Berita Ragam

Potret Orang Jepang dengan Hikikomori, Sindrom Antisosial & Mengurung Diri di Rumah. Sedih, deh!

3 menit

Sahabat 99 sudah tahu apa itu hikikomori? Istilah ini digunakan untuk fenomena yang terjadi di Jepang, di mana seseorang menarik diri dari kehidupan sosial.

Hikikomori (ひきこもり or 引き籠り) Berasal dari bahasa Jepang yang artinya mengurung diri.

Orang-orang ini terdiri dari remaja dan dewasa yang mengurung dirinya seharian di dalam rumah.

Ciri-cirinya dari orang yang melakukan hikikomori ialah sebagai berikut:

  • Menghabiskan waktunya setiap hari mengurung diri di dalam kamar.
  • Tidak pernah mau bersosialisasi dan selalu menjauhkan diri dari dunia luar.
  • Mengurung diri hingga enam bulan lebih.

Di Jepang sendiri, jumlah penduduk hikikomori sudah mencapai jutaan.

Dalam laporan Wall Street Journal, tercatat ada sebanyak 500 ribu hingga 2 juta orang hikikomori.

Selain di Jepang, ternyata sindrom antisosial ini juga ditemukan di negara-negara maju lainnya.

Seperti Amerika Serikat, Hong Kong, hingga Spanyol, dengan rentang usia yang sama beragam.

Siapa Saja Penderita Hikikomori?

sindrom hikikomori

Foto: Maika Elan

Pengidap hikikomori, umumnya adalah para remaja dengan rentang usia 15 hingga 25 tahun dengan jenis kelamin laki-laki.

Tetapi, ada juga beberapa kasus hikikomori yang dilakukan oleh pria paruh baya.

Dalam beberapa kasus ekstrem, hikikomori dilakukan oleh beberapa orang dengan tingkat intelegensi yang tinggi atau profesi tertentu.

Baca Juga:

Catat Tanggalnya! Ini 7 Fenomena Langit Langka Yang Muncul Tahun 2020

Apa Penyebab Hikimori Bisa Terjadi di Jepang?

sindrom antisosial di Jepang

Usai Perang Duia II, Jepang harus menerima kekalahan dan memulai segalanya dengan bekerja lebih keras.

Penduduk Jepang yang tumbuh besar di era tersebut dianggap kaku dan hanya tahu soal kerja keras dan mendapatkan uang.

Kemudian anak muda menganggap kalau generasi tua adalah generasi yang miskin imajinasi, tak punya kreativitas dan kesulitan menyesuaikan diri dengan zaman baru.

Para generasi tua sendiri melabeli para anak muda sebagai anak-anak  yang lembek dan mudah menyerah.

Kehidupan sosial di Jepang yang serba disiplin dan penuh tekanan membuat seseorang yang tak sengaja melakukan kesalahan merasa harus menarik diri dari pergaulan.

Akhirnya mereka pun memilih untuk mengurung diri di rumah dan tak bertemu dengan sesiapa.

Foto: Maika Elan

Pada akhir tahun 1990, jumlah orang-orang yang depresi di Jepang tidak diakui sebagai suatu kondisi yang membutuhkan penanganan khusus.

Depresi malah dianggap sebagai alasan seseorang agar dapat cuti dari pekerjaan.

Hal-hal tersebut menjadi penyebab munculnya fenomena hikikomori di Jepang.

Ada beberapa penyebab mengapa seseorang melakukan hal ini.

Faktor-faktor tersebut bisa disebabkan oleh lingkungan sekolah, keluarga atau bahkan individu itu sendiri.

Baca Juga:

Wah! Desain Rumah Kecil Milik Pasangan di Tokyo Ini Ukurannya Cuma 18 Meter

1. Lingkungan Sekolah

  • Mengalami Perundungan di Sekolah

Jika seseorang sering di-bully atau mendapatkan perundungan, apalagi sampai disertai penyiksaan fisik, maka dapat memengaruhi psikologinya.

Pada tahap tertentu korban perundungan akan berusaha melarikan diri dari lingkungan sekolahnya.

Bagi mereka, berdiam di rumah merupakan cara terbaik dan aman untuk terhindar dari pelaku dan bahkan untuk menghindar dari dunia sosial.

  • Gagal Ujian & Standar Nilai Akademik 

Pada beberapa kasus yang ekstrem seorang pelajar bisa bunuh diri karena gagal ujian atau tidak sanggup memenuhi ekspektasi nilai akademik.

Padahal mungkin mereka sudah berusaha dengan belajar.

Tekanan dari lingkungan sekolah dan keluarga atau bahkan standar dirinya sendiri ini juga dapat membuat seseorang jadi mudah stres dan depresi.

Jika tidak membunuh diri, menjadi hikikomori pun ditempuh untuk melarikan diri dari dunia yang sesungguhnya.

2. Penyebab Hikikomori dari Keluarga

Orang tua yang terlalu memanjakan seorang anak dapat menjadi salah satu penyebab anak tidak ingin meninggalkan rumah.

Orang tua yang kerap melarang anak untuk bermain di luar juga dapat membuat anak tumbuh menjadi takut dan mudah stres.

Sehingga anak merasa sangat terlindungi di rumah dan tidak mau keluar dari zona nyamannya.

3. Lingkungan Sosial Menjadi Salah Satu Penyebab Hikikomori

sumber: homesapiens.com

Lingkungan sosial juga memberikan pengaruh pada diri seseorang.

Sebagian pelaku hikikomori banyak yang tidak memiliki kepercayaan pada orang-orang.

Hal ini disebabkan karena adanya penolakan dan berbagai ekspektasi yang tidak sesuai antara pikiran dan kenyataan yang ada.

4. Penyebab Hikikomori dari Diri Sendiri

Stres dan depresi merupakan salah satu tanda seseorang memerlukan pertolongan.

Hikikomori adalah salah satu tindakan dari rasa stres dan depresi seseorang untuk menjauh dari sekitar.

***

Simak juga artikel menarik lainnya di Berita Properti 99.co Indonesia.

Sedang mencari hunian impian di Jakarta, Bandung, Bali dan lokasi lainnya?

Pastikan hanya mencari di 99.co/id

Nita Hidayati

An enthusiastic content writer who loves scandinavian design
Follow Me:

Related Posts