunakan kembali bangunan yang ada dan dengan pelestarian lingkungan sekitar.

Tersedianya tempat penampungan tanah, taman di atas atap, penanaman pohon sekitar bangunan juga dianjurkan.

8. Pelestarian Air 

Dilakukan dengan berbagai cara termasuk di antaranya pembersihan dan daur ulang air bekas serta pemasangan bangunan penampung air hujan.

Selain itu penggunaan dan persediaan air harus juga di pantai secara berkelanjutan.

bangunan hijau

sumber: hisour.com

9. Peningkatan Efisiensi Energi

Dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya membuat layout dengan orientasi bangunan yang mampu beradaptasi dengan perubahan musim terutama posisi matahari.

10. Material Terbarukan

Material bangunan ini idealnya adalah bahan bangunan ramah lingkungan, lokal dan bebas dari bahan kimia berbahaya.

Sifat bahan bangunan yang baik dalam arsitektur hijau adalah bahan mentah tanpa polusi yang dapat bertahan lama dan juga bisa didaur ulang kembali.

11. Kualitas Lingkungan dan Ruangan

Dalam ruangan diperhatikan hal-hal yang mempengaruhi bagaimana pengguna merasa dalam sebuah ruangan itu.

Hal ini seperti penilaian terhadap kenyamanan dalam sebuah ruang yang meliputi ventilasi, pengendalian suhu, dan penggunaan bahan yang tidak mengeluarkan gas beracun

***

Semoga informasi di atas bermanfaat, Sahabat 99.

Ikuti terus artikel menarik lainnya di Berita Properti 99.co Indonesia.

Jangan lupa, temukan rumah impian hanya di www.99.co/id!

Ilham Budhiman

Penulis

Related Posts