Finansial Keuangan

5 Tips Mengelola Biaya Renovasi Hunian ala Rumah Sky. Kuncinya Menabung dan Investasi!

3 menit

Untuk mewujudkan desain rumah sesuai impian kita, kita harus mengelola keuangan secara baik. Jika merasa kesulitan mengatur keuangan sendiri, kamu bisa mengikuti tips mengelola biaya renovasi rumah dari pemilik Rumah Sky (@dirumah.sky) berikut ini!

Rumah Sky yang berlokasi di Cikoko, Jakarta Selatan ini, tadinya hanyalah sebuah rumah tua dengan warna dinding yang sedikit kusam.

Namun, pemilik rumah, Ardi Firmansyah dan Istidana Harjanti berhasil mengubah rumah tua tersebut menjadi sebuah hunian yang Instagramable.

Selain kreativitas yang tinggi, untuk merealisasikan hasil renovasi rumah yang sesuai keinginan kita, dibutuhkan tata kelola keuangan yang baik.

Dalam wawancara virtual dengan 99.co Indonesia pada Rabu (17/11/2021), Istidana juga mengaku menyadari hal tersebut.

Maka dari itu, dia dan suami mencoba mengelola keuangan yang dimiliknya agar bisa merealisasikan desain hunian impiannya.

Kamu ingin tahu caranya?

Yuk, simak tips mengelola biaya renovasi rumah ala pemilik Rumah Sky berikut ini!

Biaya Renovasi Rumah Sky

rumah sky setelah direnovasi

sumber: Instagram @dirumah.sky

Istidana mengakui bahwa biaya merenovasi rumah cukup besar.

Pasalnya, dia mengubah hampir seluruh bagian bangunannya.

Diperkirakan, dia mengubah 80% dari keseluruhan bagian rumahnya.

Untuk merenovasi bangunannya saja, Istidana membutuhkan dana sekira Rp300 jutaan.

Sementara, untuk renovasi interior mencapai lebih dari Rp200 juta.

“Dapur custom dan kabinet bawah tangga hampir Rp60 jutaan. Belum ruang tamu dan ruang tv, mungkin ada Rp200 juta,” kata Istidana.

5 Tips Mengelola Biaya Renovasi Rumah ala Rumah Sky

1. Menyisihkan Gaji

tips biaya renovasi rumah sisihkan gaji

Hal pertama yang wajib dilakukan adalah menyisihkan penghasilan kita setiap bulan.

Seperti yang dilakukan Istidana dan Ardi, mereka telah menyisihkan penghasilannya untuk menabung sejak sebelum menikah.

Sebelum menikah, Istidana dan Ardi selalu menyimpan minimal 10% dari pendapatannya untuk masuk ke dalam tabungan.

Hal tersebut berlanjut sampai mereka menikah demi membangun rumah impian.

Perbedannya, setelah menikah, mereka hanya menyisihkan 5% dari total pendapatan mereka untuk ditabung.

2. Mengeliminasi Pos Pengeluaran yang Tidak Mendesak

Agar tabungan untuk biaya renovasi rumah lebih cepat terkumpul, Istidana dan Ardi juga memotong pos pengeluaran yang kurang mendesak.

Beberapa pos pengeluaran tersebut di antaranya adalah biaya makan dan nongkrong di luar rumah serta transportasi.

“Terbantu kondisi WFH (kerja dari rumah) juga. Kami jadi enggak ada makan di luar, ongkos di luar berkurang, semua terbantu di situ,” ujar Istidana.




3. Mengalihkan Pos Tabungan yang Tidak Mendesak

Ketika menabung, tentu kita telah memiliki tujuan penggunaan uang tersebut, ‘kan?

Hal yang sama juga dilakukan oleh Istidana dan Ardi.

Namun, setelah itu mereka menganalisis setiap pos tabungan tersebut, apakah masih diperlukan atau tidak.

Sebagai contoh, Istidana mengatakan bahwa dia dan suami menabung untuk berbagai keperluan, semisal renovasi rumah, liburan, dan ibadah haji.

Kemudian, mereka memutuskan mengalihkan beberapa pos tabungan karena dianggap tidak terlalu mendesak.

“Ada tabungan haji, tetapi karena (pandemi) corona, kami tutup. Tabungan ibadah haji, traveling (kami alihkan),” ujarnya.

4. Investasi

investasi untuk menabung

Istidana mengakui bahwa bujet yang diperlukan untuk merenovasi Rumah Sky sangat besar.

Maka dari itu, supaya biaya renovasi rumah cepat terkumpul, mereka menggunakan pemasukan lain.

Contohnya adalah dari investasi yang telah dilakukan sejak sebelum menikah.

Instrumen investasi yang digunakan Istidana adalah emas dan saham.

“Emas lumayan untung, karena kami kumpulkan dari sebelum menikah. Saham juga lumayan banget. Saya pakai broker di sekuritas,” kata Istidana.

5. Siapkan Dana Melebihi RAB

dana darurat untuk biaya renovasi rumah

Supaya hasil renovasi rumah dapat sempurna, kita juga harus menyiapkan dana yang banyak melebihi rancangan anggaran biaya (RAB).

Dana ekstra tersebut dibutuhkan untuk hal-hal yang tidak terduga.

Misalnya saja ketika material yang kita inginkan ternyata harganya lebih mahal atau saat kita membutuhkan tambahan tenaga tukang.

Hal-hal di luar dugaan tersebut tentu membuat kita harus mengeluarkan dana lebih banyak lagi.

Salah satu contohnya adalah ketika Istidana hendak membeli perabotan untuk kamar mandi.

Berdasarkan perhitungan, dia hanya membutuhkan Rp2 juta untuk membeli toilet, tetapi akhirnya biaya yang digunakan lebih dari itu.

Pasalnya, material perabotan toilet yang bisa dibeli dengan harga di bawah Rp2 juta tersebut hanya awet selama lima tahun.

“Terus lima tahun lagi ganti toilet. Lima tahun lagi, kami belum tentu tahu rejekinya. Akhirnya belilah toilet mahal di luar rencana kita,” ujarnya.

***

Itulah tips mengelola biaya renovasi rumah dari pemilik Rumah Sky (@dirumah.sky).

Semoga artikel ini menginspirasi Sahabat 99, ya!

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di portal Berita 99.co Indonesia.

Jika sedang mencari rumah di Bali, bisa jadi Damara Village di Kuta Selatan adalah jawabannya.

Cek saja di 99.co/id untuk menemukan rumah idamanmu!




Theofilus Richard

Penulis konten | Semoga tulisanku berkesan buat kamu

Related Posts