Berita Ragam

Total Utang Pinjaman Online Masyarakat Indonesia Rp19 Triliun. Banyak Utang Konsumtif!

2 menit

Masyarakat Indonesia memiliki utang kepada aplikasi pinjaman online sebesar Rp19 triliun per akhir Maret 2021. Kira-kira, utang sebesar itu digunakan untuk beli apa saja ya?

Seiring berkembangnya teknologi, industri peer to peer (P2P) lending pun semakin berkembang pesat.

Pasalnya, kini orang semakin mudah mendapat uang dari aplikasi pinjaman online.

Kebiasaan masyarakat meminjam uang dari aplikasi fintech ini lah yang membuat industri P2P lending bertumbuh pesat.

Utang Pinjaman Online Rp19 Triliun

ilustrasi pinjaman online

Melansir Bisnis.com, tercatat pertumbuhan fintech P2P lending sebesar 28.7 persen secara year on year (yoy).

Bahkan kenaikan pesat terjadi pada awal tahun ini, yaitu sekira 24,36 persen secara yoy.

Berdasarkan catatan OJK, penyaluran pinjaman dana lewat P2P lending mencapai Rp74,41 triliun sepanjang 2020.

Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp28,24 triliun atau 27,96 persen digunakan untuk belanja produktif yang dilakukan masyarakat, terutama UMKM.

Sementara sekira Rp46 triliun atau 62,04 persennya digunakan untuk sektor konsumtif.

Biasanya, dana inilah digunakan masyarakat saat membayar belanjaan menggunakan fitur paylater dan pinjaman multiguna tunai.

CEO & Co-Founder sebuah platform P2P lending, Ivan Nikolas Tambunan, menyebut bahwa kenaikan pencairan dana pinjaman kepada masyarakat terjadi dalam rangka nuansa Bulan Ramadan dan Hari Raya Lebaran 2021.

“Para borrower (peminjam dana) terutama pebisnis, membutuhkan working capital atau inventory yang lebih banyak serta service yang lebih baik lagi. Hal ini terjadi terutama pada industri-industri yang terkait langsung pada Bulan Ramadan, di mana selama bulan Ramadan pastinya akan terus mengalami kenaikan,” ujarnya dalam diskusi virtual Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Rabu (5/5/2021).

Melansir Republika.co.id, tingkat wanprestasi pengembalian pinjaman online pada Desember 2020 sebesar 4,78 persen.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan pada 2019 sebesar 3,65 persen, tetapi lebih baik dibanding pada November 2020 yang mencapai 7,18 persen.

Industri Fintech Terus Berkembang

ilustrasi fintech

Direktur Eksekutif AFPI, Kuseryansyah, meyakini industri fintech akan terus berkembang.

Pasalnya, pemerintah akan mewajibkan pemain di sektor multiguna mencairkan dana untuk sektor produktif, semisal peminjaman untuk modal usaha UMKM.

“Tapi bukti yang telah kita rekap, pengajuan pinjaman konsumtif ternyata sering digunakan para peminjam untuk pembiayaan produktif. Sehingga yang terjadi di Indonesia, jumlah pendanaan produktif kurang-lebih bisa 50-55 persen,” ujarnya, dalam diskusi virtual AFPI, Rabu (5/4/2021).

Sementara, menurut Kepala Grup Kebijakan Sektor Jasa Keuangan OJK, Enrico Harianto, mengatakan bahwa perkembangan fintech membuat pemerintah mempertimbangkan ketentuan restrukturisasi kredit pada fintech.

Selama ketentuan restrukturisasi kredit hanya bisa dilakukan pada institusi bank.

Pertimbangan tersebut pun masuk dalam POJK nomor 58 tahun 2020, yang salah satu isinya adalah memperkenankan fintech peer to peer lending sebagai lembaga jasa keuangan yang dapat merestrukturisasi kredit.

“Selain perpanjangan jangka waktu restrukturisasi di perbankan, kita juga melakukan hal yang sama pada IKNB, kita masukkan juga penambahan subjek pada fintech,” ujarnya, dikutip dari Republika.co.id, Kamis (6/5/2021).

***

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Sahabat 99 ya!

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di portal Berita 99.co Indonesia.

Kalau sedang mencari rumah di Semarang, bisa jadi Potala Semarang adalah jawabannya!

Cek saja di 99.co/id untuk menemukan rumah idamanmu!

Theofilus Richard

Penulis konten | Semoga tulisanku berkesan buat kamu

Related Posts