Memahami Hukum Sewa-Menyewa Rumah sesuai KUH Perdata

28 Sep 2020 - Yuhan Al Khairi

Memahami Hukum Sewa-Menyewa Rumah sesuai KUH Perdata

Tahukah kamu, bahwa hukum sewa-menyewa rumah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata? 

Meski sering dilakukan, nyatanya tidak semua orang mengetahui tentang peraturan sewa-menyewa.

Bahkan, banyak sekali masyarakat yang masih melakukan kegiatan tersebut tanpa disertai surat perjanjian atau di bawah tangan. 

Padahal, hal ini sangat beresiko, baik bagi pemberi ataupun penerima sewa.

Memahami hukum sewa-menyewa rumah atau barang lainnya memang sangat penting. 

Dengan begitu, kita bisa mengetahui apa-apa saja yang menjadi hak dan kewajiban antara kedua belah pihak.

Lantas, bagaimana sih sebenarnya hukum sewa-menyewa rumah dilakukan? 

Apa saja hak dan kewajiban kita sebagai pemberi atau penerima sewa? 

Untuk mengetahuinya, simak ulasan lengkap berikut ini.

Hukum Sewa-Menyewa Rumah dalam KUH Perdata

hukum sewa-menyewa rumah

Untuk memahami hukum sewa-menyewa rumah, maka kita harus mengerti arti dari sewa-menyewa. 

Pada Pasal 1867 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) dijelaskan, sewa-menyewa adalah:

“…suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari sesuatu barang, selama suatu waktu tertentu dengan pembayaran sesuatu harga, yang oleh pihak tersebut belakangan itu disanggupi pembayarannya.”

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat mengetahui bahwa sewa-menyewa rumah merupakan kegiatan transaksional dengan biaya dan jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan pemberi dan penerima sewa.

Selain peraturan di atas, hukum sewa-menyewa rumah juga dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 44/1994, yang memberikan jaminan perlindungan hukum bagi pemilik ataupun penyewa rumah.

Dalam peraturan tersebut juga disebutkan, bahwa perjanjian sewa-menyewa baru sah dilakukan jika ada persetujuan atau ijin pemilik hunian. 

Perjanjian tersebut bisa dalam bentuk tertulis ataupun tidak.

Menyambung hal tersebut, dari sinilah pentingnya surat perjanjian sewa rumah bisa terlihat. 

Meski sebuah perjanjian dapat dilakukan secara lisan, tapi kekuatan hukumnya beda dengan perjanjian di atas kertas.

Bukti tertulis yang dibuat dihadapan notaris dianggap sebagai bukti otentik, sehingga lebih kuat di mata hukum. 

Baca juga:

Berapa Biaya Notaris Jual Beli Rumah? Inilah Penjelasannya

Sedang, perjanjian di bawah tangan dianggap lebih lemah dan sulit dibuktikan kebenarannya.

Oleh sebab itu, membuat surat perjanjian sewa rumah sangat penting dilakukan. 

Agar sesuai dengan hukum sewa-menyewa rumah, berikut tiga klausul yang harus tertera pada surat perjanjian.

Inilah 3 Klausul dalam Surat Perjanjian Sewa Rumah

hukum sewa-menyewa rumah

  • Klausul Hak dan Kewajiban

Seperti namanya, klausul hak dan kewajiban dalam hukum sewa-menyewa rumah mengatur poin-poin hak dan kewajiban antara pemberi dan penerima sewa rumah.

Ada dua hak yang bisa kamu nikmati jika bertindak sebagai pemberi sewa, yakni menerima uang sewa sesuai tenor yang ditetapkan serta menerima pengembalian rumah dalam kondisi baik sesuai perjanjian.

Sedangkan penyewa rumah, kamu berhak menempati serta menggunakan rumah tersebut sesuai dengan fungsinya. 

Selain itu, cantumkan pula kewajiban dari masing-masing pihak sesuai kesepakatan bersama.

  • Klausul Jangka Waktu Sewa

Jangka waktu sewa sangat penting tercantum pada surat perjanjian sewa rumah. 

Pasalnya, dengan adanya poin ini kita dapat mengetahui kapan hak dan kewajiban kedua belah pihak akan berakhir.

Perlu diingat, jika perjanjian sewa telah berakhir, penyewa rumah boleh memperpanjang kontrak tersebut selama ada izin dari pemilik rumah. 

Namun, jangan lupa menyertakan surat perjanjian sewa yang baru.

  • Klausul Harga Sewa Rumah

Dalam hukum sewa-menyewa rumah, harga sewa dan mekanisme pembayaran tergantung kesepakatan kedua belah pihak. 

Mencantumkan harga sewa rumah pada surat perjanjian sangat perlu dilakukan.

Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya kenaikan harga secara sepihak di tengah masa sewa. 

Begitu pula dengan penyewa, kamu tidak berhak menarik uangmu kembali kecuali ada kesepakatan di antara dua pihak.

Baca juga:

3 Tips Kontrak Rumah (Lengkap dengan Contoh Tarif Sewa)

Sudah cukup jelas kan, apa-apa saja klausul yang harus dimasukkan pada surat perjanjian sewa rumah? 

Ketahui juga contoh surat perjanjian sewa rumah sesuai hukum sewa-menyewa rumah di bawah ini, yuk!

Contoh Surat Perjanjian Sewa Rumah sesuai Hukum

Kekuatan surat perjanjian tidak cuma dilihat dari tanda tangan dan materai saja. 

Surat perjanjian haruslah dibuat dihadapan saksi berwenang (seperti notaris) dan memperlihatkan segala klausul yang dibutuhkan.

Supaya tidak salah membuat surat perjanjian sewa rumah, berikut contoh surat yang bisa kamu ikuti:

Demikian hukum sewa-menyewa rumah beserta contoh surat perjanjiannya yang bisa dijadikan referensi. 

Semoga ulasan di atas bisa membantumu memahami peraturan sewa-menyewa rumah, ya.

Selamat mencoba!

Baca juga:

Enggak Boleh Asal! Ini 9 Tips Memilih Rumah Kontrakan yang Benar

Author:

Yuhan Al Khairi