Cara pembelian rumah melalui KPR (Kredit Pemilikan Rumah) merupakan salah satu cara yang favorit. Anda tinggal datang ke bank dan mengajukan KPR. Namun, ternyata tidak semudah itu untuk mendapatkan KPR. Masih banyak salah persepsi yang diterima oleh masyarakat mengenai KPR itu. Berikut ini adalah lima mitos yang salah mengenai KPR.

sumber : http://blog.urbanindo.com/2015/01/5-mitos-salah-tentang-kpr/

Mitos 1: Anda hanya perlu menabung cukup untuk membayar DP pembelian rumah


Benar bahwa salah satu langkah awal membeli rumah adalah mampu membayar DP (biasanya sekitar 30% harga beli properti); tetapi saat mengumpulkan uang, orang harus mempertimbangkan biaya-biaya tambahan pembelian rumah – yang sebagian besarnya wajib dan harus dibayar di muka:

  • Bea meterai
  • Biaya aplikasi
  • Biaya penilaian
  • Biaya legal
  • Asuransi KPR


Sebagai tambahan terhadap biaya-biaya di atas, disarankan bagi pembeli untuk mempertahankan dana taktis sejumlah sekitar 3 bulan gaji untuk keadaan darurat atau jika Anda kehilangan pekerjaan.

Mitos 2: Semakin besar Anda mampu membayar DP, semakin baik

Menyediakan dana DP yang lebih besar (lebih daripada yang diperlukan) secara natural berarti jumlah pinjaman yang lebih kecil yang pada akhirnya mengarah pada cicilan bulanan yang lebih kecil pula, tetapi dengan melakukan hal ini, uang Anda terikat pada rumah sehingga jatah uang untuk biaya perbaikan rumah atau untuk membayar utang-utang lainnya akan berkurang. Jika membayar DP lebih besar berarti mengecilnya dana kontingensi bagi Anda, Anda lebih baik menyimpan kelebihan uang DP tersebut untuk keadaan darurat.

Mitos 3: Bayar cicilan bulanan lebih besar untuk mempersingkat tenor pinjaman

Kecuali Anda memiliki KPR Flexi, membayar cicilan bulanan lebih dari yang diwajibkan mungkin hanya akan memberi sedikit keuntungan bagi Anda. Lebih jauh lagi, dengan periode lock-in yang biasanya diterapkan pada sebagian besar pinjaman rumah sekarang ini, Anda bahkan dapat diberi penalti karena menyelesaikan pinjaman rumah Anda dalam periode lock-in ini.

Mitos 4: Menunggu hingga usia yang tepat untuk membeli rumah

Sebagian besar orang akan memberi nasihat pada generasi yang lebih muda untuk menunggu sebelum memasuki area pinjam-meminjam, khususnya KPR yang mungkin membutuhkan waktu hingga tiga dekade untuk dilunasi, dengan alasan kekhawatiran akan kebangkrutan.

Meskipun peringatan tersebut ada benarnya, orang tidak seharusnya mengabaikan ide mengambil KPR di usia muda – dengan asumsi bahwa orang tersebut mampu membayarnya. Jadi, kapankah waktu yang tepat untuk membeli rumah?

Mitos 5: Melakukan refinancing pada KPR Anda adalah ide buruk

Refinancing adalah tindakan mengambil KPR atau pinjaman rumah baru untuk melunasi pinjaman rumah lama. Refinancing – dengan asumsi dilakukan setelah periode lock-in dari pinjaman rumah yang lama dapat menghasilkan penurunan jumlah cicilan bulanan yang signifikan, tetapi juga dapat mengakibatkan efek finansial yang merugikan.

Saat mempertimbangkan untuk melakukan refinancing, penting untuk dipertimbangkan penghematan bunga dari pinjaman rumah lama dan biaya awal (jika ada) dan suku bunga pinjaman baru. Hal yang kedua sangat penting karena suku bunga dapat lebih rendah di tahun pertama tetapi lebih tinggi di tahun-tahun berikutnya. Temukan informasi lebih lanjut mengenai refinancing KPR sebelum membuat keputusan.

Bagi Anda seorang karyawan, batas usia maksimal saat melunasi KPR adalah 55 tahun, sedangkan untuk pengusaha atau wiraswastawan, batas usianya adalah 65 tahun. Semakin dini mengambil cicilan, semakin besar kesempatan Anda mengambil jangka waktu kredit yang cukup panjang.

Baca Selengkapnya >