Berniat Budidaya Cacing Tanah? Wajib Ketahui Hal-hal Berikut Ini!

20 Sep 2019 - Ananda Bayu Pangestu

Berniat Budidaya Cacing Tanah? Wajib Ketahui Hal-hal Berikut Ini!

Sebagian besar orang menganggap cacing tanah adalah hewan yang menjijikan. Namun, bagi sebagian lainnya, hewan tidak bertulang belakang ini merupakan ladang penghasilan yang menjanjikan.

Mengapa demikian? Budidaya cacing tanah merupakan bisnis prospektif karena dapat dilakukan dengan modal sangat kecil dengan keuntungan besar. Permintaan kebutuhan cacing tanah tidak pernah surut karena hewan ini memang diperlukan dalam banyak hal.

Memang selain murah pengolahannya, modal awal pengelolaan bisnis budidaya cacing ini relatif murah. Budidaya cacing tanah juga tidak selalu membutuhkan lahan tanah yang besar, bahkan bisa dilakukan di dalam rumah juga.

Pasar cacing tanah juga akan selalu ada karena hewan ini memiliki banyak manfaat di berbagai bidang kehidupan. Di bidang farmasi, hewan ini dijadikan berbagai ekstrak obat-obatan. Ekstrak cacing juga digunakan untuk bahan dasar kosmetik. 

Sementara itu, di bidang perikanan, cacing dimanfaatkan untuk pakan dan suplemen makanan ikan. Dan di bidang perkebunan dan pertanian, cacing juga banyak dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan pupuk tanaman.

Jenis Cacing Tanah yang Potensial Dibudidayakan


Jangan salah, tak semua jenis cacing bisa dibudidayakan. Beberapa jenis cacing tanah yang dapat diternakkan adalah cacing tanah asia atau Pheretima; Perionyx; dan Lumbricus. Ketiganya menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan.

Cacing jenis Pheretima memiliki sekitar 95 hingga 150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14 sampai 16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris dengan warna merah keunguan. Cacing merah, koot, dan kalung, termasuk ke dalam jenis ini.

Memiliki jumlah segmen antara 75 hingga 165, di mana kitelumnya terletak di segmen 13 dan 17, merupakan ciri jenis Perionyx. Cacing ini berbentuk gilig ungu tua hingga merah kecokelatan. Cacing jenis ini membutuhkan pemeliharaan yang lebih serius saat diternakkan.

Terakhir, cacing jenis Lumbricus. Cacing jenis ini lebih unggul karena tingkat produktivitasnya tinggi. Misalnya dalam faktor penambahan berat badan, produksi telur atau anakan, dan tidak banyak bergerak.

Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90 hingga 195, di mana klitelum terletak pada segmen 27 sampai 32. Biasanya, cacing jenis ini kalah bersaing dengan yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tapi, bila dibudidayakan, besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain. 

Manfaat Cacing Tanah

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, manfaat cacing tanah sangat beragam di berbagai aspek kehidupan. Hewan ini meningkatkan unsur hara untuk membentuk lapisan tanah yang bernutrisi alias subur dan gembur untuk pertanian.

Dalam dunia medis sendiri, hewan menjijikan ini juga dapat memberikan banyak manfaat kesehatan karena kandungannya. 

Cacing tanah memiliki kandungan protein tinggi, asam amino, dan berbagai enzim yang bermanfaat baik ketika masih dalam bentuk cacing segar maupun sudah diolah.

Perlu diketahui bahwa kadar protein dan asam amino pada hewan tak berkaki ini cukup tinggi. Kandungan protein (76 persen) di dalam hewan ini jauh lebih tinggi dari daging mamalia (65 persen) dan daging ikan (50 persen). Bahkan, kandungan asam amino dalam cacing tanah mencapai 78-79 gram tiap liter.

Selain protein dan asam amino yang tinggi, cacing ini juga mengandung vitamin, zat besi, dan kalsium dengan konsentrasi yang cukup tinggi. 

Tak hanya itu, hewan ini juga ternyata memiliki sistem kekebalan tubuh yang bersifat antimikroba sehingga dianggap sangat berguna untuk melawan berbagai mikroba yang menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Beberapa pemanfaatan manfaat cacing tanah untuk kesehatan adalah mengobati tifus, mengobati diare, menyembuhkan luka lebih cepat, melancarkan sirkulasi darah, menjaga sistem kekebalan tubuh, mengatasi peradangan, mengatasi gangguan pembuluh darah, meningkatkan energi, menjaga kadar gula darah, dan mengatasi konstipasi.

Cara Budidaya Cacing Tanah

  1. Tempat budidaya cacing

Hal pertama yang harus anda persiapkan adalah tempat ternak cacing. Kandang cacing ini harus bebas dari kemungkinan hama atau predator seperti semut, cicak, ayam, atau hewan lain yang dapat memangsa cacing. 

Untuk tempat ternak cacing tanah sendiri, bisa kita lakukan di berbagai tempat seperti di bak semen (sistem jedingan), rak kayu, box kayu dsb. Berikut ini beberapa contoh tempat budidaya cacing yang bisa anda jadikan referensi wadah ternak cacing:

  • Garasi rumah, untuk meletakan kotak atau rak yang berisi bibit cacing

  • Bekas kolam ikan yang sudah tidak terpakai

  • Barang bekas yang ada untuk tempat ternak cacing

  • Pekarangan rumah anda untuk lahan budidaya cacing

  1. Media Ternak Cacing


Setelah kita memiliki tempat untuk budidaya, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan media untuk cacing. Media untuk hidup cacing ini yang nantinya juga sekaligus juga harus menyediakan makanan mereka. 

Ada banyak media tempat cacing yang bisa anda buat, yang jelas media budidaya harus gembur dan banyak bahan organik.

Anda bisa menggunakan log jamur atau limbah hasil budidaya jamur, tanah organik (tanah plus serbuk gergaji, ataupun batang pisang yang dicacah), campuran kompos dengan beberapa bahan organik (limbah pertanian atau pasar).

Bagaimana cara membuatnya media ternak cacing? Pertama-tama, masukkan bahan-bahan tersebut hingga mencapai ketinggian 15 cm. Masukkan juga air secukupnya agar media hidup cacing tanah ini basah dan gembur.

Setelah itu, aduk semua bahan tersebut sampai tercampur merata, agar terjadi proses fermentasi.

Setelah empat minggu, campurkan kotoran hewan ke dalamnya dengan perbandingan 70% media hidup dan 30% kotoran hewan. Kapur bisa ditambahkan sebanyak 1% dari media hidup untuk mendapatkan pH netral. 

Media sudah dianggap cocok apabila pH nya mencapai 6,0 – 7,2 ; tingkat kelembaban 15 – 30 % dan suhu antara 15 – 25ºc.

Kemudian masukkan cacing tanah ke dalamnya. Cacing yang dimasukkan seberat media hidup yang telah disediakan. 

  1. Makanan dan Nutrisi Cacing

Setelah cacing kita masukkan ke dalam media budidaya, jangan lupa untuk memberinya pakan. Pakan cacing bisa berupa limbah organik rumah tangga (sisa nasi, sisa sayur dsb), limbah home industry (kulit buah, sisa dapur rumah makan dsb), limbah peternakan (kotoran kambing, sapi, dan ayam) atau daun gugur yang dibuat menjadi kompos.

Banyaknya pakan yang diberikan sama jumlahnya dengan berat cacing yang anda masukkan, jika berat cacing 2 kg, maka pakan yang diberikan juga sebaiknya 2 kg. 

Berikan pakan berupa bubur atau bubuk. Buat pakan dengan perbandingan 1 pakan : 1 air. Bubur pakan ditaburkan secara merata di atas 1/3 bagian permukaan media hidup cacing tanah.

  1. Perawatan Cacing

Pakan yang kita berikan tadi sebaiknya diberikan setiap hari untuk jumlah pakan 2 kg yang kita berikan, atau bisa juga kita berikan 2 kg per minggunya.

Perhatikan apakah cacing kekurangan air atau kekurangan pakan, usahakan agar media budidaya selalu lembab dan kebutuhan pakan selalu terpenuhi.

  1. Hama Cacing dan Cara Penanganannya

Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, ada banyak hama yang bisa memangsa cacing seperti semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, dan kutu. 

Untuk itu, lubang tempat pemeliharaan harus selalu tertutup. Bahan yang baik digunakan sebagai penutup adalah kawat kasa. Karena kawat kasa juga menjamin berlangsungnya proses pergantian udara tetap berjalan dengan baik. Selain itu, untuk mencegah serangan semut, di sekitar kotak pemeliharaan diberi air secukupnya (dirambang).

  1. Panen Cacing

Panen cacing biasanya dilakukan pada bulan ke 2,5 sampai 4. Sebaiknya, jangan dipanen secara keseluruhan agar proses regenerasi terus berjalan.

Panen bisa mulai dilakukan setelah kita melihat banyaknya kascing (kotoran cacing) dan kokon (kumpulan telur cacing). Sebagian cacing dewasa hendaknya disisakan untuk digunakan menjadi bibit. 

Bagaimana cara memanen cacing? Salah satunya dengan menggunakan petromaks, lampu neon, atau bohlam. Cahaya yang dihasilkan oleh akan lampu mengundang cacing berkumpul di bagian atas media. 

Setelah itu, cacing tinggal diambil dan dipisahkan dari medianya. Cara lain adalah membalikkan kotak pemeliharaan, dan memisahkannya dari media hidup cacing.

Setelah cacing dipanen, sebagian cacing dewasa dan kokon (telur cacing) masing-masing dimasukkan ke dalam media hidup yang baru secara terpisah. 

Telur-telur cacing tanah ini akan segera menetas dalam tempo 14-21 hari. Setelah itu, pemeliharaan dilakukan seperti awal budidaya.

Bagaimana? Apa anda sudah merasa mantap untuk memulai budidaya cacing tanah ini?

Author:

Ananda Bayu Pangestu