Berita, Berita Properti

Mengenal Sistem KPR di Indonesia

13 Oktober 2015
bunga kpr
3 menit

Seiring terus meningkatnya harga properti, terutama di kota besar seperti Jakarta, pilihan membeli rumah maupun apartemen secara tunai tampaknya semakin tak terjangkau.

Bagi Anda yang ingin membeli rumah untuk pertama kali dan tidak memiliki tabungan ratusan juta, tidak perlu khawatir.

Perbankan di Indonesia sangat membantu masyarakat untuk memiliki hunian pribadi melalui sistem KPR alias Kredit Pemilikan Rumah di Indonesia.

Sebagian besar masyarakat Indonesia memanfaatkan KPR untuk mewujudkan impian mereka mempunyai rumah.

Akan tetapi, meskipun sudah sering mendengar perihal KPR, mungkin hanya sebagian dari Anda yang benar-benar mengerti apa yang dimaksud dengan KPR dan bagaimana cara kerja KPR.

Karena itu, kali ini kami ingin membahas serba-serbi sistem KPR di Indonesia agar bisa membantu Anda maupun ribuan masyarakat Indonesia yang ingin mengajukan KPR.

Pengertian dan Jenis KPR

KPR adalah kredit yang digunakan untuk membeli rumah atau berbagai kebutuhan konsumtif lain dengan menggunakan rumah sebagai jaminan atau agunan.

Jaminan sendiri merupakan aset pihak peminjam yang dijanjikan kepada pemberi pinjaman (dalam hal ini bank) jika si peminjam tidak dapat mengembalikan pinjaman.

Jadi, jika peminjam tidak mampu melunasi kredit yang diberikan pihak bank, maka bank dapat menyita aset atau jaminan yang dijanjikan.

Selain sistem KPR di Indonesia untuk pembelian rumah, ia juga memiliki jenis lain yakni KPR Multiguna dan KPR Refinancing.

Jika pada KPR Pembelian yang menjadi agunan atau jaminan adalah rumah yang hendak dibeli, maka pada KPR Multiguna, aset atau jaminan peminjam adalah rumah yang telah dimiliki.

Persyaratan Mengajukan KPR

Tentunya, untuk mengajukan kredit ke pihak bank, Anda harus memenuhi sejumlah persyaratan, terutama melengkapi dokumen yang diminta. Adapun persyaratan atau dokumen yang harus dipenuhi calon nasabah KPR antara lain adalah:

  1. KTP
  2. Kartu Keluarga atau KK. Jika KK Anda dan pasangan belum menyatu, maka Anda harus melampirkan kedua KK yang dimiliki
  3. NPWP (bagi pasangan harap melampirkan kedua NPWP)
  4. Buku atau akta nikah bagi pasangan suami istri
  5. Surat pengantar perusahaan
  6. Surat keterangan status karyawan tetap serta keterangan masa kerja
  7. Slip gaji (rata-rata bank meminta copy slip gaji selama 3 bulan terakhir)
  8. Copy buku tabungan (3 bulan terakhir)
  9. Pas foto ukuran 3×4 dan 4×6 (siapkan setidaknya 3 lembar untuk masing-masing foto)
  10. Isi formulir pengajuan KPR dari bank yang dipilih

Biaya-biaya KPR di Indonesia, Apa Saja Sih?

Selain jumlah kredit pokok yang harus dilunasi, KPR juga memiliki beberapa biaya yang harus ditanggung sang peminjam. Jadi, sebagai peminjam, Anda perlu mempertimbangkan biaya-biaya ini sebelum mengajukan KPR. Biaya-biaya tersebut adalah:

  1. Biaya provisi, yaitu biaya yang dikeluarkan pihak pemberi kredit atau bank kepada para kreditur. Besarnya biaya provisi tergantung dari masing-masing bank. Namun, intinya biaya provisi ini diperlukan guna membiayai segala sesuatu yang berkaitan dengan pemberian kredit, misalnya komisi marketing, biaya fotocopy dokumen dan lain sebagainya.
  2. Biaya notaris, biasanya ada beberapa biaya yang harus dikeluarkan terkait penggunaan jasa notaris, termasuk biaya cek sertifikat, biaya AJB (Akta Jual Beli), biaya balik tanah dan sejumlah biaya lainnya.
  3. Biaya administrasi, nominal biaya administrasi umumnya kurang lebih sama dengan biaya provisi.
  4. Premi asuransi, sebagai pemberi kredit, bank biasanya mewajibkan nasabah yang mengajukan KPR untuk memiliki asuransi jiwa yang ditentukan oleh pihak bank. Tujuannya adalah, jika kreditur terkena suatu risiko yang mengakibatkan dirinya tidak mampu melunasi KPR, maka keluarga yang ditinggalkan tidak terbebani dengan kewajiban tersebut.
  5. Biaya appraisal rumah, biaya ini akan dibayarkan oleh bank kepada perusahaan penilai agunan yang bertugas menaksir harga tanah dan bangunan yang ingin Anda beli. Umumnya biaya ini dikenakan saat Anda mengajukan kredit.

Biaya Pajak Atas Jual Beli Rumah

Selain biaya yang dikenakan oleh bank dan notaris, Anda juga harus memperhitungkan biaya pajak atas jual beli rumah (BP. Cara menghitungnya adalah:

Nilai Jual Objek Pajak (NJPP) / Harga Jual – Nilai Perolehan Tidak Kena Pajak (NPTKP) x 5%

NPTKP akan berbeda di masing-masing kota atau kabupaten. Saat ini NPTKP DKI Jakarta adalah Rp 80.000.000. Jadi, misalnya Anda ingin membeli rumah senilai Rp 500.000.000, maka perhitungan pajaknya adalah:

Rp 500 juta – Rp 80 juta x 5% = Rp 21 juta.

Bunga/Rate KPR

Anda juga harus memperhitungkan bunga KPR yang dikenakan bank pemberi kredit. Bank-bank di Indonesia menggunakan beberapa jenis suku bunga untuk produk kredit mereka.

Sebagai peminjam, Anda perlu mengetahui sistem perhitungan bunga yang digunakan bank tempat Anda mengajukan KPR. Tujuannya tentu saja agar KPR tidak melebihi budget yang Anda siapkan untuk pembelian rumah.

  • Suku Bunga Flat (Flat Interest Rate)

Angsuran bersifat tetap dari bulan ke bulan dan bunga dihitung dari besarnya pokok pinjaman.

  • Suku Bunga Efektif (Effective Interest Rate)

Kebalikan dari suku bunga flat, biaya bunga dihitung berdasarkan sisa pokok pinjaman. Biasanya, pada tahun-tahun awal kredit, porsi biaya bunga lebih tinggi dari porsi pokok pinjaman. Namun, menjelang tempo pelunasan, porsi biaya bunga mengecil sedangkan porsi pokok pinjaman semakin besar.

  • Suku Bunga Mengambang (Floating Interest Rate)

Pada sistem KPR di Indonesia ini, besarnya biaya bunga berdasarkan pada suku bunga di pasar uang domestik maupun internasional. Jadi, jika suku bunga di pasar uang naik, maka biaya bunga yang harus Anda bayar pun meningkat, begitu pula sebaliknya.

  • Suku Bunga Tetap (Flat Interest Rate)

Seperti namanya, pada sistem ini suku bunga dipatok pada tingkat tertentu selama masa kredit. Besarnya bunga yang harus dibayar menyesuaikan dengan pokok utang. Jadi, semakin mendekati tempo pelunasan, pembayaran bunga pun semakin menurun.

Proses KPR

Jadi, langkah apa saja yang harus Anda jalani untuk mengajukan KPR di Indonesia?

Secara garis besar, proses yang harus Anda jalani dalam pengajuan KPR ada 4 tahap, yaitu:

  1. Pengisian formulir serta melengkapi dokumen yang diperlukan
  2. Analisa permohonan kredit dari bank; pada tahap ini analis bank akan menilai kredibilitas kredit Anda (dan pasangan, jika ada), kesanggupan mencicil dan jumlah plafon kredit yang sesuai untuk Anda. Sebaiknya, jawab pertanyaan analis dengan jujur dan apa adanya agar tidak menimbulkan kesulitan di kemudian hari.
  3. Proses appraisal rumah; pihak bank akan menilai kembali harga rumah yang ingin Anda beli menggunakan internal maupun external appraisal. Biasanya bank akan menghubungi penjual untuk meminta alamat rumah lengkap dan sebagainya.
  4. Akad kredit; jika seluruh proses berjalan lancar dan dokumen Anda sudah lengkap, maka langkah selanjutnya adalah melakukan akad kredit disertai penandatanganan semua dokumen yang berkaitan dengan KPR maupun jual beli rumah. Pada akad kredit biasanya dihadiri bagian legal bank, penjual rumah, notaries, pembeli dan saksi-saksi. Jika tahap ini sudah dilaksanakan, berarti Anda resmi mendapatkan kredit dari bank sekaligus memiliki rumah idaman.

Simak berita menarik lainnya seputar KPR, hanya di 99.co.

***

Editor: BAP

You Might Also Like