9 Arsitektur Belanda di Indonesia yang Ikonik. Wajib Dikunjungi!

4 Nov 2020 - Dyah Siwi Tridya

9 Arsitektur Belanda di Indonesia yang Ikonik. Wajib Dikunjungi!

foto: getlost.id

Ketika zaman kolonial Belanda menguasai hampir seluruh wilayah Indonesia ada banyak peninggalan yang bisa Anda temukan.

Bangunan pemerintahan, bank dan benteng menjadi bagian dari peninggalan yang menghiasi sudut sejumlah daerah.

Tampilan gaya neo-klasik pada arsitektur Belanda ini membuat Anda bisa mengenalnya dari jauh.

Dan saat ini, sebagian bangunan tersebut masih difungsikan sebagai gedung pemerintahan, pertunjukan atau hanya sebagai cagar budaya.

Jadi, tak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk mengagumi arsitektur Belanda, karena di bawah ini telah kami rangkum beberapa bangunan ikonik yang bisa Anda datangi.

Selain bisa menelusuri peninggalan bersejarah yang pastinya seru dan menyenangkan, Anda juga bisa jadikan tempat ini sebagai spot foto yang instagramable.

Karakteristik Arsitektur Belanda di Indonesia

Sebelum membahas daerah mana saja yang masih merawat bangunan gaya kolonial, yuk, Kenali dulu karakteristiknya.

Gaya kolonial atau gaya Hindia-Belanda hadir di Indonesia pada abad ke-16.

Tapi pada tahun 1920 sampai 1940-an, gaya arsitektur kolonial mengalami pembaharuan dengan menambahkan gaya eclectic atau campuran dengan arsitektur tropis.

Ciri khas rumah atau bangunan gaya kolonial bisa Anda bedakan dengan gaya arsitektur lainnya seperti:

  • Fasad Bangunan Arsitektur Belanda

Pada fasad bangunan gaya kolonial lebih cenderung ke simetris tapi Anda juga bisa menemukan fasad dengan bentuk asimetris di beberapa bangunan.

Fasad bangunan ada yang berbentuk segitiga, segi empat, sampai ada yang berbentuk segi enam.

  • Bentuk Atap

Untuk jenis atap yang digunakan adalah perisai tapi ada juga rumah kolonial yang menggunakan jenis gevel dengan bentuk segitiga.

Selain itu atap dan bangunan ditopang oleh pilar dengan konsep romawi yang megah dan mewah.

  • Dinding Pintu dan Jendela

Pintu pada gaya kolonial bersifat simetris menyessuaikan fasad rumah dengan penggunaan pintu rangkap ganda.

Untuk daun pintu depan dilapisi dengan panil dari kayu jati karena sifat kayu yang kuat dan sebagai pelindung pintu.

Baca juga:

Keunggulan dan Kekurangan Pintu Jati (Lengkap dengan Harga)

Untuk jendelanya sendiri memiliki bentuk simetris dan geometris yang terdiri dari satu buah daun jendela dan dua buah daun jendela.

  • Elemen Lantai

Penggunaan material teraso pada lantai dipilih karena menyesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia.

Pada dasarnya lantai yang menggunakan penutup dari teraso bisa menyerap panas dan membuat ruangan lebih dingin.

Selain itu material ini lebih kuat, tahan lama dan tahan air, sehingga perawatan yang diperlukan tidak terlalu mahal.

  • Denah Ruang

Untuk denah ruangan arsitektur Belanda sama dengan isi rumah pada umumnya hanya saja lantai 2 difungsikan sebagai tempat tidur.

Pada arsitektur kolonial penggunaan tingkatan jarang ditemukan dan hanya meninggikan tiang dan terlihat bertingkat dari luar.

Tapi ada juga rumah atau bangunan yang memiliki 1 sampai 5 tingkat dengan ukuran yang tidak terlalu tinggi.

9 Bangunan Bersejarah dari Arsitektur Belanda di Indonesia

Berikut ini beberapa bangunan peninggalan zaman Belanda yang bisa Anda sambangi dan rasakan keunikan dari arsitekturnya. Penasaran?

Yuk, simak di bawah ini!

  • Arsitektur Belanda Gedung Kesenian Jakarta

arsitektur belanda

foto: twitter

Gedung Kesenian Jakarta merupakan bangunan peninggalan Belanda yang terletak di Jl. Gedung Kesenian No.1, Jakarta Pusat.

Awalnya gedung ini difungsikan sebagai gedung teater di zaman Belanda dan dikenal dengan “Gedung Komidi”.

Lalu, pada zaman kedudukan Jepang beralih menjadi bioskop dan theater city.

Gedung putih besar dengan pilar kokoh ini dibangun pada tahun 1802 dan menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia saat itu.

Gedung Kesenian Jakarta masih digunakan saat ini sebagai pusat penyelenggaraan teater di Indonesia.

arsitektur belanda

foto: travel.kompas.com

GKJ menyediakan fasilitas pendukung dengan ruang pertunjukan yang memiliki ukuran 24 x 17,5 m dan panggung berukuran 10,75 x 14 x 17 m, serta ruang foyer 5,8 x 24 m.

Ruang pertunjukannya sendiri bisa menampung penonton hingga 475 orang.

  • Arsitektur Belanda Kota Tua Jakarta

arsitektur belanda

foto: unsplash

Kawasan Kota Tua Jakarta memiliki bangunan-bangunan bekas peninggalan zaman kolonial yang beralih fungsi menjadi museum.

Museum Fatahillah jadi salah satu bangunan paling ikonik dan banyak dikunjungi setiap tahunnya.

Awalnya Museum Fatahilah adalah balai kota yang didirikan pada tahun 1707-1710, dan menyerupai Istana Dam di Amsterdam.

Gaya arsitektur neo-klasik yang kental tampak menyatu dengan warna atap terracotta dan bingkai jendela berwarna hijau tua.

Luas kawasan ini sekitar 1.300 meter dengan 3 lantai yang memiliki fungsi yang berbeda

  • Benteng Vredeburg Yogyakarta

arsitektur belanda

foto: honeyvha

Benteng Vredeburg dibangun pada tahun 1760 yang kini beralih fungsi sebagai museum, dan dikenal sebagai Museum Benteng Yogyakarta.

Benteng Vredeburg dianggap sebagai generasi pertama lahirnya arsitektur Indis di Yogyakarta.

Ciri khas dari bangunan ini adalah jendela besar, dinding bangunan yang tebal dan sentuhan gaya Yunani.

Tidak ada bangunan fisik yang diubah, hal ini dilakukan untuk menjaga keaslian bangunan dan menjadi daya tarik wisata di Yogyakarta.

  • Gedung Spiegel Semarang Lama

arsitektur belanda

foto: unsplash

Gedung Spiegel dulunya dibangun untuk melayani berbagai keperluan rumah tangga, kantor dan lainnya.

Pembangunanya pun dimuali padai tahun 1895 dengan menampilkan fasad entrance yang menyerong ke arah barat.

Gedung yang dibangun tepat di sudut persimpangan jalan ini menonjolkan tampilan jendela besar di setiap sisinya, yang dibentuk melengkung dengan material kaca dan kayu.

Kini Spiegel telah direnovasi pada tahun 2015 dan menjadi restoran yang wajib Anda kunjungi kalau datang ke Semarang.

  • Benteng Rotterdam Makassar

arsitektur belanda

foto: getlost.id

Sebelum dikenal sebagai Benteng Rotterdam, bangunan ini bernama Benteng Ujung Pandang yang dibangun oleh Raja Gowa IX.

Pada tahun 1545 pembangunan ini diselesaikan oleh Raja Gowa X, bentuk bangunannya menyerupai penyu karena benteng ini berada di pesisir pantai.

Pada tahun 1677, pemerintah Belanda merobohkan benteng dan dibangun kembali dengan gaya kolonial Belanda.

Ciri khas pada bangunan dapat terlihat dari pintu masuk benteng yang melengkung dengan susunan batu asimetris pada bagian dalam.

arsitektur belanda

foto: arsy.co.id

Lalu pada bangunan utama benteng, arsitektur kolonial dapat ditemukan dari gevel, bangunan simetris, dormer atau jendela yang berada di atap rumah serta bangunan yang tinggi.

  • Gedung BAT Cirebon

arsitektur belanda

foto: correcto.id

Gedung BAT dibangun pada tahun 1924 dengan gaya yang lebih modern, yakni arsitektur art deco.

Meskipun memiliki gaya lain, tampilan kental nuansa kolonial sangat terasa apalagi dengan lengkungan pintu masuk di setiap sisinya.

Gedung rokok ini kini dibiarkan kosong dan sebagai tempat kuliner malam yang terkenal di Cirebon.

Bagaimana, sudah siap berkunjung ke Cirebon?

Jangan lupa mampir ke Gedung BAT, ya!

  • Gedung Lonsum Medan

arsitektur belanda

foto: wartawisata.id

Gedung Lonsum atau London Sumatera merupakan bangunan dari peninggalan zaman Belanda.

Bangunan 5 lantai ini memiliki kesan dan gaya Eropa yang kental dengan aksen warna cat putih di seluruh bangunnya.

Gedung Losum dibangun pada tahun 1909 dan masih beroperasi saat ini sebagai kantor dari perusahaan perkebunan karet Harrisons & Crosfield.

  • Museum Balee Juang Aceh

arsitektur belanda

foto: museum.kemdikbud

Terletak di pusat Kota Langsa, sekitar 400 km dari Banda Aceh, Museum Balee Juang menjadi salah satu wisata sejarah yang bisa Anda temukan saat ini.

Bangunan ini berdiri sejak tahun 1920 dan dulunya bernama Het Kantoorgebouw Der Atjehsche Handel-Maatschappij Te Langsar.

Gaya kolonial atau arsitektur Belanda dapat Anda rasakan dengan tampilan pintu yang menjorok ke dalam dan daun jendela yang berada di atap museum.

Warna khas putih dan atap terracotta menjadi simbol budaya Belanda zaman dahulu.

  • Gedung Sate Bandung

arsitektur belanda

foto: womantalk.com

Siapa yang tak tahu Gedung Sate yang dibangun pada tahun 1920 dan memiliki gaya campuran Indo-Eropa yang apik ini?

Percampuran arsitektur inilah yang menjadi awal penanda arsitektur nusantara sudah mulai dikenal, tapi tetap mempertahankan arsitektur Hindia-Belanda di setiap ornamennya.

Jika Anda liburan atau berencana staycation di Bandung, jangan lupa untuk mampir ke Gedung Sate sambil swafoto bersama teman dan keluarga.

 

Jadi bagi yang ingin berkunjung ke kota-kota di atas, bisa langsung datangi deretan bangunan cantik dan bersejarah di atas ya!

Tak perlu bingung juga memilih akomodasi, karena bisa sewa apartemen murah harian di sekitar lokasi.

Lagi pula, selain harga terjangkau, ada banyak keunggulan sewa apartemen dibandingkan hotel. Dan semua pilihan apartemen terbaik bisa Anda temukan di 99.co/id. 

Baca juga:

Uniknya Rumah Gaya Belanda Klasik dan Modern

Author:

Dyah Siwi Tridya