Pemerintah berencana memindahkan ibu kota sekaligus pusat pemerintahan ke luar Jawa, sementara pusat perekonomian dibiarkan berkembang di Jakarta. Salah satu lokasi yang diincar adalah Palangka Raya di Kalimantan Tengah.


Tugu_Sukarno_Palangkaraya.jpg




Menurut Wakil Wali Kota Palangka Raya, Mofit Saptono, sudah diusulkan lahan seluas 500 ribu hektar (ha) untuk ibu kota baru. Lokasinya berada di antara Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Gunung Mas.


Selain itu, Palangka Raya masuk kriteria ibu kota baru karena bebas dari bencana alam, misalnya gempa bumi.


"Sepengetahuan saya, sepanjang saya 51 tahun di Palangka Raya, kita belum pernah mengalami gempa bumi. Tidak berada daerah patahan lempeng bumi. Palangka Raya dan Kalimantan pada umumnya tidak mempunyai gunung berapi," tutur Mofit.


Wilayah administrasi Kota Palangka Raya sudah disiapkan di wilayah itu. Lebih banyak masuk di wilayah Palangka Raya. Perkiraan jarak dari Kota Palangka Raya sekitar 60 km.


Dengan jarak 60 km itu, Kota Palangka Raya adalah yang terdekat dari lokasi ibu kota baru dibandingkan dua kabupaten lainnya. Mofit menjelaskan, infrastruktur menuju ke lokasi ibu kota sudah memadai.


Contohnya, sudah tersedia jalan nasional dari Palangka Raya menuju lokasi ibu kota baru.


Selain jalan, sedang disiapkan pula Bandara Tjilik Riwut dengan apron, taxi way, dan runway baru. Menurut Mofit, pengembangan bandara ini ditangani Kementerian Perhubungan.



Sekilas Tentang Kota Palangka Raya


Jembatan_Kahayan_Palangkaraya.jpg


Kota Palangka Raya atau Palangkaraya adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Kota ini memiliki luas wilayah 2.400 km² dan berpenduduk sebanyak 220.962 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 92.067 jiwa tiap km² (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). Sebelum otonomi daerah pada tahun 2001, Kota Palangka Raya hanya memiliki 2 kecamatan, yaitu: Pahandut dan Bukit Batu. Kini secara administratif, Kota Palangka Raya terdiri atas 5 kecamatan, yakni: Pahandut, Jekan Raya, Bukit Batu, Sebangau, dan Rakumpit.


Kota ini dibangun pada tahun 1957 (UU Darurat No. 10/1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah) dari hutan belantara yang dibuka melalui Desa Pahandut di tepi Sungai Kahayan. Sebagian wilayahnya masih berupa hutan, termasuk hutan lindung, konservasi alam serta Hutan Lindung Tangkiling. Pada saat kota ini mulai dibangun, Presiden Soekarno merencanakan Palangkaraya sebagai ibukota negara di masa depan, menggantikan Jakarta.[2][3] Palangka Raya merupakan kota dengan wilayah terluas di Indonesia atau setara 3,6 kali luas Jakarta.


Wacana Dari Era Soekarno


Pemindahan Ibukota atau pusat pemerintahan berkembang di setiap masa pemerintahan. Sejak era Presiden Soekarno, Soeharto sampai terakhir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, wacana ini terus berkembang tanpa pernah direalisasikan.


Dalam buku berjudul ‘Soekarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya’ karya Wijanarka disebutkan, dua kali Bung Karno mengunjungi Palangkaraya, Kalimantan Tengah — untuk melihat langsung potensi kota itu menjadi pusat pemerintahan.


Wacana pemindahan ibu kota Indonesia ke Kota Palangkaraya juga pernah diungkapkan Presiden pertama RI Soekarno. Saat meresmikan Palangkaraya sebagai ibu kota Provinsi Kalteng pada 1957, Soekarno ingin merancang menjadi ibu kota negara.


Sumber: wikipedia.org



Berburu Properti di Palangka Raya


Pengamat properti yang juga sebagai Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda, mengatakan pemisahan antara pusat pemerintahan dan pusat bisnis atau perekonomian justru akan menguntungkan masing-masing bagi kota yang ditinggalkan maupun kota yang baru.


Lebih bagus seperti dipisahkan. Artinya nanti ketika ibu kota dipindahkan ke luar Jakarta, peningkatan perkembangan pasar properti itu akan berpindah ke kota baru.


akarta sebagai pusat bisnis akan lebih diuntungkan dengan tidak terganggunya aktivitas bisnis atau perekonomian oleh aktifitas politik dan pemerintahan. Sedangkan kota barunya akan menjadi satu sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.


Sama seperti New York dan Washington, kedua kota masing-masing beda karakternya. Jakarta sebagai pusat bisnis sendiri saja, malah lebih bagus seperti itu. Jangan ini kota pemerintahan, kota politik, kota bisnis, campur aduk semua di Jakarta. Jadi enggak fokus bisnisnya. Tapi ketika Jakarta hanya jadi kota bisnis, itu akan lebih bagus, karena dia tidak terpengaruh oleh tensi politik, seperti demo dan segala macam


Jadi nanti yang diuntungkan itu Jakarta dan Palangka Raya. Jakarta lebih pasti, bisnisnya lebih fokus, jadi enggak campur aduk. Kalau Palangka Raya, jadi ibu kota yang baru, itu akan meningkatkan ekonomi wilayah, bahkan akan luar biasa. Termasuk properti di Palangka Raya juga.



pembangunan di kota palangka raya.jpg
Direktur Pengembangan Bisnis Jababeka Hyanto Wihadi menyatakan, jika pemerintahan pindah maka akan ada pembangunan besar-besaran di kota tersebut. 

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) siap membangun kawasan industri dan kompleks hunian, baik rumah tapak maupun hunian vertikal (apartemen) jika wacana pemerintah memindahkan ibukota ke Palangkaraya di Kalimantan Tengah jadi dilakukan.
Sumber: 
detik.finance
kompas.properti
cnnindoneisa
Baca Selengkapnya >