Berita, Berita Properti

Status Tanah Berdasarkan Jenis Secara Fisik dan Sertifikat

17 November 2018
status tanah
1 menit

Status tanah nyatanya penting untuk Anda pahami agar tidak salah kaprah saat hendak membeli properti, baik itu sepetak tanag kosong, rumah atau apartemen.

Tak sedikit orang yang tertipu atau tidak puas atas hasil pembelian tanahnya.

Hal tersebut terjadi karena ketidakpahaman atas status tanah.

Urbanites, status tanah dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yakni berdasarkan status fisik dan kondisi status bersertifikat.

Perbedaan-perbedan tersebut menentukam status berikutnya dengan keunggulan tertentu.

Berikut status-status tanah yang perlu kamu ketahui.

Tanah Sawah

Harga yang ditawarkan jenis tanah ini relatif murah dibanding dengan status fisik pekarangan.

Namun, dibutuhkan perizinam tambahan, yakni dikenal dengan nama izin pengeringan.

Pada praktik di lapangan, status fisik sawah memang wajib dilakukan pengeringan.

Tanah Pekarangan

Harga yang ditawarkan tanah berjenis ini relatif lebih mahal daripada status fisik tanah.

Namun, kamu tidak memerlukan lagi proses izin pengeringan lahan. Kamu dapat segera melakukan pengolahan lahan dan proses lainya, sehingga lahan segera siap launching

Status Tanah Tidak bersertifikat

Tanah tak bersertifikat yang dimaksud bukan benar-benar tanpa sertifikat.

Tetapi, tanah yang masih butuh proses sertifikat atau peningkatan hak. Ada beberapa penyebutan untuk status tanah seperti ini seperti tanah negara, hak garap, Letter C, Letter D dan berbagai istilah lainnya.

Untuk lahan seperti ini, diperlukan proses sertifikat sebelum dilakukan prosea perizinan lebih lanjut.

Keuntungan mendapat lahan seperti ini, kamu dapat melakukan negosiasi pembayaran dengan jangka waktu yang lebih panjang.

Karena, untuk proses sertifikat juga membutuhkan waktu.

Sertifikat Hak Milik (SHM)

Sertifikat model ini lazim dimiliki oleh perseorangan sebagai bukti atas lahan. Keuntungan membeli lahan seperti ini adalah kepemilikan dan proses izin yang lebih cepat.

Setidaknya, tidak perlu melewati proses sertifikasi lahan dan nom sertifikasi ke Sertifikat Hak Milik.

Akan tetapi, percepatan ini masih harus diselidiki karena perizinan di tiap daerah tidak dapat disamaratakan.

Pemerintah daerah setempat terkadang mewajibkan lahan bersertifikay HGB (Hak Guna Bangunan).

Berarti, kamu harus menurunkan hak dari Hak Milik menjadi Hak Guna Bangunan.

Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB)

Sertifikat jenis ini pada umumnya dimiliki perusahaan. Tanah ini bersifat sementara dengan jangka waktu tertentu. Kendati demikian, tanah jenis ini dapat dinaikkan haknya menjadi SHM.

Keunggulan memiliki sertifikat ini adalah status kepemilikan yang lebih pasti dan perizinan pun tak membutuhkan waktu lama.

Apalagi bila pemerintah daerah setempat memberlakukan kewajiban lahan bersertifikat HGB.

Yuk, kenali status tanah yang berbeda agar keputusan Anda dalam setiap pembelian properti dapat lebih bijak!

Simak informasi menarik lainnya, hanya di 99.co.

***

Editor: BAP

You Might Also Like