5 Manfaat Penerapan Konsep Arsitektur Hijau bagi Lingkungan

5 Manfaat Penerapan Konsep Arsitektur Hijau bagi Lingkungan

- Septian Nugraha
5 Manfaat Penerapan Konsep Arsitektur Hijau bagi Lingkungan

Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan semakin tinggi, terutama seiring meningkatnya efek domino dari perubahan iklim dan pemanasan global. 

 

Kedua hal tersebut tak dimungkiri menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup manusia dan seluruh makhluk hidup di Bumi.

 

Terkait upaya menyelamatkan Bumi dari kerusakan lingkungan yang lebih parah, konsep arsitektur hijau (green architecture) barangkali menjadi salah satu solusinya. 

 

Ini merupakan konsep desain bangunan yang mengacu pada unsur ekologis dan konservasi lingkungan.

 

Fokus pengembangan green design building dilakukan sebagai upaya mencari solusi atas ancaman perubahan iklim yang sangat besar. 

 

Orientasi dalam penerapan model arsitektur tersebut adalah, membuat bangunan yang hemat energi dan ramah lingkungan.

 

Dewasa ini, tren penerapan green architecture mulai masif diterapkan. 

 

Tidak hanya pada bangungan pencakar langit, namun juga hunian bagi khalayak umum. 

 

Banyak developer perumahan menjadikan konsep green living sebagai jualan utama dalam proyek yang tengah dikembangkannya. 

 

Menjadi sinyal positif tentunya dalam upaya menekan dampak kerusakan lingkungan. 

 

Lantas, apa saja dampak positif dari penerapan arsitektur terhadap lingkungan? Simak ulasan lengkapnya di sini, ya!

 

Manfaat Arsitektur Hijau pada Lingkungan

Hemat dalam Penggunaan Energi

Hemat dalam Penggunaan Energi

 

Efisiensi penggunaan energi menjadi aspek krusial dalam penerapan konsep arsitektur hijau. 

 

Bangunan dengan konsep arsitektur ekologis berpotensi menghemat penggunaan energi listrik hingga 42 persen. 

 

Pemaksimalan sumber daya alam diterapkan untuk menciptakan kenyamanan termal di dalam ruangan. 

 

Bangunan dengan arsitektur hijau identik dengan penerapan cross ventilation. Tujuannya untuk menghasilkan udara bersih dan sejuk di dalam ruangan. 

 

Sehingga penggunaan AC atau pendingin ruangan bisa dikurangi secara masif. 

 

Optimalisasi pemanfaatan energi matahari juga diterapkan untuk memaksimalkan masuknya cahaya ke dalam ruangan. 

 

Penggunaan cat berwarna terang pada tembok bangunan pun lazim diterapkan, agar penggunaan lampu pada siang hari bisa diminimalisir.  

Menekan Emisi Karbon 

Menekan Emisi Karbon 

 

Gedung dan bangunan menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar. Konon persentasenya mencapai 40 persen.

 

Penerapan konsep arsitektur hijau pada bangunan dianggap sebagai solusi untuk mengurangi emisi karbon dari sektor infrastruktur.

 

Prinsip yang dikedepankan dalam green architecture adalah pengurangan sumber daya. Meliputi lahan, material, air, sumber daya alam dan sumber daya manusia.

 

Tak ayal pembangunan gedung hijau juga menjadi perhatian pemerintah Indonesia dalam mengurangi emisi karbon.

 

Hal tersebut tertuang dalam: PP Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung yang dilengkapi dengan Peraturan Menteri PUPR Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penilaian Kinerja Bangunan Gedung Hijau.

Baca juga:

8 Elemen Kota Hijau yang Harus Diperhatikan untuk Keberlangsungan Lingkungan

 

Efektif dalam Mengurangi Produksi Limbah

Efektif dalam Mengurangi Produksi Limbah

 

Efisiensi menjadi prinsip dasar dalam arsitektur hijau. Konsep reduce, refuse, recycle, dan recharge muskil luput dalam teknis penerapannya.  

 

Hal ini amat efektif dalam mengurangi limbah rumah tangga, khususnya air. 

 

Saat ini konsep ramah lingkungan telah merambah pada sektor sanitasi. Hal yang juga diterapkan pada konsep arsitektur hijau.

 

Banyak arsitek mulai mengembangkan sistem pengolahan air limbah bersih, yang bersumber dari air buangan sehari-hari. 

 

Air limbah tersebut dapat digunakan kembali untuk keperluan sekunder seperti mencuci kendaraan, membilas kloset, hingga menyiram taman.

 

Dilansir dari berbagai sumber, limbah air yang dihasilkan bangunan arsitektur hijau, jumlahnya 34 persen lebih sedikit dibandingkan dengan rumah standar dengan ukuran sama. 

 

Konsep daur ulang dalam konsep arsitek hijau juga mumpuni dalam meminimalisir penggunaan material baru. 

 

Material yang ada bisa didaur ulang untuk membuat konsep arsitektur lainnya.

 

Pengefektifan Lahan

Pengefektifan Lahan

Dalam proses pembangunannya, struktur bangunan arsitektur hijau dibuat dengan menyesuaikan kondisi lahan yang ada. 

 

Interaksi bangunan dan tapak menjadi perhatian utama. Agar tidak merusak lingkungan dan vegetasi alami sekitar. 

 

Konstruksi dan material yang digunakan pun harus ramah lingkungan, agar tak menimbulkan kerusakan.  

 

Investasi Kesehatan

Investasi Kesehatan

 

Manfaat lain dari penerapan konsep arsitektur hijau pada bangunan adalah investasi kesehatan.   

 

Muara investasi tentu tak harus selalu berbicara soal uang, kesehatan juga menjadi investasi yang berharga.

 

Tujuan dari penerapan arsitektur hijau adalah menyelamatkan lingkungan,  tentunya akan berdampak pada gaya hidup yang lebih baik.

 

Melalui penerapan arsitektur hijau pada hunian, kamu bisa menikmati udara segar tanpa harus menyalakan pendingin ruangan. 

 

Hal yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

 

Suasana rumah pun jadi asri karena luasnya ruang terbuka hijau yang dihiasi tanaman serta pepohonan di sekitar tempat tinggal kamu.

 

Setelah mengetahui banyaknya manfaat konsep arsitektur hijau bagi lingkungan, apakah kamu tertarik mengaplikasikan konsep tersebut pada hunianmu? 

 

Sekecil apapun kontribusi yang dilakukan dalam pelestarian lingkungan akan berdampak pada perubahan iklim yang lebih baik di masa depan.

 

Bagi kamu yang sedang mencari rumah dengan konsep green living, Burgundy Residence dari Summarecon Bekasi bisa menjadi pilihan rekomendasi untukmu.

 

Semoga bermanfaat!

 

Baca juga:

Alasan Ruang Terbuka Hijau adalah Area Multifungsi yang Wajib Ada

 

Author

Septian Nugraha